Kumpulan Video Cinta Belajar

06/09/20

 1. Anestesi Jantung Huda Pikapi 25 Juli 2020


2. Bedah Ginekologi Karla Naim 1 Agustus 2020


3. Psikiatri Kulit Arif Jibril 8 Agustus 2020


4. Mata Marwa 15 Agustus 2020


5. Radiologi Anak Mumus Linda 22 Agustus 2020


6. Forensik Bioetika Talika 29 Agustus 2020


7. Anestesi Mentari 5 September 2020

8. Bedah Kulit Aufa Izza 12 September 2020



Kalimat Itu

22/03/19

“Jual jasa motivasi untuk adik-adik yang belum keterima PTN lewat jalur SNMPTN”

Salah satu stories yang cukup menggelitik hasil karya adik tingkat saya yang paling unik di antara sekian banyak stories tentang pengumuman SNMPTN hari ini. Memang adik tingkat yang satu ini beda di antara banyak spesies yang lainnya.
Meskipun peran motivator dan kata-kata positif sering menjadi hujatan bagi beberapa orang dewasa ini -karena dianggap terlalu normatif-, tapi menurut saya kalimat bernuansa positif tetaplah memiliki makna di era ini. Apalagi ketika kalimat itu diucapkan tulus untuk seseorang secara langsung, dimana terkadang ia dianggap sederhana oleh orang yang mengucapkannya tapi dampaknya begitu luar biasa bagi kita yang menerimanya.
“Idemu bagus dek, tapi kita tetap perlu melihat kondisi lingkungan kita. Tetap pertahankan ya idealismemu, aku yakin suatu saat kamu pasti bakalan jadi orang besar”
Mendapat kalimat seperti itu dalam buku harian ospeknya, seorang mahasiswa baru merasa diperlakukan sebagaimana selayaknya manusia. Ah, masak iya sih suatu saat nanti bisa jadi kayak mas mbak yang jadi panitia dan pengisi acara itu? Tapi kalimat sederhana, “aku yakin suatu saat kamu pasti bakalan jadi orang besar” itu menjadi salah satu memori yang membekas bagi mahasiswa itu. Merasa diperlakukan begitu istimewa, merasa idenya terasa bukan ide biasa, merasa dianggap bahwa ia mampu. Dan kalimat itu menjadi salah satu pelecut, yang terus terngiang sampai ia menyelesaikan studinya.
“Gapapa kok dek, karena adanya orang kayak kamu, kami yang biasa aja ini bisa dekat dan tak merasa sungkan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang hafal Al Quran”
Kalimat itu keluar dari seorang kakak tingkat di saat diri merasa di titik nadir. Merasa saat itu gagal untuk menjadi seorang role model dan teladan dalam kebaikan. Merasa gagal untuk menjaga diri. Tapi kemudian kata-kata sederhana itu menjadi salah satu motivasi untuk menjadi seseorang yang rendah hati dan membumi. Ndak semua harus jadi yang di depan memberi teladan, harus ada juga yang di sekitar berbaur, merangkul, dan menyadarkan bahwa berbuat baik bukan hanya hal yang bisa dilakukan oleh penduduk langit.
Kamu itu keren kok dek, dengan caramu sendiri
Begitulah, ada begitu banyak kalimat sederhana yang mungkin saat itu keluar hanya sebagai penenang. Tapi ternyata penenang itu berdampak begitu banyak. Sampai akhirnya menjadi penawar di kala pahit, pelecut di kala lemah, dan pengingat di kala mulai teledor.
Maka, mari belajar untuk terus mengeluarkan apa yang terbaik yang bisa kita ucapkan. Biarlah yang lain sambat dan menghujat, mari kita belajar untuk menjaga agar hanya yang terbaik yang keluar dari bibir kita. Karena kita tidak pernah tahu, kalimat mana yang mungkin menyakiti hati mereka, dan kita juga tidak pernah tahu, kalimat mana yang mungkin jadi pelecut dan melekat erat dan terus memotivasi mereka untuk menjadi pribadi yang baik.
Kamu, pernah mendapat kalimat itu?

6 Tahun ini

20/11/18

"Ini Hud, sekolahnya keren. Anaknya pinter-pinter, sholeh-sholeh, hafal Al Quran juga"

Kalimat itu jadi terngiang semasa masih SD. Ketika dalam perjalanan ke rumah mbah di Tawangmangu, dan melewati bangunan dengan 2 menara tersebut selalu diiming-imingi Abi nasehat itu. Jadilah, seorang anak kecil yang namanya lahirnya beda dengan nama semasa SMA itu bermimpi," besok aku harus sekolah disini".

Berjalanlah waktu, semua mimpi yang dulu awalnya pengen seperti anak Klaten zaman itu, jadi gak menarik lagi. Meskipun dalam perjalanannya kemudian kadang penyesalan itu muncul, tapi tetap menjadi santri adalah sebuah hal yang harus ia jalani. Masa awal nyantri ternyata gak sesederhana itu, masih inget ketika kelas satu MTs kemudian ia merasa minder karena teman-temannya sudah pada punya hafalan semua. Sementara ia, aih udah bisa hafal surat Al Humazah dan ayat kursi pas dulu pelajaran agama aja bahagia banget. Ini teman-temannya malah bisa melafalkan al fajr dengan lancar, iya al fajr, slaah satu surat yang dulu di jum amma itu dicetak berhalaman-halaman.

Waktu berlalu, ternyata menghafal Al Quran menjadi sebuah hal yang menyenangkan, meskipun awalnya sempat frustasi karena menghafal Al Fajr aja butuh sampai 2 bulan lamanya, tapi seiring berjalannya waktu semua terasa lebih mudah. Belum lagi kalau diiming-imingi, "eh itu ustadznya keren banget, udah hafal surat AlBaqoroh", jadilah tambah semnagt dan semangat lagi. Syukron juga ustadz Alim yang dulu mau menyimak hafalan bocah kecil imut yang sering dibully gara-gara ngantukan pas belajar malem itu.

Allah kemudian ternyata mempermudah jalannya. Di tahun kedua, ia dipertemukan dengan seorang ustadz yang hafal Al Quran. Di subuh itu, tetiba sang ustadz memanggilnya, "dek, sini coba saya simak bacaannya, udah hafal berapa juz?". Dan kemudian, interaksi pertama yang menyeramkan itu berlanjut ke interaksi berikutnya. Yang awalnya si anak selalu dimarahin dengan lembut, "dek, bacaannya jangan lewat hidung semua dong", lalu malah bisa makan mi ayam bareng, setoran bareng, bahkan dikenalkan dengan konsep juziyah. Pertemuan itulah yang kemudian semakin menambah semangat si anak, berjuz-juz kemudian coba dihafalkan, yang awalnya target dari kpondok cuma 1 juz per tahun, dengan seizinNya, total 6 juz sudah ia selesaikan selama pendidikan 3 tahun itu. Syukron ustadz Wahyudi

Sepurna MTs, mimpi masa kecilnya muncul lagi. Harus bisa jadi penghafal Quran, pokoknya harus. Mimpi buat masuk pondok di pinggir jalan Solo-Tawangmangu itu terus bertumbuh. Tapi kadang juga merasa minder, kalau nanti gak diterima gimana ya. Kalau nanti gak kuat gimana ya, dan segala waswas lainnya. Tapi ternyata di perjalanan Allah juga yang memudahkan. Berbekal "udah pernah" hafal dan modal pinter gombalin ustadz yang ternyata udah jadi bakat sejak kecil, anak imut itu akhirnya diterima di sekolah impiannya, Isy Karima.

Tapi ternyata, kehidupan hafal-menghafal ndak semudah itu juga. Lagi-lagi minder itu menghampiri ketika tahu banyak kemudian di antara kawan-kawannya yang sudah memiliki modal hafalan belasan juz. Ah gak boleh kalah pokoknya, jadilah halaqoh yang dimpimpin oleh ustadz Faiz Baraja itu menjadi ajang perlombaan yang menyejukkan. Ketika semua berlomba-lomba menyetorkan hafalan, berlomba untuk terus istiqomah setoran seperempat juz per hari dan cepet-cepet juziyah, meskipun berbulan-bulan kemudian satu per satu mulai berjalan pelan-pelan. Tapi semuanya terus istiqomah, dan anak kecil itu masih aja penasaran, kok bisa ya mereka bisa secepet itu.

Waktu demi waktu berlalu, hingga tahu tentang hal-hal baru di pondok semacam menjadi pengajar TPA. "Katanya kalau mau jadi pengajar harus udah selesai 20 juz dulu, kalau enggak pilihan dari ustadz cuma dua, tetep taklim, tapi tak lempar". Obrolan itu pun menjadi sebuah pelecut tersendiri, "pokoknya aku harus cepet selesai, biar nanti cepet bisa ngajar TPA", dan Allahlah yang kemudian memudahkan segalanya.

Terlihat sederhana dan cepat memang, tapi ternyata kalau dikenang perjalanan anak itu tak semudah pas udah jadi nostalgia juga. Ada kalanya waktu pertama kali ditolak hafalan atau juziyah pengen nangis, ada masa dimana merasa kok gak hafal-hafal sih, dan juga ada saat di mana kadang ingin sejenak aja berhenti beristirahat, karena semua bebannya begitu terasa membuat penat. Tapi Allah memanglah yang memudahkan, segala kesusahan itu pun akhirnya terlewati dan menjadi sebuah hal yang menjadi sesuatu yang indah dikenang di masa kini. Tersebutlah pagi itu, di hari selasa 20.11.2012, sang anak menuntaskan setorannya. Dan bulir-bulir air matapun menetes membasahi pipinya.

jazakallah khoir ustadz Faiz Baraja, ustadz Khoril Azka, dan semua asatidzah lainnya.

===
Tanggal 20 November selalu menjadi hal yang menarik dan memorable bagi saya. Bukan tentang milad hafalan ataupun terminologi lainnya, tapi hari ini menjadi sebuah titik dimana titipan yang agung itu Allah berkenan untuk berikan. Dan setelahnya, saya mencatat betapa banyak kemudian kemudahan-kemudahan yang Allah berikan. Baik secara administratif, maupun secara psikologis dan kondisi ruh sendiri. Masih inget kemudian setiap taklim, ketika teman-teman yang lain harus sembunyi-sembunyi, saya bisa dengan leluasa lewat jalur depan, kemudian Allah juga berkenan bisa ikut beberapa dauroh yang dikhususkan buat yang sudah khatam duluan, dan segala kemanfaatan lainnya.

Masa-masa setelah khatam juga menjadi masa yang indah, perjuangan buat menyelesaikan ujian tahfizh, lalu kemudian Allah perkenankan bisa setoran 30 juz dalam dua hari meskipun saat itu kondisi udah demam dan somnolen, momen dimana kemudian diberi kemudahan buat ikut les di luar, hingga sempet terjatuh semasa gagal seleksi SNMPTN lewat prestasi hafal Al Quran. Tapi kemudian Allah pertemukan dengan kebaikan lainnya, bertemu dengan kawan-kawan keluarga huffazh yang luar biasa, bisa bertemu dengan kawan-kawan di Ilmu Quran yang tak kalah istimewa, hingga segala keajaiban lainnya.

Sempat juga dulu ngedown, semasa ikut di himpunan dan merasa gaulnya kebablasan. Lalu kemudian ada seorang mbak yang menguatkan dan bilang, "gapapa kok Hud jadi hafizh yang membumi, kalau gak gitu mungkin orang-orang kayak kita jadi merasa enggan dan malas buat bertanya ke orang-orang kayak kalian. Makasih udah jadi orang yang beda, yang mau mendekatkan Al QUran ke kita ya". Dan saat itu cuma bisa mbrebes aja :")

Dan di 6 tahun ini sebenarnya kadang-kadang rasa takut itu menghampiri. Apalagi tiap balik ke pondok selalu aja merasa, duh kok udah gak layak lagi ya dianggap santri. Apa ustad-ustadz gak malu punya lulusan kayak gini :" Tapi bagaimanapun semua mungkin berproses, dan kata uncle ben with great power comes great responsibility. Selalu ada tanggung jawab besar di balik titipan dan anugerah yang besar. Maka saya mohon bantuan dari kalian, semoga kemudian kita diberi kekuatan untuk terus dikuatkan dan diberi keistiqomahan membawa amanah ini. Yuk merawat amanah ini bersama :"

Dan pada akhirnya, kita harus menginsafi bahwa jadi penghafal Al Quran bukan hal yang mustahil kok. Dan dalam diri kita selayakannya bemimpi untuk mewujudkan cita-cita Qurani. Kalau kata ustadz Syihab dulu.
"Jangan pernah berhenti mewujudkan cita-cita Qurani. Kalian harus mengajak semua orang untuk jadi penghafal Al Quran. Kalau gak bisa, ya harus bercita-cita punya pasangan penghafal Al Quran. Kalau masih gak bisa, ya harus bermimpi bahwa dari keturunan kalian akan ada anak-anak yang menjadi penghafal Al Quran"

Huda S Drajad
G0015110

psst : tulisan ini semoga bukan bermaksud untuk kesombongan, tapi memang di setiap tanggal 20 November saya selalu mengupayakan untuk menulis tentang hafalan saya, sebagai pengingat bahwa ada amanah berat yang sering terlupa.
Oiya, Isy Karima juga udah buka pendaftaran :)

Titik Balik Kita

30/10/18


Selamat, Anda diterima di fakultas kedokteran Universitas X.

Kalimat ini, terlihat sederhana dan tanpa makna atau kata-kata puitis di sana. Font yang dipakai pun biasa saja, tapi ada banyak orang yang bahagaianya tidak ketulungan ketika membaca kalimat ini pada gawai yang dipegangnya. Yap, diterima menjadi mahasiswa kedokteran merupakan mimpi yang didambakan banyak anak, bahkan bukan Cuma anaknya, tapi juga bapak ibunya. Tak terasa, perjuangan yang selama ini dilakukan akhirnya berbuah manis. Calon dokter, menjadi salah satu yang dirasa derajatnya sedikit tinggi dibandingkan kawan-kawan yang diterima di jurusan lain.

Aih, ternyata kemudian apa yang diimpikan berbenturan dengan realita. Perjuangan menjadi seorang dokter ternyata bukanlah jalan yang mudah. Ada banyak ujian yang harus dilewati, dari asistensi pagi hari, pretest dan postest, sampai responsi dan ujian Blok selalu menghantui. Dan kemudian, niat untuk menjadi mahasiswa kedokteran itulah benar-benar akan diuji.

Ada banyak kemudian yang mulai merasa cemas. Dari sekian ujian yang dilewati, ternyata mulai banyak yang gagal lulus atau remidi. Sesuatu yang dianggap baru bagian sebagian besar mahasiswa baru ini, ya selama ini mereka selalu menjadi bintang di kelasnya, dari TK sampai SMA. Ranking satu dua yang biasanya menjadi makanan sehari-hari, kini hanya menjadi impian di tengah siang bolong. Tak jarang yang kemudian merasa terbebani dengan berbagai status merah atau remidi yang disandangnya. Ya mau gimana lagi, dulu biasanya yang teratas, sekarang malah jadi yang terbawah.

Di titik awal seperti inilah kemudian kesungguhan masing-masing mahasiswa itu kembali teruji. Dan ternyata, bukan satu dua saja yang mengalaminya, ada banyak dari mahasiswa kedokteran yang merasakan ketakutan dan tekanan yang sama. Dari seorang juara kelas, lalu harus bersusah payah demi lolos dari remidi. Dari seorang juara olimpiade, lalu harus mengais-ngais nilai demi tidak ujian lagi. Dan ternyata, saya juga pernah termasuk di antara mereka.

Adalah sejak osmaru (orientasi mahasiswa baru) bermula, saya mulai merasakan tekanan ini. Dulu, saya merasakan kegelisahan yang sama. Saat itu kelompok kami melanggar salah satu aturan, dan oleh mas mas komdis kami diberi hukuman untuk menghapalkan 9 regio abdomen. Eh regio, makanan apa itu? Abdomen? Apakah itu makanan khas Jepang? Oke itu ramen, gak lucu btw. Tapi beneran, saya tertekan. Di hari berikutnya ketika harus setoran, terlihat kawan-kawan saya merapalkan kesembilan regio dari hipocondriaca dextra sampai lumbal sinistra dengan lancar. Sementara saya masih saja kagok dan mencerna apa maksud dari semua ini.

Pun mulai masuk course, dari Anatomi, Fisiologi, hingga Histologi. Saya masih takjub dengan kawan-kawan saya yang tiap kuliah selalu menganggukkan kepala. Sementara saya hanya terdiam tak percaya, istilah apakah semua ini. Apa benar saya harus menghafal semuanya. Apa benar saya harus memahami segalanya? Dan puncaknya, ketika sampai fase responsi saya remed 2 dari 3 mata kuliah itu. Pun untuk course fisiologi yang lolos pun, saya sama sekali belum paham apapun kecuali bahwa homeostasis itu adalah sebuah keseimbangan layaknya yin dan yang.

Rasa minder kemudian menyelimuti lagi ketika memasuki blok-blok selanjutnya. Dari blok Biomolekuler sampai blok Immunologi, saya lihat kawan-kawan yang lain dengan mudahnya memahami diagram-diagram itu. Sementara saya, bahkan bisa hafal satu enzym saja sudah bersyukur. Jangankan berharap nilai A, lulus aja sudah menjadi salah satu hal yang membuat saya bahagia.

Dan saya semakin tertekan ketika setiap diskusi teman-teman saya selalu memahami setiap materi yang diberikan. Saya tertekan, meskipun saya masuk UNS bukan dari jalur undangan, tapi tetap saja beban menjaga nama seorang hafizh itu bukan beban yang sederhana. Tapi saya selalu menghibur diri, “gapapa, kan dulu mereka dari sekolah negeri, jadi ya emang mereka udah fokus ke materi seperti itu dari lama. Kan dulu aku banyak belajar huruf arabnya jadi ya gapapalah adaptasi”. Sebuah pembenaran yang sebenarnya tidak sepenuhnya benar, tapi tetap saya gumankan demi menghibur diri agar tidak berlarut dalam kesedihan.

Pun kemudian ketika akhirnya melihat kakak tingkat yang berprestasi dengan segala caranya, di organisasi, menjadi asisten lab, menjadi delegasi olimpiade, saya menjadi semakin minder. Duh, IPK kok Cuma segini, mungkin gak ya bisa sekeren mereka. Duh, saya gak paham banyak hal, bisa gak ya bermanfaat seperti mereka. Saya pun saat itu Cuma mencanangkan dua mimpi yang keliatan muluk, menjadi delegasi IMO musculoskeletal dan asisten anatomi, meskipun sama sekali ndak tahu gimana caranya nantinya.

Adalah kemudian akhirnya Allah yang memudahkan jalannya. Saya dipertemukan dengan Jibril, Mas Taufik, dan kawan-kawan lain yang kemudian membimbing saya untuk banyak belajar. Hingga akhirnya diterima menjadi asisten anatomi menjadi titik balik pertama saya. Saya yang notabene berIP pas-pasan, dipertemukan dengan kawan-kawan hebat yang tak diragukan etos belajar dan kecerdasannnya. Dan saya bersyukur, semangat belajar mereka menular, yang awalnya saya menganggap bahwa belajar itu adalah sebuah hal yang susah, karena tekanan dari kawan-kawan yang pintar akhirnya perlahan saya mulai belajar menikmati semua hal itu.

Pun kemudian titik balik kedua saya ada saat saya terpilih menjadi seorang ketua himpunan. Adalah saya sering memotivasi staff saya untuk belajar, kemudian saya tertohok seandainya etos belajar saya tidak lebih dari mereka. Dari situlah kemudian saya mencoba untuk lebih aktif dalam diskusi tutuorial, lebih serius ketika belajar OSCE, dan lebih berusaha ketika akan menghadapi UB. Dan berbagai hal yang dulu saya anggap sebagai beban, ternyata perlahan berubah menjadi kenikmatan. Dan saya bersyukur, Allah berikan kemudahan untuk berbalik di titik ini.

===
Dalam berbagai kesempatan diskusi dengan beberapa orang, termasuk kakak tingkat dan dosen saya, beliau pernah berpesan bahwa setiap orang memiliki titik baliknya masing-masing. Yang perlu dilakukan sekarang hanyalah berusaha untuk meraih titik balik itu. Karena sejatinya juga, hidup kita adalah benar-benar seperti roda, ada begitu banyak titik balik, dan semudah itu Allah kemudian membolak-balikkan kita, atau menaik turunkan derajat kita. Di sanalah kemudian, keinsafan bahwa diri kita tak ada apa-apa tanpaNya perlu ditanamkan.

Seperti di awal, ada mereka yang juara kelas dari SD-SMA, tapi kemudian Allah berikan ujian yang cukup berat selama menjadi mahasiswa kedokteran. Kemudian dia berusaha survive, Allah mudahkan, hingga akhirnya bisa berprestasi semasa preklinik, lalu Allah pertemukan dengan masa koas yang kata sebagian orang ialah seperti keset. Masa koas terlampaui, lalu tersematlah gelar dokter. Dibanggakan keluarga hingga mungkin warga desa, tapi kemudian ketika mengambil PPDS dijadikan lagi dia di bawah, bahkan bahasa kasarnya di bawah keset.

Begitulah takdir hidup berjalan, ada kalanya kita di atas, tapi tak jarang juga kita di bawah. Maka benalah kemudian ketika dokter Indah kemarin berkata bahwa dokter itu sama sekali tak layak untuk sombong. Karena tadi, semudah itu kemudian Allah akan mengubah derajatnya. Di sanalah kita kemudian belajar akan kesyukuran ketika berada di atas, dan kesabaran ketika berada di bawah.

Maka ketika barangkali tiba masa-masa sulit itu, semoga kita terus dikuatkan. Karena pasti Allah yang akan memberikan titik balik bagi kita. Bisa jadi titik balik itu bukan di masa pre klinik ini, bisa jadi ketika koas, bisa jadi ketika sudah lulus dokter, ketika sudah berkeluarga, memiliki anak, atau saat-saat setelahnya. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan percaya, bahwa akhir yang baik akan diberikan kepada mereka yang percaya janjiNya.

Dan bukankah untuk melihat sunrise dari puncak gunung dengan indah diperlukan pendakian yang tak mudah?

Maha benarlah firmanNya ketika manusia berangankan surga
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (Al Baqoroh: 214)

Semoga aku dan kamu dikuatkan. Kalau kamu lagi bete, cerita aja. Kalau kamu lagi lelah, cerita aja. Kalau kamu lagi butuh bantuan, cerita aja. Kalau cerita kepada manusia belum menyelesaikan masalah, coba cerita dalam sujudmu di atas sajadah

Huda S Drajad
G0015110

ASUS Laptopku, ASUS teman Baikku

07/09/18


Adalah dalam hidup ini kita diberi kesempatan untuk berbagi kebaikan dengan banyak cara. Ada hal-hal besar seperti menjadi seorang pemimpin, menjadi seorang influencer, atau tokoh masyarakat yang dengan mudah mampu memberikan pengaruh-pengaruh kebaikan bagi mereka yang ada di sekitarnya. Tetapi terkadang ada juga kebaikan-kebaikan kecil yang mampu kita berikan pada mereka yang ada di sekitar kita, seperti membantu membuatkan poster penyemangat untuk teman kita, membuat video-video mini untuk meningkatkan kewaspadaan akan suatu hal, atau mungkin menulis untuk berbagi inspirasi bagi sekitar. Dan kebaikan-kebaikan kecil seperti ini, menjadi salah satu solusi bagi kami para mahasiswa yang mungkin tak memiliki banyak harta atau banyak kompetensi untuk bisa dibagikan kepada sesama.

Sebuah kesyukuran juga, selama ini laptop ASUS mampu menjadi teman yang setia dalam mewujudkan kebaikan-kebaikan kecil itu. Satu laptop yang menemani suka dan duka, menjadi saksi bagaimana harus berlembur mengerjakan tugas dosen, membuat makalah, atau sekedar membuat poster sederhana berisi kata-kata penyemangat untuk teman-teman kita. Saya bersyukur, dipertemukan dengan laptop ASUS ini, karena mampu menjadi teman baik untuk terus membagikan kebaikan, dari kebaikan kecil hingga kebaikan besar yang mampu menghadirkan senyum tulus pada orang-orang yang saya cintai.

Ada yang Tidak Kita Ketahui

29/03/18

"Dik, tolong besok ketemu sama saya buat bahas acara minggu depan ya"
"Mas, minta tolong dong besok malam tentiran. Masih bingung nih materinya"
"Gais, minta tolong ya buat bikin laporan tutorial. Besok pagi harus segera selesai nih"
"Buat AAI besok jangan lupa ya tugas buat wawancara ke petugas parkir di warung yang kalian singgahi"

Betapa kali sih kita sering mendapatkan hal-hal seperti itu. Apalagi mungkin ketika berhubungan sama orang lain, seringkali ada hal-hal mendadak atau mungkin ndak mendadak yang mengganggu dan mengusik ketenangan kita.

Seperti saat udah pengen masuk kuliah setelah lama ga pernah masuk, tiba-tiba disuruh ketemu dan rapat sama pimpinan, bahas hal yang sebenarnya juga bukan urusanmu, dan kamu juga gak dapat keuntungan darinya. Ditambah lagi besoknya ujian, kadangkala terbesit dalam hati pengen mengumpat dan bilang, "Jangan seenaknya dong, mentang mentang dosen, mentang-mentang senior, terus suka nyuruh seenak jidat". Tapi akhirnya cuma menjadi bersitan sesaat seraya sadar harus banyak-banyak beristighfar.

Sering juga pas udah mau istirahat setelah mungkin diforsir buat acara sebelumnya, atau ingin belajar buat mempersiapkan esok hari, tiba-tiba malah diminta ngajar. Uh banget gak sih. Kadang pengen berkeluh kesah, "dikira urusanku cuma ngajar kalian, mbok kalian itu juga sadar diri. Aku juga punya urusan yang harus kukerjakan". Tapi lagi-lagi terhenyak terus diiringi banyak-banyak istighfar.

Dan masih ada banyak hal dalam hidup kita yang barangkali padanya kita merasa berat. Terus ketika hal itu sudah terjadi, kadangkala terbesit, kok berat banget sih, bikin males. Yaudah aku pergi aja, wong ya kegiatan ini gak bermanfaat buatku.

Deng terengteng teng..

Mungkin kita lupa pada kisah Nabi Ibrahim pas disuruh ninggalin Hajar dan Ismail di Padang Tandus itu. Atau mungkin kisah Nabi Ibrahim pas setelah sekian lama berpisah dengan mereka, lalu tiba-tiba disuruh buat menyembelih anak laki-laki yang selama ini dirindukannya. Kata siapa hal itu gampang. Berat to ya, kan Nabi juga manusia. Bahkan beratnya itu bukan cuma sekedar malas kayak kita, tapi lebih dari itu, bahkan berat dari hati nurani manusia.

Tapi pada akhirnya perintah itu tetap dilaksanakan, meskipun dengan hati yang berat, meskipun harus dengan mata yang terpejam. Karena perintahnya adalah sebuah keharusan.

Mungkin perintah atau permohonan yang diajukan pada kita tak sewajib yang diperintahkan kepada Nabi Ibrahim. Tapi selayaknya bagi kita untuk belajar dari beliau tentang arti dari keikhlasan yang hakiki itu sendiri. Betapa kadangkala keikhlasan perlu dihadirkan bukan dari jalan yang lapang, tapi juga rasa berat, dada sesak, dan mata yang terpejam.

Karena kalau memang ujian itu mudah, darimana akan terasa kalau itu ujian? Karena ajakan dari atasan, perintah dari kakak asisten, permohonan dari adik-adik, ajakan dari kawan-kawan kita barangkali tak pernah mengusik nurani kita kecuali hanya sekedar kemalasan yang bersemayam. Lalu patutkah kita mengeluh atasnya?

Karena kita mungkin tidak pernah tahu, barangkali dari rapalan doa-doa merekalah hidup kita dimudahkan. Karena kita mungkin tak pernah sadar, barangkali senyum-senyum dan pencapaian mereka bersebab kitalah, yang membuat urusan kita dilancarakan. Karena mungkin kita takkan pernah mengerti, bahwa barangkali orang yang kita anggap merepotkan, adalah mereka yang paling banyak mengucurkan air matanya untuk kita, mengharapkan kebaikan, mengharapkan keberkahan, memohon ampunan dan dosa dari lubuk hati yang terdalam.

Lalu tidaklah kita merasa malu, selalu tergesa untuk berhenti berbuat baik padahal barangkali ada banyak kebaikan yang tak kita ketahui?

Kos Al Fatih, 29.3.2018
Huda S Drajad

Belajar sebelum Berkata

17/01/17

ejak masa kecil, banyak dari anak-anak Indonesia, diajarkan dengan cerita-cerita kancil maupun peribahasa-peribahasa populer. Cerita dan peribahasa tersebut pun, acapkali menjadi sebuah tuntunan dan watak dari bangsa itu sendiri. Salah satu peribahasa yang terkenal ialah air beriak tanda tak dalam, dan air tenang menghanyutkan.

Entah sadar atau tidak, peribahasa yang memiliki makna bahwa seseorang yang lebih banyak diam biasanya memiliki ilmu dan kebijaksanaan, dan mereka yang banyak berkata, biasanya tak memiliki apapun selain omongan saja. Hingga banyak akhirnya generasi muda yang tumbuh dalam kediaman. Ditambah dengan kata-kata mutiara diam itu emas, maka anak-anak Indonesia banyak yang tumbuh menjadi mereka yang lebih suka untuk berdiam. Diam untuk melihat, diam untuk mendengar, diam untuk memahami, dan diam untuk menyampaikan.

Tapi ketika menginjak masa remaja, generasi itu bertemu dengan zaman sudah berubah. Kata-kata diam itu emas pun menjadi sebuah dongeng di masa lampau. Keterbukaan dan kemudahan dalam mengakses dunia, menjadikan generasi sekarang tumbuh dalam keadaan yang serba dimudahkan. Bahkan kebebasan itu kini tak lagi hanya disampaikan dalam bentuk tulisan saja, semua aplikasi yang ada seolah berlomba untuk menyediakan pelayanan terbaik, agar generasi itu memiliki kemudahan untuk menceritakan kehidupan. Setiap saat barangkali akan selalu muncul cerita-cerita baru, di berbagai lini masa, di berbagai media sosial yang ada.

Hingga akhirnya kemudahan ini, yang dibarengi juga dengan kemudahan berekspresi, menjadikan generasi itu menjadi 'penulis' yang bisa menuliskan segalanya dengan sesuka hati mereka. Acapkali banyak opini yang bermunculan, padahal sumber yang diperoleh tak lebih dari sekedar opini juga. Pun pokok bahasan tentang mengkritik orang lain, jauh lebih mengasyikkan dibandingkan bahasan bagaimana mengajak mereka kembali pada kebenaran. Barangkali, keadaan inilah yang diwanti oleh para orang tua terdahulu, agar tak banyak berkata dalam hal yang sia-sia. Atau bukan kesiaan, tapi tak ada kebijaksanaan.

Maka, sebagai orang yang masih mempunyai nurani dan budi pekerti, harusnya kita kembali bertanya, untuk inikah kemudahan itu ada. Untuk menjadi seseorang yang sekedar dikenal atau menjadi mereka yang menyuarakan kebenaran dengan sebenar-benarnya kebenaran. Maka, mari kita kembalikan budaya untuk kembali kepada para guru, dan menjadi kaum yang belajar sebelum berkata.

Pst: Barangkali sang penulis juga masih masuk menjadi golongan itu dengan status biasa.
Sekre HMPD, 17117

Mari Mentraktir

10/01/17

Salah satu keuntungan dari memiliki teman ialah ada mereka yang bisa membantu dan menemani kita. Dan kriteria teman sejati, seperti yang dikatakan oleh seorang sahabat, ialah mereka yang mampu membersamai dikala kita sedang berduka.

Ada begitu banyak duka yang bisa saja hadir dalam hidup kita. Harus mengulang ujian, belajar ndak paham-paham, atau mungkin kehabisan uang jajan di akhir bulan. Saat itulah, kawan-kawan sejati itu hadir, memberikan secercah harapan dan pemakluman bahwa dalam hidup kita tidak pernah sendirian.

Adalah dalam fisika kita juga mengenal hukum kekekalan energi. Di mana hukum tersebut berbunyi bahwa suatu energi tidak dapat dihapuskan, hanya saja ia mengalami perubahan menjadi bentuk energi lain.

Barangkali seperti itulah kebaikan-kebaikan yang kita temui dalam hidup kita ini. Setiap kebaikan yang kita lakukan, akan selalu mengalir ke segala penjuru. Kebaikan itu terus bersemi, terus memberi arti, meski terkadang kita sudah tidak sadar bahwa kebaikan itu bermula karena kebaikan sebelumnya.

Maka, mari kita galakkan gerakan untuk berbagi kebaikan. Salah satu contohnya barangkali dengan berusaha menyisihkan uang jajan kita, dan mengajak makan bersama sahabat-sahabat yang kita punya. Sungguh, tiadalah ajakan kita, dan sedikit uang yang kita keluarkan, menjadi sebab dari perkara kecuali kebaikan. Di mana hubungan kita menjadi erat, tambah erat, dan semakin erat.

Pun bisa jadi nantinya kita juga akan ditraktir olehnya. Sehingga meski dalam hitungan manusia impas karena sama-sama menraktir, tapi dalam gambaran ruhani setiap transaksi traktir menraktir membuahkan cinta di antara kita yang semakin membesar adanya.

Bayangkan juga kalian makan bersama, membayar sendiri-sendiri. Ah, biasa dan tak lebih dari sekedar makan biasa. Tetapi dengan bergantian memberi, cinta dan kasih akan tumbuh dan meninggi laksana mentari di pagi hari.

Maka, tak salah Rasul bersabda, tahaaduu, tahaabbu. Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai. Iya, salinglah memberi, bukan satu pihak saja. Karena yang butuh cinta adalah kita semua.

Pst: Terima kasih buat teman-teman yang sudah mentraktir saya, saya tunggu traktiran selanjutnya :“)
Rahmi, 10 Januari 2017

212

02/12/16

Dalam hidup itu, ada beberapa hal yang mungkin menjadi menakutkan bagi setiap orang. Ada yang takut dengan ketinggian. Ada yang takut dengan OSCE dan ujian ujian. Ada pula yang takut melanggar amanah dan perjanjian yang telah ia pegang.

Dan acapkali, seiring berjalannya waktu ketakutan itu seringkali bisa pudar. Baik memang, karena hidup akan bisa dijalani dengan tanpa hambatan. Tapi mungkin masih ada satu rasa takut yang tak bisa dihilangkan, yakni takut untuk bermaksiat dan lalai dari Sang Maha Penglihat.

Adalah di hari ini, aksi 212 insyaAllah dilaksanakan. Sudah tak terhitung lagi massa yang berbondong bondong menuju ibukota. Berpesawat ria, berbis yang ratusan jumlahnya, hingga berjalan ratusan kilo dengan diiringi takbir dan rintikan air mata orang-orang yang dilewati mereka.

Hari ini, sekali lagi umat Islam bersatu. Persatuan yang tak lagi bisa dibilang semu. Mau dibilang politik, mau dibilang konyol, terserah mereka. Karena setiap langkah perjuangan ini, long march, berpanas-panas, dan berkumpul menjadi satu dan bertumpah ruah untuk bersama kaum Muslimin seIndonesia adalah sebuah kebahagiaan dan kenikmatan yang takkan mampu ditulis dengan kata-kata. Biarlah Allah yang menilai, mana langkah yang diambil untuk dunia, dan mana yang diambil untuk kehidupan setelahnya.

Maka, semoga disini kami yang belum mampu bergabung bukan karena hitamnya hati kami. maka, kami selalu berharap semoga kami yang belum diberi kesempatan untuk berbaris bersama bukan karena kerak dosa sehingga ghiroh kami hilang adanya. Maka kami selalu berdoa semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan berkah di manapun kira berada.

#Support212
Fii Amanillah.

Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku masih sendiri

28/11/16

Zaman dahulu kala, saya masih teringat bagaimana susahnya kami di mahad memahami pelajaran kimia. Entah mungkin hanya beberapa saja dari kami yang masih ingat tentang materi kimia. Bahkan mungkin saya sendiri, yang notabene kuliah ‘ambil dunia’ juga lupa dengan materi-materi yang ada.

Yang jelas, yang masih teringat adalah perkataan dari ustadz kami tentang atom yang tidak seimbang saat sendiri. Entah apa istilahnya saya juga lupa, yang jelas saat udah jadi H20, molekul H dan O akan saling berikatan dengan erat, berbeda dengan molekul H atau O saja. Kalau salah boleh dibenerin.

Yang jelas, ketidakjelasan yang dialami oleh molekul O, seperti yang dirasakan oleh para jomblowan dan jomblowati. Susahnya saat sendiri itu, ketika melihat seseorang yang baik, dia akan selalu melirik. Stalking, dan berbuat sesuatu yang membuat orang baru dikenalnya menjadi tertarik.

Dan siklusnya pun selalu berputar sama, seperti circulus arteriosus willici. Ketemu yang baru tertarik. Lihat yang lama tertarik lagi. Lihat aktivis berkerudung besar tertarik. Lihat akhwat kalem yang bercadar juga tertarik. Muter terus. Terus jauh, terus lupa, dan akhirnya cuma jadi kenangan baginya.

“Yaudahlah bro, daripada sendiri galau mendingan pacaran aja. Kan nanti matanya ndak jelalatan.” Lalu akhirnya dia kecewa. Jauh lebih kecewa dibanding orang pertama.

Dan akhirnya kita menginsyafi, mungkin sendiri adalah caraNya, menyadarkan kita agar tidak terlalu berharap pada manusia.

Rahmi, 28 Nov 2016
Ketika anatomi sudah di luar kepala, barangkali menulis hal gak jelas adalah pengikatnya 😂😂😂

Pibesdey 20 November

20/11/16

Hari ini menjadi salah satu hari spesial dalam kehidupan saya. Pertama, untuk pertama kalinya angkatan saya di kedokteran Ulang Tahun. Well, mungkin keberadaannya gak sama kayak Pasukan Langit dulu, tapi bagaimanapun Arthron menjadi rumah persinggahan selanjutnya bagi saya di dunia ini. Pibesdey sendi :). Alhamdulillah tetep bisa hadir membersamai meski harus ngebut dan jantung berdegup lebih kencang.

Yang kedua kalinya, hari ini saya merasakan bagaimana rempongnya jadi orang yang dibahas. Wkwkwk. Yap, dicalonkan jadi ketua SKI, menunggu berjam-jam orang yang musyawarah, rasa yang bercampur aduk antara mules, males, mager, dan juga galau menghantui.

Plus di awal yang awalnya udah nolak, terus galau semaleman sampai curhat ke banyak orang, jadi imam telat, hingga akhirnya alhamdulillah ndak jadi terpilih menjadi suatu rangkaian momen yang begitu awesum. Barakallah buat ustadzana anas, semoga selalu dikuatkan. Semoga saya ndak termasuk dari proyek masa depannya ya, karena masa depan saya nanti buat dia. Iya dia. Oke ga nyambung :D

Dan terakhir, yang terpenting ialah, di hari ini. Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana 4 tahun saya hidup bersama Al Quran. Masih ingat betapa bahagianya dulu, saat purna hafalan tanggal 20-11-2012, terus akhirnya diberi kemudahan hingga sekarang, bisa berada di lingkungan ini. Lingkungan orang-orang shalih, yang ada sejak dulu hingga sekarang.

Semoga di tahun ke empat ini, amanah untuk menjadi keluarga penjaga kalamNya bisa terus dibawa dengan kuat. Semoga nda lagi lalai untuk membaca, mentadabburi, dan mengamalkan isinya.

Buat hafalanku, semoga selalu betah di dalam telencephalon ya, ndak lari lari. Bisa mengingatkan saat lalai datang, bisa menegur saat niat maksiat itu ada, dan bisa menjadi pedoman bagi kehidupan. Semoga bertahun tahun mendatang, bisa terus bersama. Bisa segera berubah ijazahnya juga, bukan hanya hafal tapi juga bersanad dan bisa membagikannya.

Dan semoga, ke depannya, bisa menerapkan pesan bunda. ‘Boleh sibuk dunia, boleh bermanfaat bagi dunia, tapi jangan lupakan juga Qurannya’.

Dan di malam ini juga, dapet pengingat istimewa dari temen kos tercinta. 'Seberapa penting sih dunia, sampai sholat harus dikorbankan?’

Mari berubah untuk menjadi lebih baik. Semoga ke depannya ndak lupa lagi buat berdekat dengan Al Quran, dan bisa menjaga kedekatan dan ketepatan waktu sholat serta menjaga adab keseharian.
Oke, di akhir nulis ada momen baper mabim lagi. Wkwkwk, ketuanya nangis 😂😂😂

Barakallah buat semua, semoga Allah selalu memberkahi segala langkah kehidupan kita :)

Dapur Solo, 20-11-2016

Memilih Jalan

09/11/16

Dalam kehidupan, ada banyak pilihan-pilihan yang diberikan kepada kita. Jalan-jalan itu terbentang luas, berjajar, memberikan kebebasan penuh. Karena pada akhirnya jalan yang menentukan ialah setiap dari kita sendiri.

Dalam memilih jalan menuju akhirat pun, Allah memberikan dua pilihan. Inna hadainaahu assabiila imma syakiron wa imma kaafuuron. Jalan kesyukuran dan jalan kekufuran, dua pilihan yang Allah berikan. Karena memang, jalan manusia pada diri merekalah hak mereka dipunya.

Dalam ayat ini, mungkin terlihat Allah memberikan dua pilihan. Tetapi, pilihan itu ada bukan untuk dipilih. Pilihan itu hanya sebagai peringatan, apakah kita mau menetapi jalan hidayah, jalan kebajikan dan kesyukuran, yang pada jalan itu ridho Allah tersemai, atau memilih jalan berhura, berkufur nikmat, dan bersama para keluarga neraka.

Tapi setelah memilih jalan yang pertama, sesungguhnya berjuta cabang telah menanti juga. Jalan-jalan untuk mengabdi pada Sang Pencipta itu memberi kebebasan untuk memilih, pada jalur mana kita akan mengabdi. Ada jalan menjadi pendakwah di daerah pra sejahtera, ada ajalan menjadi pendakwah di ruangan-ruangan megah nan mewah, menjadi oase di tengah kecarutmarutan pemerintah, ada pula jalan dakwah di balik panggung, menjadi para pendidik, menjadi para penulis, menjadi orang-orang yang berdoa untuk kebaikan sesama.

Barangkali memang, kita diberi kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan kita tempuh, tapi saat menempuh suatu jalan, akan ada banyak hak dan kewajiban yang akan kita dapatkan.

Surakarta, 14 Maret 2016

Tahanlah Ceritamu

15/10/16

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_lptt9PMHFwhatXpw8w_x7SS0t2e5LEkMfIy8pKFSad64zTu_SPBo1gveheVQ4-gpfevLr9LZxQpctHEB5bjd3rrbWU7IfWwi76q4EwWqNzqR3h-HDghKPF2O58Fr74jbu47cFG6Zv0w/s1600/senyap.jpg
Cerita, menjadi salah satu sarana efektif untuk menyampaikan sebuah pesan dan nilai kebaikan. Di Al Quran pun, Allah banyak menceritakan kisah umat umat terdahulu, agar Nabi Muhammad terhibur hatinya, agar umat ini mau mengambil pelajaran daripadanya.

Pun dalam banyak hadist, ada begitu banyak kisah-kisah yang diceritakan oleh Rasulullah. Dari kisah tentang ashabul Ukhdud, hingga kisah seorang pembunuh dengan 99 korban serta abid dan alimnya.
Pun dari para sahabat, berbagai kisah heroik juga tercatat dalam sejarah. Kisah tentang syahid yang berjalan di muka bumi, kisah keistriable-an Ummu Sulaimah binti Milhan, dan romantisme Salman dan Abu Darda.

Maka, barangkali kita perlu belajar untuk bercerita. Agar nilai kebajikan tersebut menjadi mudah untuk dicerna.

Akan tetapi, seperti yang telah kita pahami, bahwa sesuatu yang berlebih tak kan baik bagi diri. Pun dalam bercerita. Adalah sebuah kebaikan untuk berbagi kebaikan dan cerita menawan, tapi Rasul mewantikan agar tetap memilah dan memilih apa yang akan kita ucapkan.

Karena Beliau bersabda, cukuplah seseorang dikatakan dusta, manakala ia bercerita semua yang didengarnya. Karena menahan akan jauh lebih utama. Seperti berita bom madinah kemarin, betapa banyak fitnah dan buruk sangka tercipta, bersebab gegabahnya kita dalam membagikan berita.
Istighfar, barangkali lebih harus sering kita ucapkan.

Maka, tahanlah cerita menikahmu hingga tiba masanya, sebagaimana kamu dulu menahan diri untuk mengungkapkan cinta.
Yang terakhir beda cerita 😂

Yang Nikmat Belum Tentu Memikat


Beberapa waktu terakhir, publik sempat dikejutkan dengan kematian seorang penyanyi di bumi pertiwi ini. Mike Mohede harus menghembuskan nafas terakhirnya di usia yang masih muda. Banyak publik tidak percaya, karena selama ini Mike tidak dikenal pernah riwayat sakit yang mengancam. Hingga akhirnya berbagai kabar menyeruak ikut meramaikan kasus yang heboh ini.  Beberapa sumber menyebutkan bahwa kematian penyanyi yang terkenal lewat salah satu ajang pencarian bakat tersebut disebabkan oleh oleh Sudden Cardiac Death (SCD) atau lebih dikenal dengan nama serangan jantung mendadak yang biasa disebabkan oleh brugada syndrome dan penyakit jantung koroner
Kasus kematian Mike Mahode ini merupakan salah satu bukti bahwa prevalensi penyakit jantung di indonesia masihlah sangat tinggi. Menurut hasil Riskesdas tahun 2013 sendiri, prevalensi jantung koroner yang pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,5 persen dari seluruh rakyat Indonesia, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5 persen dari seluruh rakyat Indonesia.

Penyakit Jantung Koroner, penyebab kematian nomor 1 di Indonesia
Penyakit jantung koroner adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner. Secara klinis, ditandai dengan nyeri dada atau terasa tidak nyaman di dada atau dada terasa tertekan berat ketika sedang mendaki/kerja berat ataupun berjalan terburu-buru pada saat berjalan di jalan datar atau berjalan jauh.
Didefinisikan sebagai PJK jika pernah didiagnosis menderita PJK (angina pektoris dan/atau infark miokard) oleh dokter atau belum pernah didiagnosis menderita PJK tetapi pernah mengalami gejala/riwayat: nyeri /rasa tertekan berat/tidak nyaman di dada baik pada bagian tengah, kiri depan, atau menjalar ke lengan kiri. Gejala lain yang mungkin dirasakan yaitu nyeri/tidak nyaman di dada dirasakan ketika mendaki, naik tangga, atau berjalan tergesa-gesa dan hilang ketika menghentikan aktifitas/istirahat.
Fakta juga menunjukkan, sejak tahun 1996 silam peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia ditempati oleh penyakit jantung koroner. Padahal, penyakit mematikan ini sebenarnya dapat dicegah karena memang penyakit jantung koroner banyak disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat. Pola hidup yang salah ini meliputi tiga aspek pokok, yaitu:
1.      konsumsi makanan yang manis dan berlemak secara berlebihan atau yang disebut dengan GlikoLipo Toksisit
2.      terbiasa hidup santai tanpa melakukan aktifitas secara fisik dan kurang berolahraga atau Sedentary Living
3.      hidup pada lingkungan yang tak sehat  yang penuh dengan radikal bebas serta meningkatnya polusi udara.
Biasanya penderita penyakit jantung koroner mengalami kerusakan pada bagian pembuluh darah arteri yang lebih sering lantaran kandungan kolesterol tinggi dalam tubuh. Kolesterol berlebih tersebut akan mengendap dalam pembuluh darah yang lambat laun terus tertimbun hingga menjadi gumpalan atau plak. Akibatnya ruang aliran pembuluh darah akan menyumbat sehingga memaksa jantung bekerja lebih ekstra dalam memompa aliran darah. Apabila hal itu terus berlangsung untuk jangka waktu lama, pembuluh arteri koroner semakin sempit dan keras atau yang biasa disebut dengan istilah aterosklerosis. Apabila pembuluh arteri koroner sudah rusak ataupun mengalami penyumbatan, jantung akan kekurangan asupan darah yang membawa oksigen. Hal inilah yang nantinya menimbulkan banyak komplikasi di kemudian hari.

Makanan Nikmat Penuh Laknat
Telah kita ketahui bahwa salah satu penyebab dari penyakit jantung koroner ialah gaya hidup yang salah. Salah satunya kebiasaan masyarakat adalah dalam urusan makanan, di mana karena semakin padatnya tuntuntan hidup, masyarakat mulai banyak meninggalkan makanan konvensional dan beralih pada makanan yang lebih cepat meskipun gizi yang dikandung dalam makanan tersebut tidak mencukupi kebutuhan, yaitu junk food. Namun, barangkali kita sendiri pun mungkin terkadang masih bingung dengan istilah junk food ini. Apa yang membedakan junk food dengan fast food? Mari kita lihat sejarahnya.
Menurut sejarah, fast food sendiri mulai dikenal abad 19 ketika revolusi industri di Amerika Serikat dan negara-negara lain di Eropa bermula. Karena perubahan dari iklim agraris menuju industrialis, masyarakat saat itu disibukkan di tempat kerja mereka mulai dari 8-10 jam per hari. Revolusi tersebut membuat masyarakat saat itu harus mencari alternatif lain yang lebih praktis untuk menghemat waktu yang mereka. Salah satunya dengan mengonsumsi makanan cepat saji. Saat itu, industri makanan masih didominasi oleh snack bar atau kios kecil atau semacam pedagang kaki lima atau warung-warung kecil di Indonesia.
Memasuki abad ke-20 industri fast food berkembang pesat setelah bereformasi menjadi restoran-restoran modern. Munculah pada saat itu restoran besar semacam McDonald’s, KFC, AW, Tacco Bell, dan juga Dunkin Donut. Perkembangannya industri ini pun semakin cepat setelah dikenalkannya sistem franchise pada tahun 1950-an. Di Indonesia sendiri, fast food mulai marak tahun 1990-an, di mana saat itu dominasi restoran internasional mulai nampak. Akhirnya, fast food semakin menarik hati para konsumen yang tidak hanya terdiri dari kalangan para pekerja melainkan seluruh kalangan mulai dari anak-anak, remaja sampai dengan kalangan orang tua.
Seiring berjalannya waktu, pola makan instan mulai dirasakan dampak negatifnya bagi masyarakat. Di Amerika Serikat, obesitas dan komplikasinya menjadi masalah nasional sebagai dampak jangka panjang dari konsumsi fast food yang tidak terkendali. Kemudian penyakit jantung yang telah disebutkan menjadi penyebab kematian tertinggi, juga menjadi sebuah ancaman yang menakutkan. Hal tersebut menyadarkan masyarakat bahwa fast food merupakan makanan yang tidak sehat dan berpengaruh negatif terhadap kesehatan tubuh.
Atas alasan tersebut, kini masyarakat mengidentikkan fast food dengan istilah junk food atau makan sampah (yang tidak sehat). Maka dari sinilah harus kita sadari, bahwa tidak semua fast food adalah junk food, karena masih banyak makanan cepat saji konvensional yang kandungannya tetap mampu mencukupi kebutuhan nutrisi kita.
Akan tetapi ada fakta yang sangat disayangkan. Ada banyak persepsi masyarakat tentang junk food ini yang masih kurang tepat. Masyarakat pada umumnya masih memandang bahwa jenis-jenis junk food terbatas pada makanan waralaba dari luar negeri dan memilki harga yang cukup mahal. Salah satu keuntungannya, produk junk food dari luar negeri seperti burger, sosis, pizza dan makanan sejenisnya berupa kemasan modern dan mahal kini sudah mulai diwaspadai dan dipahami oleh masyarakat sebagai makanan cepat saji yang tidak sehat.
Namun, sebenarnya jenis-jenis junk food sendiri tidak terbatas hanya untuk makan luar negeri saja. Banyak makanan asli Indonesia yang termasuk ke dalam jenis makanan ini, tetapi belum banyak disadari masyarakat. Makanan Indonesia sendiri, banyak yang tidak kalah “sampah” dari junk food yang berasal dari luar negeri. Hal ini disebabkan oleh kandungan dalam makanan yang banyak mengandung lemak yang berbahaya bagi tubuh kita, mulai dari masakan padang hingga gorengan.
Gorengan sendiri seolah sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia dewasa ini. Hampir di setiap hajatan selalu dihidangkan gorengan, yang bisa jadi digoreng dengan minyak jelantah yang telah digunakan berulang kali. Mungkin sudah terhitung lagi, betapa banyak “sampah” yang kita masukkan setiap hari ke dalam tubuh kita.
Padahal, berdasarkan penelitian ahli gizi yang membandingkan komposisi nilai gizi antara satu burger standar dengan lima gorengan, didapatkan hasil bahwa nilai gizi antara burger dan gorengan sama-sama tergolong kedalam makanan berkalori dan berlemak tinggi, sehingga bila dilihat dari nilai gizinya gorengan tidak kalah “sampah” bila dibandingkan dengan burger.
Selain itu, minyak yang dipakai dalam penggorengan juga ternyata menimbulkan masalah baru. Penggunaan minyak yang berulang-ulang dengan pemanasan tinggi beserta kontak oksigen akan mengakibatkan minyak mengalami kenaikan asam lemak bebas yang bisa berdampak pada gagal jantung dan kematian mendadak.

Kesehatan untuk Kita
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Majane, disebutkan bahwa konsumsi gula dan minyak jenuh seperti yang banyak terdapat pada makanan nikmat kekinian seperti burger atau pizza, atau makan lain seperti gorengan, dapat mempercepat perkembangan kondisi abnormal pada jantung dan meningkatkan kemungkinan seseorang untuk terkena hipertensi, diabetes melitus, obesitas, serta jantung koroner. Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyebab kematian tersering dan memiliki nilai burden of life tinggi yang dapat mengganggu kualitas hidup seseorang.
Nantinya, penurunan kualitas hidup individu bisa mengakibatkan penurunan produktiftas yang nantinya juga mempengaruhi profil kesehatan serta pembangunan bangsa. Individu yang sakit juga mengakibatkan meningkatkan biaya berobat sehingga meningkatkan pengeluaran negara di bidang kesehatan. Maka, tidak heran BPJS mengalami defisit mengingat  biaya penanganan penyakit-penyakit tadi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Padahal seandainya masyarakat mau mengubah dan memperbaiki kualitas hidup mereka, anggaran yang dikeluarkan untuk bidang kesehatan bisa lebih dihemat dan dialokasikan untuk pembangunan dan pemenuhan sarana prasarana kesehatan di tempat lain seperti daerah-daerah terpencil perbatasan dan lainnya.
Karena luasnya pengaruh kesehatan individu pada diri sendiri dan masyarakat, sayangilah jantung dari sekarang. Langkah kecil bisa dimulai, dengan mengurangi konsumsi gorengan dan makanan berlemak lainnya, Alangkah lebih baik jika diganti dengan makan sayur dan buah-buahan. Selain itu, usahakan untuk meminimalisasi penggunaan minyak jelantah atau minyak yang telah digunakan berulang kali untuk menggoreng karena banyak mengandung asam lemak jenuh yang berakibat buruk bagi kesehatan. Dan terakhir, berorahlagalah secara rutin dan ajak orang-orang di sekitar Anda untuk menerapkan perilaku hidup sehat.

Take care of your body, it’s the only place you have to live. –Jim Rohn



DAFTAR PUSTAKA
1.       Alamsyah, Yuyun. 2009. Antisipasi Krisis Global: Bisnis Fast Food A La Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo
2.       Kementrian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI
3.       Mozaffarian D, Rimm EB, King IB, Lawler RL, McDonald GB, Levy WC. 2004. Trans fatty acids and systemic inf lammation in heart failure. Am J Clin Nutr 2004;80:1521-5.
4.       Stanley, W., Shah, K. and Essop, M. 2009. Does Junk Food Lead to Heart Failure?: Importance of Dietary Macronutrient Composition in Hypertension. Hypertension, 54(6), pp.1209-1210.
5.       Yayasan Jantung Indonesia. 2015. Sejarah Penyakit Jantung Koroner. [online] Available at: http://www.inaheart.or.id/artikel/143-sejarah-penyakit-jantung-koroner/ [Accessed 15 Sep. 2016].

Yang kita butuhkan

“Yang kita butuhkan hanya bertatap muka, saling melepas rindu dan bertegur sapa, agar ruh-ruh kita kembali bersapa syahdu dan saling memantapkan untuk tetap tegar di jalan ini”

Dalam kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat, ada begitu banyak hal yang terasa tidak ideal. Dari manapun, pasti akan selalu ada ‘penggangu keharmonisan’. Entah atasan yang diktator, bawahan yang hilang dan jarang keluar, atau barangkali diri kita sendiri yang terlalu lalai dengan dunia.

Ketika tumpukan masalah bertumpuk menjadi satu, ketika itulah kefuturan itu benar-benar menghampiri. Ada sebersit pikiran untuk berhenti sejenak dari memberi kemanfaatan, bahkan mungkin lari dari kenyataan. Dan saat itu, satu masalah sederhana pun bisa menjadi penyulut masalah setelahnya, yang bisa jadi lebih besar dan tak lagi berjalan semestinya.

Maka, ketika kakimu ingin berlari, ketika troponin sudah hampir berikatan dengan ion Ca2+, tundalah sejenak. Lihatlah kawan di sampingmu. Yang barang kali merasakan hal yang sama sepertimu. Tatap wajah mereka dan rasakan bahwa sebenarnya senyuman kecil sudah mampu menebus peluh dan luka yang ada.

Mari bertemu, karena inti kita terjun adalah bersosialisasi, bukan membuat mahluk bernama program kerja.
Masjid Rahmi, 15-10-2016
Mari bekerja, mari berkarya
Musyawarah Kubro sebentar lagi :)

Semoga kembali bersemangat (menulis)

29/09/16

Dalam beberapa bulan terakhir, siklus dalam hidup mulai kembali beranjak seperti sedia kala. Liburan telah purna, liburan telah usai, meninggalkan berjuta kenangan dan momen yang barangkali hanya akan menjadi kenangan di kemudian hari.

Siklus berubah, maka diri kita pun juga harus banyak berubah. Dari liburan yang banyak santai, online menjadi hal yang biasa, menuju kehidupan riwuh dan ruwet yang banyak menuntut dan dituntut. Hingga akhirnya berbagai kesibukan dan kerumitan ini pun membuat kita memiliki banyak masalah, sehingga acapkali tulisan menjadi wadah yang melegakan, meski mungkin belum menyelesaikan.

Betapa saat liburan dulu, ada begitu banyak target dicanangkan. Mulai dari membaca beberapa judul buku, menulis, hingga banyak berinteraksi dengan Al Quran. Tetapi ternyata setan jauh lebih lihay. Kita dilenakan, kita dibuat lupa. Hingga akhirnya liburan purna, dan kesibukan menjadi teman akrab kita (lagi).

Maka, di tengah kesibukan ini, mari kita berbagi cerita. Barangkali bukan kesombongan, bukan pujian, atau keluhan tujuan yang ada dalam setiap huruf yang kita tuliskan. Semoga setiap kisah kita mampu menjadi pengingat dan penyemangat. Karena kita menulis bukan karena kita bisa, tapi agar bisa diajari dan dibenarkan pemahaman kita oleh mereka yang sudah bisa.

Masjid Rahmi FK UNS, 29 September 2016
Udah punya dedek baru :”)

Onta atau Unta?

25/07/16

Onta atau unta? Seringkali dalam mengucapkan sebuah kata ada kebingungan menentukan ejaan yang tepat untuk kata tersebut. Seperti kata unta, atau onta. Kita bingung mana yang benar, antara huruf o atau a. Pun apabila kita telisik di line, saat menulis kata onta atau unta kedua-duanya sama-sama disarankan gambar unta, atau onta.

Dan, kamus besar bahasa Indonesia bertitah bahwa kata yang baku ialah kata unta. Maka, andaikan kita tak teliti, dalam membuat naskah atau karya tulis bisa jadi sebuah cacat yang menjadi nilai minus. Iya hanya satu huruf kita kebingungan karena memang kedua kata yang ada terasa familiar.

Dan ternyata, kebiasaan ‘salah’ itu ndak hanya terdapat dalam bahasa ibu pertiwi saja. Seperti bahasa yang kita lafalkan tiap hari, yang pengucapannya menjadi kewajiban bagi kita, yakni bahasa Arab.

Betapa dalam mengucapkan bahasa yang dipilih Allah ini kita masih jauh dari pelafalan yang benar. Dan banyak dari kita merasa bahwa bacaan kita bagus, udah sesuai sama yang diajarkan dulu pas TPA, padahal ternyata jauh berbeda. Pun terkadang ada yang bahkan tidak merasa salah dalam melafalkan bahasa ini dan merasa tenang dan santai saja.

Bukan seperti onta atau unta yang masih sekufu, bahkan al hamdu dan al khamdu memiliki dua makna yang jauh berbeda dalam bahasa Arab ini. Maka andaikan kita mau belajar dan menyadari betapa banyak makna yang sudah terbiaskan dari asalnya.

Iya, Allah tidak akan menghukum hambaNya yang tidak tahu. Tapi apa iya selamanya kita mau jadi mahluk yang miskin ilmu?

Yuk belajar tajwid, belajar tahsin, belajar bagaimana cara melafal bahasa yang dipilih oleh Rabbul Alamin.

Aaa iii uuu baa’

Klaten, 250716

Naik-naik ke puncak gunung

19/07/16

“Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara a a a”

Lagu masa kecil tersebut seolah mendoktrin kita untuk berbahagia melihat hijaunya Alam semesta. Apalagi di gunung, dengan kesejukannya, berdendang akan semakin mengasyikkan dalam menikmati pemandangan.

Mungkin untuk mendidik generasi, perlu kita sedikit ganti liriknya.
“Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali
Ku bersyukur nikmat Ilahi banyak-banyak sekali i i..”

Hehe
Kosbin Al Fatih 190716

M

18/07/16

Marasmus adalah salah satu penyakit yang saya pelajari pada awal masa belajar di fakultas kedokteran ini. Marasmus timbul karena malnutrisi atau kekurangan gizi pada seorang balita.

Biasanya penyakit ini ditandai dengan tubuh anak atau balita mirip orang tua, tubuh sangat kurus sehingga terlihat tulang hanya terbungkus oleh kulit, kulit keriput, perut berbentuk cekung dan kecenderungan anak yang mengalami kondisi ini adalah rewel dan mudah menangis.

Adapun apabila lebih spesifik pada kekurangan protein, maka akan timbul penyakit kwarshiokor. Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan atau juga disebut edema pada seluruh tubuh, rambut tipis dan warnanya seperti rambut jagung sehingga mudah rontok dan mudah sekali dicabut, Ukuran otot mengecil dan sama juga terjadi perubahan mental menjadi rewel dan apati.

Dan kedua penyakit ini, masih saja menjadi masalah yang cukup serius di negara berkembang. Terutama di afrika dan mungkin juga di Indonesia. Ah, betapa kurang bersyukurnya kita diberi nikmat kesehatan dan cukup gizi.

Sungguh, kekurangan gizi saja sudah menimbulkan suatu permasalahan yang cukup serius. Maka, bagaimana apabila yang kekurangan ternyata bukan sekedar gizi? Tetapi juga harta, bahkan akhlaq diri?

Adalah sore ini, rumah saya kedatangan tamu seorang wanita paruh baya. Awalnya saya belum tahu siapa beliau, hingga akhirnya beliau menangis sambil menceritakan kisah hidupnya.

‘Hartanya bisa dipakai buat 7 turunan’, mungkin semua orang akan menganggap kekayaan beliau seperti itu. Ya, kekayaan beliau sebegitu banyaknya, sehingga semua orang tidak menyangka akan seperti ini nasib beliau kemudian.

Adalah saat itu beliau tidak mempunyai anak, kemudian mengambil keponakan beliau sebagai anak angkat. Anak itu diurus hingga dewasa dan purna sekolah bahkan sampai menyempurnakan separuh agama. Ternyata di masa 'pengangkatan’ itu, beliau memiliki anak.

Dan masalah bermula ketika anak angkat beliau menuntut hak untuk mendapat hak seperti yang didapatkan oleh anak kandung beliau. Beliau tidak mengiyakan. Akhirnya, suami anak angkat beliau yang juga seorang notaris membuat sebuah skenario hingga akhirnya semua kekayaan beliau disita dan tak mampu digunakan lagi sampai akhirnya jatuh miskin seperti ini.

Dan hari ini, saya mendengar tangisan beliau langsung, ingin meminjam uang hanya untuk biaya sewa rumah beliau. Ya Allah.

Maka bayangkan bagaimana seandainya bangsa ini miskin akhlaq. Apalagi keburukan yang akan tercipta?
Klaten, 180716

L

“Laki-laki seperti apa yang sebenarnya kau inginkan nduk?”

“Yang biasa saja pak. Bukan sarjana, bukan tentara, bukan saudagar kaya, yang penting mau menjaga kalamNya seumur hidupnya” jawab Aisyah, saat ditanya mengapa ia menolak lamaran yang entah sudah ke berapa.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS