Semoga kembali bersemangat (menulis)

29/09/16

Dalam beberapa bulan terakhir, siklus dalam hidup mulai kembali beranjak seperti sedia kala. Liburan telah purna, liburan telah usai, meninggalkan berjuta kenangan dan momen yang barangkali hanya akan menjadi kenangan di kemudian hari.

Siklus berubah, maka diri kita pun juga harus banyak berubah. Dari liburan yang banyak santai, online menjadi hal yang biasa, menuju kehidupan riwuh dan ruwet yang banyak menuntut dan dituntut. Hingga akhirnya berbagai kesibukan dan kerumitan ini pun membuat kita memiliki banyak masalah, sehingga acapkali tulisan menjadi wadah yang melegakan, meski mungkin belum menyelesaikan.

Betapa saat liburan dulu, ada begitu banyak target dicanangkan. Mulai dari membaca beberapa judul buku, menulis, hingga banyak berinteraksi dengan Al Quran. Tetapi ternyata setan jauh lebih lihay. Kita dilenakan, kita dibuat lupa. Hingga akhirnya liburan purna, dan kesibukan menjadi teman akrab kita (lagi).

Maka, di tengah kesibukan ini, mari kita berbagi cerita. Barangkali bukan kesombongan, bukan pujian, atau keluhan tujuan yang ada dalam setiap huruf yang kita tuliskan. Semoga setiap kisah kita mampu menjadi pengingat dan penyemangat. Karena kita menulis bukan karena kita bisa, tapi agar bisa diajari dan dibenarkan pemahaman kita oleh mereka yang sudah bisa.

Masjid Rahmi FK UNS, 29 September 2016
Udah punya dedek baru :”)

Onta atau Unta?

25/07/16

Onta atau unta? Seringkali dalam mengucapkan sebuah kata ada kebingungan menentukan ejaan yang tepat untuk kata tersebut. Seperti kata unta, atau onta. Kita bingung mana yang benar, antara huruf o atau a. Pun apabila kita telisik di line, saat menulis kata onta atau unta kedua-duanya sama-sama disarankan gambar unta, atau onta.

Dan, kamus besar bahasa Indonesia bertitah bahwa kata yang baku ialah kata unta. Maka, andaikan kita tak teliti, dalam membuat naskah atau karya tulis bisa jadi sebuah cacat yang menjadi nilai minus. Iya hanya satu huruf kita kebingungan karena memang kedua kata yang ada terasa familiar.

Dan ternyata, kebiasaan ‘salah’ itu ndak hanya terdapat dalam bahasa ibu pertiwi saja. Seperti bahasa yang kita lafalkan tiap hari, yang pengucapannya menjadi kewajiban bagi kita, yakni bahasa Arab.

Betapa dalam mengucapkan bahasa yang dipilih Allah ini kita masih jauh dari pelafalan yang benar. Dan banyak dari kita merasa bahwa bacaan kita bagus, udah sesuai sama yang diajarkan dulu pas TPA, padahal ternyata jauh berbeda. Pun terkadang ada yang bahkan tidak merasa salah dalam melafalkan bahasa ini dan merasa tenang dan santai saja.

Bukan seperti onta atau unta yang masih sekufu, bahkan al hamdu dan al khamdu memiliki dua makna yang jauh berbeda dalam bahasa Arab ini. Maka andaikan kita mau belajar dan menyadari betapa banyak makna yang sudah terbiaskan dari asalnya.

Iya, Allah tidak akan menghukum hambaNya yang tidak tahu. Tapi apa iya selamanya kita mau jadi mahluk yang miskin ilmu?

Yuk belajar tajwid, belajar tahsin, belajar bagaimana cara melafal bahasa yang dipilih oleh Rabbul Alamin.

Aaa iii uuu baa’

Klaten, 250716

Naik-naik ke puncak gunung

19/07/16

“Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara a a a”

Lagu masa kecil tersebut seolah mendoktrin kita untuk berbahagia melihat hijaunya Alam semesta. Apalagi di gunung, dengan kesejukannya, berdendang akan semakin mengasyikkan dalam menikmati pemandangan.

Mungkin untuk mendidik generasi, perlu kita sedikit ganti liriknya.
“Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali
Ku bersyukur nikmat Ilahi banyak-banyak sekali i i..”

Hehe
Kosbin Al Fatih 190716

M

18/07/16

Marasmus adalah salah satu penyakit yang saya pelajari pada awal masa belajar di fakultas kedokteran ini. Marasmus timbul karena malnutrisi atau kekurangan gizi pada seorang balita.

Biasanya penyakit ini ditandai dengan tubuh anak atau balita mirip orang tua, tubuh sangat kurus sehingga terlihat tulang hanya terbungkus oleh kulit, kulit keriput, perut berbentuk cekung dan kecenderungan anak yang mengalami kondisi ini adalah rewel dan mudah menangis.

Adapun apabila lebih spesifik pada kekurangan protein, maka akan timbul penyakit kwarshiokor. Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan atau juga disebut edema pada seluruh tubuh, rambut tipis dan warnanya seperti rambut jagung sehingga mudah rontok dan mudah sekali dicabut, Ukuran otot mengecil dan sama juga terjadi perubahan mental menjadi rewel dan apati.

Dan kedua penyakit ini, masih saja menjadi masalah yang cukup serius di negara berkembang. Terutama di afrika dan mungkin juga di Indonesia. Ah, betapa kurang bersyukurnya kita diberi nikmat kesehatan dan cukup gizi.

Sungguh, kekurangan gizi saja sudah menimbulkan suatu permasalahan yang cukup serius. Maka, bagaimana apabila yang kekurangan ternyata bukan sekedar gizi? Tetapi juga harta, bahkan akhlaq diri?

Adalah sore ini, rumah saya kedatangan tamu seorang wanita paruh baya. Awalnya saya belum tahu siapa beliau, hingga akhirnya beliau menangis sambil menceritakan kisah hidupnya.

‘Hartanya bisa dipakai buat 7 turunan’, mungkin semua orang akan menganggap kekayaan beliau seperti itu. Ya, kekayaan beliau sebegitu banyaknya, sehingga semua orang tidak menyangka akan seperti ini nasib beliau kemudian.

Adalah saat itu beliau tidak mempunyai anak, kemudian mengambil keponakan beliau sebagai anak angkat. Anak itu diurus hingga dewasa dan purna sekolah bahkan sampai menyempurnakan separuh agama. Ternyata di masa 'pengangkatan’ itu, beliau memiliki anak.

Dan masalah bermula ketika anak angkat beliau menuntut hak untuk mendapat hak seperti yang didapatkan oleh anak kandung beliau. Beliau tidak mengiyakan. Akhirnya, suami anak angkat beliau yang juga seorang notaris membuat sebuah skenario hingga akhirnya semua kekayaan beliau disita dan tak mampu digunakan lagi sampai akhirnya jatuh miskin seperti ini.

Dan hari ini, saya mendengar tangisan beliau langsung, ingin meminjam uang hanya untuk biaya sewa rumah beliau. Ya Allah.

Maka bayangkan bagaimana seandainya bangsa ini miskin akhlaq. Apalagi keburukan yang akan tercipta?
Klaten, 180716

L

“Laki-laki seperti apa yang sebenarnya kau inginkan nduk?”

“Yang biasa saja pak. Bukan sarjana, bukan tentara, bukan saudagar kaya, yang penting mau menjaga kalamNya seumur hidupnya” jawab Aisyah, saat ditanya mengapa ia menolak lamaran yang entah sudah ke berapa.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS