Jadi penghafal Quran itu mulia, itu salah satu nasehat yang sering ditaujihkan guru-guru kami semasa putih abu-abu dulu. Tapi ketika sudah keluar pesantren, urusannya bukan hanya berhenti pada seberapa banyak yang sudah kamu hafal.
Pas awal kuliah, lihat teman-teman pada satset mengikuti pelajaran, bisa hafal 9 regio abdomen dengan lancar, dulu cuma bisa hah heh hoh. Apaan itu dekster sinister, apakah musuhnya Spiderman sinister six?
Akhirnya jadi sadar, ada banyak hal yang harus dikejar, dan sekedar hafal Quran, 30 juz pun belum cukup buat berhadapan dengan dunia. karena kalau pas ujian anatomi, ga ada pertanyaan "apa ayat paling panjang di Al Quran". Ga ada pertanyaan "apa hukum nun mati ketemu ba'". Yang ada adalah pertanyaan, "apa vena yang paling sering diambil buat ambil darah di lab?", "apa bagian usus yang terletak di regio lumbal sinistra", dan pertanyaan lain yang lebih rumit
Proses itu bikin sadar, bahwa memasyarakatkan Qur'an bukan sekedar mau tilawah di kelas keras-keras, atau rajin ngimami tiap sore di masjid kampus.
Yang dilihat di luar adalah bagaimana pengejawantahan Qur'an itu dalam perilaku kita. Apakah kita sudah berusaha maksimal sebagaimana pesannya Nabi Yaqub pada putranya? Apakah kita sudah jadi pribadi yang kalau bekerja etos kerjanya maksimal? Apakah kita sudah menjauhi perilaku terlarang di Quran seperti mendzalimi orang sekitar kita? Atau selama ini Qurannya cuma buat kebanggaan semata, "wah aku udah pernah hafal loh"
Menjadikan Qur'an itu membumi, salah satu yang akhirnya disadari adalah, bagaimana akhlaq kita ya sesuai dengan yang sudah kita hafal. Kalau pas belajar ya serius, kalau pas bersosialisasi ya ringan tangan, kalau dalam berperilaku ya berintegritas.
Alhamdulillah saat kuliah dulu, punya teman-teman yang membantu dan mengingatkan buat bisa jadi pribadi yang baik. -dan sampai sekarang pun masih berusaha ke arah sana-. Sampai sekarang pun masih menginsafi, bahwa yang paling penting bukan seberapa banyak hafalan, tapi bagaimana yang dihafal bisa kita ejawantahkan, dalam tutur, dalam etos, dalam perilaku.
Meski demikian, kadang juga saking fokusnya berintegritas dalam perilaku, sampai lupa juga amanah yang lama. Beralasan sibuk lupa ngaji, beralasan banyak tugas lupa murojaah, dan pelbagai alasan pembenaran lainnya.
Maka jadi banyak bermuhasabah, iya Qur'an ga cukup hanya dibaca dan dihafal, tapi jangan sampai juga saking "sibuknya" kita untuk membumikannya, kita jadi lupa untuk membaca dan mengulangnya.
Wallahul musta'an