Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Memilih Jalan

09/11/16

Dalam kehidupan, ada banyak pilihan-pilihan yang diberikan kepada kita. Jalan-jalan itu terbentang luas, berjajar, memberikan kebebasan penuh. Karena pada akhirnya jalan yang menentukan ialah setiap dari kita sendiri.

Dalam memilih jalan menuju akhirat pun, Allah memberikan dua pilihan. Inna hadainaahu assabiila imma syakiron wa imma kaafuuron. Jalan kesyukuran dan jalan kekufuran, dua pilihan yang Allah berikan. Karena memang, jalan manusia pada diri merekalah hak mereka dipunya.

Dalam ayat ini, mungkin terlihat Allah memberikan dua pilihan. Tetapi, pilihan itu ada bukan untuk dipilih. Pilihan itu hanya sebagai peringatan, apakah kita mau menetapi jalan hidayah, jalan kebajikan dan kesyukuran, yang pada jalan itu ridho Allah tersemai, atau memilih jalan berhura, berkufur nikmat, dan bersama para keluarga neraka.

Tapi setelah memilih jalan yang pertama, sesungguhnya berjuta cabang telah menanti juga. Jalan-jalan untuk mengabdi pada Sang Pencipta itu memberi kebebasan untuk memilih, pada jalur mana kita akan mengabdi. Ada jalan menjadi pendakwah di daerah pra sejahtera, ada ajalan menjadi pendakwah di ruangan-ruangan megah nan mewah, menjadi oase di tengah kecarutmarutan pemerintah, ada pula jalan dakwah di balik panggung, menjadi para pendidik, menjadi para penulis, menjadi orang-orang yang berdoa untuk kebaikan sesama.

Barangkali memang, kita diberi kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan kita tempuh, tapi saat menempuh suatu jalan, akan ada banyak hak dan kewajiban yang akan kita dapatkan.

Surakarta, 14 Maret 2016

Poligami Tidak Menjamin Surga

04/08/15


Dalam belajar, sebenarnya tidak mengenal ruang dan waktu. Banyak ilmu kita dapatkan dari hal-hal kecil di sekitar kita, bahkan terkadang dari disiplin ilmu lainnya.

Suatu waktu, saya pernah diberi pelajaran filosofis kehidupan oleh salah satu guru. Tentang bagaimana pronoun yang bisa berubah bentuk tergantung di mana ia berada. Seperti hidup, kita punya karakter yang harus kita pertahankan, aku tetaplah aku. I am I. Tapi aku juga bisa beradaptasi sesuai lingkungan, seperti I can be mine, me, or myself, tergantung di mana ia berada.

Pun juga dalam pelajaran kimia, ada banyak pelajaran filosofis yang ada. Ketika berbicara tentang atom emas, kita menyebutnya aurum. Dalam keadaan lain, ada kalanya aurum kita ganti dengan aurat. Tak salah kan kalau kita harus menutupi aurat karena ia emas kita? Barangkali saya terlalu mengada-ada, tapi bukankah tak ada satupun kebetulan di dunia, kecuali telah ditakdirkanNya? :D

Salah satu pelajaran yang sering diceritakan oleh ustadz saya selama masih bujang adalah keadaan atom yang tidak stabil saat ia berdiri sendiri. Beliau selalu bercerita bagaimana atom menjadi stabil setelah ia bergabung menjadi molekul atau senyawa. Seperti manusia, yang selalu labil saat ia masih sendiri, tapi menjadi kuat setelah ada seseorang yang menemani di sisi.

Senyawa atau molekul terkadang bukan hanya terdiri dari dua atom saja, seperti molekul air, yang terdiri dari 2 molekul oksigen dan 1 hidrogen. Begitu pula gas propana yang terdiri dari 4 atom C dan 10 atom H. Manusia pun begitu adanya. Terkadang seorang lelaki tak hanya beristri satu, bisa jadi lebih, tergantung kemampuan yang ia punya. Kita begitu mengenal istilah itu, poligami.

Belakangan ini poligami kembali menjadi trending topic, terutama setelah film “Surga yang Tak Dirindukan”-nya Asma Nadia diluncurkan di pasaran. Pun juga artikel dan tulisan Mbak Asma yang menyinggung tentang poligami mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak. Beberapa waktu yang lalu pun saya juga melihat bagaimana sahabat saya beradu argumen dengan salah seorang muslimah. Ya Rabb, barakallahu fiihima.

Saya ndak pengen membahas tentang film itu, soalnya belum pernah nonton. Hehe. Cuma sekedar mengajak menyimak firman-Nya dalam surat An Nur, “nikahilah mereka yang baik untuk kalian di antara perempuan-perempuan, dua tiga, atau empat.”  Barulah setelah itu Allah menutup dengan “dan jika kalian takut tidak mampu berbuat adil, maka satu”. Jelas dalam konteks di atas, perintah yang pertama ialah poligami, baru kemudian jika tidak mampu berbuat adil maka satu saja cukup. Maka, saya pun meyakini, poligami itu lebih utama.

Dari pemahaman tentang ayat di atas lah yang kemudian menimbulkan pro dan kontra, hingga akhirnya banyak orang yang membenci poligami, pada ia adalah salah satu sunnah Rasulullah yang tak layak untuk dibenci.

Mungkin sedikit kita beralih topik berbicara mengenai syariat Jihad. Jihad merupakan puncak tertinggi dalam Islam dan menjadi salah satu amalan terbaik di dalamnya. Allah pun menjanjikan surga bagi siapa yang mati karenanya. Tapi jihad juga berat, bahkan hal itu pun disebutkan Allah dalam Al Quran. Begitu pula poligami, ia berat, butuh pengorbanan, tapi bukankah untuk merengkuh surgaNya membutuhkan pengorbanan tersebut. Poligami bisa jadi seperti jihad, hanya barangkali jika tak berniat untuknya bukan salah satu tanda kemunafikan, berbeda dengan syariat Jihad.

Tapi bukankah ada masanya orang-orang juga dibolehkan untuk tak berjihad jika mereka tak mampu? Seperti poligami juga. Poligami memang utama, tapi bukanlah sebuah celaan bagi mereka yang tak melakukannya. Karena barangkali mereka masih takut jika berbuat tak adil, masih tak mampu menenangkan hati sang istri, masih belum sanggup mengelola gejolak hati. Barangkali pula ia mempunyai sejuta alasan yang menahan untuk berpoligami dan bercukup diri dengan satu bidadari. Ah,sungguh itu bukanlah sebuah kesalahan baginya. Dan dengan satu, barangkali akan menghadirkan rasa surga di rumahnya yang mungkin tak mampu ia rengkuh dengan selebihnya.

Saya masih meyakini, poligami memang utama dan berniat untuk melaksanakannya. Tapi entah, ketika kelak beristri juga apakah ada hal yang ternyata membuat saya hanya sekedar meniatkan, atau benar-benar melakukannya, hanya Allah-lah Yang Mengetahui segalanya. :)

Nah, di sini saya mengingatkan bagi mereka yang mungkin fanatik dengan poligami, tapi tak belajar dahulu sebelum melakukannya. Ingat, poligami ndak menjamin masuk surga loh! WALLAHI, DEMI ALLAH, POLIGAMI TIDAK MENJAMIN SESEORANG MASUK SURGA! Hla wong jihad, menghafal Al Quran, bersedekah aja bisa menyeret ke neraka jika ia tidak ikhlas karenaNya. Iya kan? Hehe. Karena terkadang ada seseorang yang berpoligami hanya menuruti nafsunya dan tak mampu berlaku mulia pada keluarganya. Maka yang ini patut dihindari.

Kesimpulannya, bagi yang mampu berpoligamilah, namun bagi yang tidak, seyogyanya menahan diri dan bercukup dengan satu, demi kebaikan setiap individu.

Semoga tulisan ringan saya ini bisa menjadi pencerahan. Tak ada alasan yang membolehkan kita untuk mencela syariat ini, pun poligami. Karena apa yang Allah tetapkan ialah kebaikan bagi hambaNya, yang barangkali belum diketahui hikmahnya oleh mereka. Pun bagi yang merasa sanggup dan yakin untuk berpoligami, jangan menyalahkan dan menjelekkan mereka yang belum mampu. Bukankah kullan wa’adAllahu husnan? Bukankah setiap mukmin dijanjikan olehNya kebaikan? Ahh, jika saya salah mohon diluruskan. Wallahu a’lam.

Klaten, 19 Syawal 1436H
Huda S Drajad

NB : Bersebab adanya beberapa ikhwah yang ternyata salah paham dalam memahami artikel saya di atas, mungkin video di bawah bisa dirujuk, lebih jelas pembahasannya insyaAllah :) :) Buat para akhwat, yakin kebahagiaan itu adanya pada Allah, bukan pada manusia yak . Dan mungkin sederhananya, poligami itu kebutuhan. Yang ndak butuh ndak perlu diprovokasi, yang butuh jangan dihalangi. 


Kupu-kupu sebelum Kupu-kupu

28/07/15

“Binatang apa yang paling aneh?”.
“Belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam minum susu”
Tebakan tersebut menjadi begitu tersohor di masa kecil saya. Pun juga ketika seorang ibu me-ngliling bayi kecilnya dengan kata legendaris tersebut, ditambah sedikit awalan “pok ame-ame”. Ah, jadi rindu masa ketika memberi hiburan ke anak dengan kata cinta, bukan sekedar gadget yang tak bernyawa.

Tentang kupu-kupu, pasti kita pernah mendengar lirik lagu ini, “persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu”. Entah siapa penyanyinya saya sendiri juga ndak tahu, yang jelas ada salah satu stasiun televisi swasta yang menayangkan sinetron dengan soundtrack lagu ini, yang juga sempat menjadi salah satu topik obrolan kawan-kawan saya di mahad Al Mukmin semasa itu. Saya cuma bisa menyimak tanpa mampu menanggapi, Alhamdulillah saya emang rada kuper. :)

Mengenang masa di pondok emang tiada habisnya, pun bagi saya yang baru purna dari mahad ‘Hidup Mulia’. Masa-masa di pondok ibarat sejarah kehidupan yang perlu dikenang, bersebab di dalamnya sebuah pribadi bermetamorfosa, dari seorang yang mbok-mbokan dan suka dimanja menjadi sosok pasangan-able yang ndak cuma memancarkan akhlak mulia, tapi juga bermanfaat bagi sesama. Seperti ulat yang banyak dilirik jijik, menjadi kupu-kupu yang berwarna ceria. Menebarkan keindahan ke alam semesta. Tak salah mungkin kalau kita mengganti lirik lagu di atas menjadi, “Pesantren itu bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.”

Setiap santri pasti punya kenangan indah tentang kehidupan kepesantrenannya. Dari sejak awal ia masuk, hingga ketika ia berisak mengikrarkan janji untuk berbudi mulia saat wisuda. Namun, izinkan saya bercerita tentang dua orang pribadi, orang yang begitu dekat dengan saya dan telah saya anggap adik kandung sendiri, tentang secuil perjuangan mereka. Perjuangan bermetamorfosa menjadi akhwat yang sejati, yang kelak kan dicemburui para bidadari.

Saya menjadi saksi mereka berdua berkembang semasa SMP. Melihat dari masa masih dipenuhi kepolosan, sampai masa ketika saya harus menundukkan pandangan. Melihat bagaimana mereka menetapi dan meniti jalan ini, hingga mampu berubah menjadi sosok yang layak untuk diceritakan kebajikannya. Sekarang pun, mereka masih terus berusaha berubah, karena saya yakin mereka sadar, jalan hijrah yang kan ditempuh masih panjang.

Sungguh, saya merasa malu, sering dianggap oleh mereka berdua sebagai sosok yang memotivasi, padahal sesungguhnya sayalah yang lebih layak untuk bercermin dan berbenah diri. Izinkan saya berceritera tanpa menyebut nama asli mereka, pun bagi yang tahu dimohon untuk tidak menyebarkan siapa sebenarnya mereka, demi menjaga keikhlasan hati mereka berdua.

Dia yang pertama, anggap saja si A. Dia terlahir dari keluarga pra-sejahtera. Kata orang pun rumahnya mewah, mepet sawah. Tapi semangatnya menuntut ilmu tak tergantikan. Setiap saya taklim ia selalu menjadi juru bicara kawan-kawannya. Mencecar saya dengan pertanyaan yang kadang bisa dikatakan rada nyeleneh, tapi justru berbobot dan menyadarkan. Kalau dia tak ada, masjid pun seolah terasa sepi. Tapi jujur, saya bersyukur bersebab itulah saya sadar, aih ilmu saya masih terlampau sedikit. Dan hal itu pun masih berlanjut hingga generasi berganti.

Purna masa studi di mahad ‘hidup mulia’, saya mendengar kabar yang mengejutkan, lebih tepatnya menggembirakan. “Kak, insyaAllah saya sama si B (sahabat karib si A yang nanti akan saya ceritakan) akan melanjutkan sekolah di pondok. Si B alhamdulillah sudah diterima di mahad X. Kalau saya, doakan biar diterima di mahad Y“. Saya yang menerima kabar itu pun hanya bisa mengamini, seraya berdoa semoga niat mulianya dikabulkan oleh Rabbul Izzati.

Suatu ketika, dia datang ke rumah nenek saya di lereng gunung lawu. Bukan, bukan menemui saya, tapi menemui tante saya yang juga tetangga dia di desa aslinya. Mereka mengobrol lama berdua di ruang tamu, dan saya pun ndak berani menyimak. Obrolan wanita. Beberapa waktu pun saya baru mendengar kabar dari umi, ketika tante saya bercerita. Ternyata sore itu dia menangis, bercerita tentang kendala buat masuk ‘penjara suci’.

Jadi, uminya alhamdulillah, akan dikaruniai buah hati lagi. Tapi dari situlah kegalauan itu bermula. Uminya kini tak lagi bisa bekerja seperti biasa, demi kebaikan janin yang dikandungnya. Dikhawatirkan jika dia bersekolah di pondok, orang tuanya ndak bisa membiayai, dan lebih takut seandainya dipaksa, sekarang bisa masuk tapi nantinya berhenti di tengah perantauannya. Umiya pun menyuruhnya untuk menunda studi setahun dulu, menggunakan setahun itu untuk bekerja, membantu menyokong kehidupan keluarga sambil mengumpulkan tabungan untuk kelanjutan studinya.

Dia kurang setuju dengan yang diinginkan uminya. Bukan, bukan karena niat durhaka. Tapi dia takut ketika ia berkerja sekarang, niat untuk masuk pesantren jadi hilang terpudar. Saya yang mendengarnya langsung terenyuh. Ketika mendengar itu dari umi, saya langsung bilang dengan aksen jawa yang kurang lebih artinya, “Mi, alhamdulillah kan kita diberi rizki agak lebih oleh Allah. Lha uangnya beberapa juga dipakai buat anak asuh kan? Mending beberapa anggaran diarahkan buat membantu si A. Saya kan pernah mengajar dia, insyaAllah semangat dan kepribadiannya baik kok mi.”

Saat itu, saya menyampaikan dengan wajah rada melas. Dan hal itu cuma berani saya sampaikan ke umi, soalnya kalau ke ayah takutnya dikira ada apanya. Alhamdulillah, umi bilang “InsyaAllah, nanti umi sampaikan ke ayah.” Alhamdulillah, akhirnya permintaan saya beliau kabulkan.

Dan Senin kemarin, kami mengantarnya ke mahad atas permintaan salah satu teman karib ayah yang juga kolega mahad Y. Saya pun turut serta, karena mau sekalian mampir ke Magetan, memenuhi beberapa keperluan kuliah. Sesampainya di mahad yang dituju, saya ndak tega lihat kondisinya. Jauh banget dari mahad saya semasa SMP dulu, apalagi sama mahad ‘hidup mulia’. Terpencil dari kota, aksesnya pun jauh dari kendaraan umum. Saya sendiri merasa, ah mungkin kalau saya yang dilepas di mahad ini mungkin ndak bakal betah lebih dari sehari.
Tampak depan mahad yang akan dicintainya

pembangunan mahad yang sampai sekarang masih berjalan

Di sana teman karib ayah menceritakan bagaimana keberkahan mahad tersebut. Tentang kebersahajaan dan kesederhanaannya, yang justru darinya naungan barakahNya tercipta. Meski dengan lauk seadanya, tapi  justru banyak santriwatinya lebih gemuk ketika pulang menikmati liburan. Mungkin segala keadaan tersebutlah yang justru bisa melahirkan para calon ummahat sejati. Ya Rabb, baarik lahunn wa baarik ‘alaihinn.

Sepulang dari sana, saya mendapati cerita lain yang juga membuat saya terharu. Tentang bagaimana si A tadi semasa SMP mengumpulkan uang untuk bekalnya, bahkan ketika libur UN menjadi seorang perawat bayi dadakan selama 2 bulan agar bisa memenuhi mimpinya menuntut ilmu di mahad. Tentang bagaimana dia menjadi yang pertama meminta brosur dan mendaftar, bahkan ketika pendaftaran sendiri belum dibuka. Dan saya teringat tak henti ketika kami hendak pulang, dia mengucap jazakumullah terus. Meski tak memandang langsung, tapi saya bisa merasakan bagaimana terharunya dia. :’( Tapi alhamdulillah mulai hari itu, akhirnya terwujudkanlah mimpinya untuk menjadi seorang santriwati.

Berkisah ke sosok lain, sahabat si A yang belakangan saya ketahui ternyata dia juga saudara sepupunya. Seorang yang bagi saya lebih nyantri daripada seorang santriwati yang sejati. Semasa SMP pun, saya begitu takjub melihat amalnya. Bagaimana dia meski di sekolah negeri masih bisa istiqomah menghafal juz amma, melaksanakan sholat dhuha, dan juga berpuasa. Puasanya pun bukan hanya puasa senin dan kamis, tapi juga digabung dengan puasa dawud. Saya selalu malu, jika membandingkan amal saya dengan amalnya.

Semasa saya ajar pun, si B ini juga hampir selalu hadir. Meski lebih banyak diam, tapi dia seolah menjadi ruh dari halaqoh itu. Ketika dia berhalangan, seolah ada sesuatu yang tidak terhadirkan. Sebenarnya, saya dan bahkan tante saya sendiri pun menyayangkan, kenapa dia masuknya mahad X tadi. Tapi tak apalah, bukankah tak bermasalah jika sama-sama menimba ilmu agama, pikir kami. Dan juga, hawa mahad ‘hidup mulia’ insyaAllah bisa mewarnai langkahnya untuk tidak tergesa.

Tentang si B, mungkin tiada banyak kisah yang bisa saya ceritakan. Karena meski belum layak dikatakan berakhlaq Al Quran sempurna, tapi setiap amalnya selalu membuat saya terkesima. Kaana amruhaa ‘ajaban, mungkin itu agak bisa mewakilinya.

Oh ya terlupa. Semenjak lulus dari jenjang SMP bulan lalu, mereka berdua memutuskan untuk meningkatkan kualitas berpakaian mereka. Memang sudah syar’i sebelumnya, tapi mereka menambahkan cadar untuk lebih menjaga taqwa. Bercerita tentang mereka, sebenarnya mereka tak layak untuk dianalogikan sebagai ulat yang bermetamorfosa. Karena mereka telah menjadi kupu-kupu, sebelum meringkuh dalam kepompong untuk bermetamorfosa lebih indah dari sebelumnya. Mungkin dari situlah saya terinspirasi memberi judul artikel ini, kupu-kupu sebelum kupu-kupu. Barakallahu fiihimaa.

Sebenarnya saya malu bercerita tentang kedua sosok ini di sini, karena jujur saya begitu banyak menimba ilmu dari mereka. Saya bersyukur, pernah bertemu dengan kedua sosok ini, karena mungkin setelah ini, akan susah bagi kami untuk berinteraksi kembali. Bagaimanapun, kami bukan mahram kan? Sebenarnya juga ada beberapa yang lain yang juga punya cerita, hanya karena keterbatasan saya ndak sampaikan semua. Saya berharap, jika calon istri saya kelak saat ini membaca artikel ini, mohon kelak ingatkan saya untuk menyambung tali silaturahmi dengan mereka. Jangan berburuk sangka juga ya. Hehe.

Semoga cerita di atas bisa memberi kita motivasi. Saya hanya menitip doa bagi kebaikan saya, kalian semua, dan terutama mereka kedua. Semoga Allah selalu mengilhami kita jalan yang Dia ridhoi. Semoga kita diberi keistiqomahan untuk meniti ‘jalan lurus’ ini. Wallahu a’lam bish showab.

Klaten, 12 Syawal 1436 H
Huda S Drajad

Sang Pengandung Kalam Mulia

23/07/15

“Asyrofu ummati Hamalatul Qur’ani wa ashhaabul lail”. Sebaik-baik golongan dari umatku adalah mereka, para penghafal Al Qur’an dan ahli qiyamul lail.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZkAuVJaoNT2gkeSt2du1_vn7uiyIygtbUf2CIrQ7vI9RbI7D111gdQEiseqoTZaD5rqN5kNmX-uTcjYXj5fab7kjGpBEZLajwYI9JPaDjuENLpPykKAOOb_tEgDXzXuAWdeFnyVRL2jA/s1600/Metode+Sederhana+Menghafal+Al-Qur'an+Bagi+Orang+Sibuk.jpgBagi sebagian ikhwah yang berkonsentrasi dalam menghafal Al Qur’an, mungkin ada yang menjadikan hadist ini sebagai motivasi. Ada yang menempelnya di dinding kamar, di pintu lemari, atau mungkin di mushaf yang dengannya sering berinteraksi. Hadist ini sering mengingatkan di kala futur menghampiri. Memberi pencerahan dan menggugah jiwa untuk bangkit kembali.
Sebenarnya, kalau kita mau memperhatikan, ada redaksi unik dalam penyebutan ‘penghafal Al Qur’an’ dalam hadist Rasulullah tersebut. Rasulullah menyebut mereka yang mulia dengan hamalatulQur’an, para pengandung Al Qur’an, bukanhuffazhulQur’an. Ada suatu indikasi, yang layak bagi kita untuk meninjaunya kembali
.
Kalau kita tengok sejarah, zaman dahulu gelar alhafizh sebenarnya disematkan kepada mereka yang mampu menghafal ratusan ribu hadis, Ibnu Hajar contohnya. Dan kita pun telah akrab dengan julukan nan agung itu, AlHafizh Ibnu Hajar Al-Atsqoilani. Sungguh, ternyata ada begitu banyak makna yang terbiaskan di sekitar kita.
Rasulullah menyebut para penghafal Al Qur’an sebagai para pengandung Al Qur’an, bukan sekedar penjaga, karena –wallahu a’lam- seorang pengandung akan lebih berhati-hati dengan kandungannya. Ia akan terus memperhatikannya siang dan malam. Hatinya pun juga selalu memikirkan apa yang ia bawa, karena sungguh ia tiada ingin semuanya berakhir sia-sia, atau bahkan berujung nestapa.
Hammalatul Qur’an, seolah mengisyaratkan bahwa Al Qur’an adalah sesuatu yang harus ia jaga sepanjang hayatnya. Selayaknya bagi mereka untuk mencukupi asupan gizinya dengan terus mengulangsecaraberkesinambungan dan mengamalkannya dalam keseharian. Selalu ia jaga kandungan itu dengan vaksin keikhlasan, agar tiada berakhir dengan sesalan. Dan di akhir, ia berupaya untuk terus melahirkan generasi pembaharuan, yang rabbani lagi berakhlaq menawan.
Maka sungguh, adalah sebuah keanehan saat seorang yang mengandung Al Qur’an dalam jiwanya, tetapi dia masih terpukau dengan rumah yang megah. Sungguh, adalah suatu kemirisan tatkala seorang yang diberi amanah kalam Sang Kholik Yang MahaMulia, tetapi dia tersilaukan dengan dengan kendaraan yang mewah. Sungguh, adalah sebuah kesedihan ketika seseorang yang dijuluki asyrofu ummah, bahkan ahlullahiwakhosshotuhu, tetapi kebeningan hatinya mudah terhijabkan oleh gemerlap dunia dan perhiasan yang indah.
Bukan kesalahan untuk memilikinya, akan tetapi terlalu naif apabila semua hal itu dijadikan tujuan semata. Sungguh menjadi seorang hamilulQur’an adalah karunia tiada terhingga, nikmat yang tiada tara, yang memuliakannya di akhirat dan di dunia.Dan juga harus selalu kita ingat bahwasetiap amal yang bernilai tinggi bisa menjadi bumerang saat hati diniatkan bukan untuknya lagi. Sungguh, niat begitu penting, dan menentukan seberapa tinggi derajatnya di hadapan Sang Pemberi rizqi.
Hadits itu begitu masyhur. Ketika di hari kiamat kelak seorang Qari akan dihadapkan di depan Rabb-Nya. Ditunjukilah nikmat padanya yang terkarunia di dunia. Ia pun mengakuinya. Lalu ditanyalah ia oleh Sang Pemberi Karunia, “Amal apakah yang engkau kerjakan dengan nikmat-nikmat itu, wahai hamba-Ku?”
“Ya Rabb, sesungguhnya daku membaca Al Qur’an, mempelajari, dan mengajarkannya semata-mata hanya untuk-Mu.”
“Dusta, engkau belajar Al Qur’an hanya agar dikata engkau alim di antara manusia. Dan engkau membaca Al Qur’an semata-mata hanya agar engkau dikata sebagai seorang Qari’ oleh mereka. Engkau telah mendapatkannya, dan memang begitulah yang dikata manusia tentang dirimu.” Kemudian diperintahkanlah Malaikat untuk menyeret dan melemparkannya ke neraka.
Astaghfirullah. Maka kita harus lebih berhati-hati lagi, menjaga hati ini. Menjaga segumpal daging ini agar terus lurus menetapi jalan Ilahi. Selayaknya kita takut, karena sesungguhnya dalam hadist lain Rasul nan Mulia pernah bersabda, “kebanyakan munafik dari ummatku adalah para Qari’ mereka”
Ya Allah, kami berlindung pada-Mu dari perbuatan syirik yang nista. Maka, selayaknya bagi kita untuk terus mengulang hadist yang termaktub di akhir doa pertama dari kumpulan doa khotmilQur’an. “Waj’alhu lanaa hujjatan Yaa Rabbal ‘Alamin”. Duhai Rabbi, jadikanlah dia hujjah bagi kami.
Laa haula wa laa quwwata illa billah.
(terinspirasi dari tausiyah ustadzana Salim A Fillah)

NB: Artikel ini juga dimuat di majalah Al Huffazh edisi 9, "Al Quran, Bukan Prosesor Biasa"

ketika UN kelar

02/05/15

Beberapa hari yang lalu, aku dan berjuta pelajar di Indonesia udah kelar dari UN. Kayak orang ketiban duit kertas runtuh -karena durian runtuh terlalu mainstream dan juga menyakitkan-, rasanya tuh sesuatu banget.

Berbicara tentang UN, berarti kita berbicara tentang pelajaran, tentang log dan bagaimana bentuk inversnya, tentang Fasciola Hepatica dan di mana fase Mirasidiumnya, tentang radioaktif dan untuk apakah ia, dan tentang toluena dan seberapa besar cintaku padanya. Oke, aku rada ngelantur.

Hidup sebenarnya indah, seindah sekolah 3 tahun yang ditentukan dalam 3 hari. Dan sayang keindahan itu kini sirna. Dan kita patut bersyukur, meski keindahan itu telah tiada, namun kita masih bisa mencecap manisnya. Masih ada kok kabar bahwa soal UN bocor di beberapa daerah, tentang kabar UN mau diulang, dan kabar bahwa sebagian siswa tidak bisa mengerjakannya. Manis kan?

Kenapa manis? Yah, semua hal itulah yang bakal kita rindukan suatu saat nanti, ketika mungkin kita diberi kesempatan menginjakkan kaki di luar negeri jauh dari ibu pertiwi. Ketika mungkin suatu saat hidup akan menjadi membosankan, dimana saluran televisi kehabisan bahan untuk diberitakan, hingga kita selalu bangga untuk berkata, “Indonesia tanah air beta, pusaka abadi tak jaya.”

Nah, dari berjuta pelajar di Indonesia, berjuta pula ekspresi mereka setelah kelar dari UN. Ada yang langsung sujud syukur, ada yang berkemah, bercengkrama, dan bertadabbur alam, ada pula yang langsung kembali ke kota kelahiran, bertemu sanak saudara dan berkesempatan untuk berbakti kepada kedua orang tua. Eh, itu anak-anak pasukan langit ding :P

Ada mereka yang biasa-biasa saja, keep calm and simple, ada mereka yang berbahagia karena bisa berlibur kemana saja, tapi yang menyedihkan, ada mereka yang terjatuh setelah mendaki begitu tingginya. Miris banget, waktu tahu ada sekelompok pelajar di Kendal berzina ria setelah UN selesai, dan lebih miris waktu lihat video splash after class, wew, sekelompok pelajar ngajak pesta bikini. Sayangnya, acaranya dibatalkan. Padahal aku pengen ikut loh, eh.

Beberapa dari kami pun terlena loh, seolah-olah UN selesai berarti perjuangan selesai. Padahal enggak kan coeg? Misalnya, masih ada tugas buat daftar di PTN idaman. Belum lagi perjuangan pas kuliah kelak, perjuangan buat skripsi, perjuangan mencari nafkah, perjuangan menikah, dan perjuangan-perjuangan selanjutnya.

Kalau mau sedikit merenung, sebenarnya hidup hanyalah kumpulan dari ujian-ujian dan perjuangan. Dan UN, hanyalah satu keping kecil dari rangkaian puzzle kehidupan. Aku jadi teringat pesan Syaikh Abdul Karim ketika tahsin surah Al Balad. Inna kholaqnal insaana fii kabad. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam keadaan berpayah-payah. Maksudnya, emang udah fitrohnya manusia buat berpayah-payah, gak ada waktu buat berfoya-foya, buat berleha-leha, buat berlena-lena. Ada banyak PR yang belum terselesaikan.

Ahh, beta terlalu banyak bercakap, takutnya malah tak bermanfaat. Semoga Allah memberi hidayah, untukku, untukmu, untuknya, untuk mereka, dan untuk kita semua

Klaten, Rajab 1436 H

Al faqir ilallah

Huda S Drajad

Ternyata dia dari negara adidaya

26/01/15

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPwGvBRYiguqiXOFP00HuNm32RXvUotIksvuYEg-TksLeRxyZxwrh91W0gSGR1wgn3NjM1C46_V4MW92F9r1tj_g6jZkQHeBUH-bwjHwGNj6JhFCP73eg2KW_f1EA9C51uEcTlL2pLCUc/s320/Image1019.jpg
Beberapa waktu yang lalu, aku pernah blogwalking ke blog seseorang yang sedang belajar filsafat. Isinya subhanallah, bikin aku miris. Entah dia yang salah pemahaman atau aku yang agak gimana, tapi pokoknya banyak hal yang dia tulis bertentangan dengan prinsip yang aku pegang.

Inti dari tulisan beliau adalah, esensi dalam Islam lebih penting dari kulitnya. Misalnya, kita nggak harus berkopiah dan bersurban, untuk menjadi seorang yang baik budi lagi akhlaknya. Yang penting hati baik, kalau masalah penampilan dikembalikan ke setiap pribadi. Bagi beliau percuma, orang yang mengaku Islam, berwajah Islam, bersimbolkan Islam, tapi kelakuannya tak mencerminkan Islam sama sekali... Mendingan semua simbol yang ia kenakan dicopot. Dan aku pun cuma bisa mengelus dada. Dari manakah pemahaman seperti ini sebenarnya muncul?
   
Kalau secara pemahaman dangkalku sih, mereka mendapatkan hal itu karena mereka mencari referensi dari peradaban yang salah. Kalau logika sederhana, nggak mungkin kita belajar memasak makanan Eropa kepada Chef makanan Arab iya kan? Kalau masih dibantah, mungkin aku ingin mengingatkan sebuah kisah yang sering dilupakan atau mungkin emang nggak diketahui oleh kaum muslimin di masa ini.

Adalah saat itu Amr bin Luhay, seorang yang dianggap alim dan tokoh religius di masanya. Semua masyarakat Quraisy zaman itu menaruh hormat padanya. Suatu ketika, beliau berkunjung ke Imperium Persia yang dianggapnya maju. Ia yang udik melihat kaum yang maju secara peradaban itu menyembah berhala. Maka, dia ingin membawa budaya baru itu ke tanah aslinya, karena menganggap mungkin itu adalah alasan kenapa mereka bisa memajukan peradaban.

Akhirnya kembalilah Amr bin Luhay ke kaumnya dan membawa cara menyembah jenis baru tersebut. Kemudian digali dan dicarilah patung-patung dan berhala lama yang telah tertimbun dalam pasir. Akhirnya dimulalah masa itu, masa dimana mereka menyembah sesuatu yang dijuluki Allah, laa yadhurruhum wa laa yanfa’uhum. Tidak membahayakan lagi tidak memberi manfaat.

Tapi kita tahu bahwa tiada sekalipun kaum Quraisy maju dengan cara bersembah baru itu. Kita tahu, setelahnya mereka terus terkungkum dalam masa yang kelam, yang mendewakan nafsu kebinatangan, yang mudah berperang hanya karena masalah yang sepele, yang terkungkung oleh fanatisme kesukuan yang semu dan menipu, hingga datanglah Islam, menjadikan mereka memiliki peradaban yang tinggi dan menoreh tinta emas dalam sejalah perjalanan hidup manusia.

Bisakah Amr bin Luhay kita samakan dengan tokoh-tokoh liberal di masa ini? Mereka mengaku sebagai ‘cendekiawan’, mereka adalah orang yang dianggap sebagai tokoh-tokoh pemimpin religius, sosok pemimpin spiritual, yang mengaku tinggi dan beradab karena mempelajari Islam di tanah yang sekarang menjadi negara Adidaya. Aku takut, bersebab mereka Allah semakin menghinakan kita sebagaimana hinanya kaum Quraisy jaman dahulu.

Ahh, sungguh mereka memang orang yang sulit untuk diajak berbicara dengan nurani. Mereka selalu melawan dan mengecam kotak pengkotakan, meski kadang merekalah yang mengkotak-kotakan hal itu sendiri. Ahh, sungguh, merekalah orang rumit yang suka merumitkan masalah mudah. Ahh sungguh, hanya kepada Allah kita memohon semoga Dia memberi hidayah kepada kita semua.

Karangpandan, 6 Rabi’ Ats Tsani 1436H
Huda S. Drajad

Tentang sukses yang kita cita

05/12/14

Ketika yang lain masih tersibuk dengan buku dan catatan
Kuberingsut menarik diri dari keramaian
Ada kalanya ikhtiar kita henti
Dan kita ganti dengan doa dan puji

Kau pandangku dengan cinta
Kau berfikir aku bisa
Kau berfikir aku menguasainya

Maka senyum manis coba kupatri
Agar kau memahami
Bahwa bukan itu yang terjadi akhi

Karena aku menyadari
Bahwa sukses yang kita citakan
Tiada semata pada usaha dan perjuangan
Ataupun letih dan kepayahan

Karena aku meyakini
Ia terselip pada rengek yang kita ucap
Pada mushaf yang dengan erat kita dekap
Pada derai linangan di malam gelap
Dan simpuh di hadap-Nya saat manusia terlelap.

Karena aku mengakui
Aku lemah, maka aku berharap pada-Nya
Aku bodoh, maka aku meminta pada-Nya
 Aku kerdil, maka aku berlindung pada-Nya

Maka aku mendekap Rabbku
Bersebab jahil dan hina-Nya diriku

Kampung 2 Menara, 12 Shafar 1436H
Teruntuk sahabatku #PasukanLangit, yang ingin mengetahui cara yang kuupaya:)
Huda Syahdan

We'll miss this moment :')

Guruku, Pahlawanku

20/11/14

10 November ditetapkan sebagai hari pahlawan, karena peristiwa agung yang terjadi di Surabaya zaman dahulu. Adalah saat itu, Bung Tomo memimpin kaum pribumi melawan kaum londo yang menirani. Dan terukirlah kalimat yang menyejarah itu, merdeka atau mati, “Isy Karima au Mut Syahida”.

Setiap dari bangsa mempunyai pahlawan, begitu pula ibu pertiwi. Ya, Indoneisa mempunyai berjuta pahlawan, dari yang terkenal mendunia hingga yang menjelata di desa-desa. Ada Tuanku Imam Bonjol dengan perang paderi-nya hingga Pangeran Diponegoro yang dengan perang gerilya-nya mampu menggentarkan Belanda. Tapi ada pula, bahkan bejibun jumlahnya, mereka yang tiada pernah tertulis nama, tapi para generasi penerus masih mewarisi karya.

Sayang, dewasa ini banyak orang yang melupakan jasa-jasa mereka. Meski tak mesti sosok-sosok mereka diabadikan sebagai patung di jantung keramaian. Tak perlu pula nama mereka diabadikan menjadi nama-nama jalan. Tidak, bukan itu yang mereka inginkan. Karena sungguh, bukanlah ketenaran yang mereka citakan.

Dalam berjuang, yang mereka inginkan hanyalah agar anak cucu, agar para generasi penerus melanjutkan perjuangan yang telah mereka mulakan. Mereka hanya ingin bangsa ini maju, menjadikannya negeri yang makmur sentausa, gemah ripah loh jinawi, terberkahi dalam setiap jengkal tanahnya. Itu cukup.

Maka benarlah istilah yang diungkapkan oleh sang bapak Proklamator Indonesia, Ir Soekarno, “JAS MERAH”, jangan sampai melupakan sejarah. Janganlah kita lupa, bahwa negeri ini ada berwasilah dengan jasa para pahlawan.

Di sudut yang lain, ada pahlawan lain yang tiada masyhur. Mereka tiada diberi gelar pahlawan berdasar SK Negara. Jalan-jalan juga tiada dinamai dengan nama mereka. Dan makam mereka pun berbaur dengan rakyat lain dengan bersahaja. Merekalah guru, pahlawan tanpa tanda jasa.

Entah kenapa di hari pahlawan, jasa-jasa mereka jadi sering terlupakan. Dan julukan itu pun seolah menguap ditelan zaman. Bahkan, martabat guru kini semakin direndahkan, dipandang sebelah mata, dianggap sebagai pekerjaan yang tiada bermanfaat di dunia.

Tapi ada juga fenomena yang berkebalikan dari semua itu. Ada segolongan manusia yang lain, yang menganggap guru adalah ranah yang prospek untuk mengeruk kekayaan di dunia. Etos kerja dikesampingkan, sehingga substansi guru yang seharusnya digugu lan ditiru pun jadi terlupakan. Begitu banyak pengajar yang sibuk mencari sertifikasi, hingga teralihkan dari tugas mereka untuk mengajar para siswa dan siswi.

Maka, bukan 100% salah para siswa, jika banyak dari mereka yang melakukan perzinahan di usia belia, lha wong guru-gurunya aja banyak yang selingkuh, bahkan beberapa malah mengajak berhubungan badan dengan muridnya. Maka, tidak bisa disalahkan para siswa, jika akhlak mereka tiada terperi, lha wong gurunya aja nggak bisa memberi contoh banyak lagi.

Sungguh memasygulkan.

Dan kalau berbicara tentang pahlawan tanpa tanda jasa, aku selalu teringat dengan ustadz, guru, dan pengajar-pengajarku di ma’had. Bagiku, merekalah pahlawan yang sejati. Sosok-sosok inspiratif yang rela mengorbankan waktu dan tenaga, hanya untuk mengajar kami, santri-santri yang kadang (n)dablek.

Sungguh, perjuangan mereka begitu mengharukan. Ketika banyak guru yang mengejar gaji dalam mengajar, mereka rela diberi gaji yang tidak banyak, bahkan mungkin sedikit. Seorang ustad pernah berkata ketika mengajar, “kalau seandainya saya hanya mencari dunia, saya tidak akan mengajar di sini. Karena sungguh yang saya temukan di sini adalah barakah, kebahagiaan, dan ketentraman.”

Ustadzana Joko tercinta, mengajari betapa cantik matematika
Ada juga ustadz ustadz yang sebenarnya udah PeWe dan mempunyai posisi yang nyaman di sekolah induk mereka, tetapi mereka rela mengorbankan waktu di akhir pekan mereka, untuk mengajari kami. Dan sayangnya, kami yang diajar kadang kurang memperhatikan, bahkan lebih memilih tidur atau bermain PES di tengah pelajaran. Ya Rabb, ampunilah kami.

Dan bahkan, ada asatidzah yang menempuh jarak puluhan kilometer, menembus gelap dan dinginnya malam, hanya untuk memberi bimbel, tambahan pelajaran kepada kami di malam hari. Begitu bersemangat mereka mengajar, meski kadang kami yang datangnya terlambat dan dengan wajah yang kurang bersemangat. Ya Allah, ijzaahum khoiron mimma aatau
.
Maka terkadang aku berpikir, bahwa sebenarnya ilmu hakiki yang kudapatkan dari mereka bukanlah ilmu eksak atau apa yang menjadi spesialisasi mereka. Sebenarnya, ilmu hakiki yang kudapat dari mereka adalah tentang adab, semangat, dan bagaimana kita berusaha ikhlas di segala lini hidup kita. Semoga Allah selalu memberi keistiqomahan kepada kita dan mereka. Amin.

Klaten,  29 Muharram 1436 H
Huda Syahdan

Taat meski Berat

13/11/14

Ada beberapa orang yang paling malas jikalau harus berbuat taat. Taat kepada orang tua, taat kepada ayah bunda, atau mungkin taat kepada mereka yang telah mengasuh dan membesarkan kita. Oke, ketiga tadi artinya sama -_-. Maksudku taat dari segala sisi, dari segala bentuk, dan dari siapapun jua.

Teman-temanku merasakan betapa beratnya ujian ketaatan tersebut. Seharusnya pagi ini, mereka berada di Gelora Bung Karno, mengikuti jalannya wisuda akbar ke-5 yang dihadiri oleh Syaikh Misyari Rosyid Al Afasy.

Saat itu, bayangan mereka untuk melihat Syaikh Misyari secara langsung terasa begitu dekat. Tiket kereta api pulang pergi Solo-Jakarta udah dibawa. Tiket masuk GBK juga udah. Bahkan, udah buat kartu pers resmi dari multimedia ma’had, biar bisa melihat sang syaikh lebih dekat. Tapi apa daya, meski sudah mengantongi izin dari madrasah dan kesantrian, ternyata ada salah satu ustadz yang melarang.

Semua usaha udah dilakukan. Melakukan negosiasi ulang, melobi, bahkan mungkin bisa dibilang mendebat ustadz yang bersangkutan. Tetapi beliau tidak bergeming. Dan akhirnya, teman-temanku tersebut batal berangkat ke Jakarta.

Sempat terbesit keinginan untuk tetap berangkat dan kabur, itu yang mereka rasakan. Tapi niat itu buru-buru mereka urungkan. Mereka takut perjalanan mereka justru tidak diberkahi. Ya Rabb, ijzaahum khoiron minhu.

***
Pernahkah kalian mengalami keadaan seperti di atas? Mempunyai sebuah rencana yang matang, mempunyai sebuah planning yang indah tapi nggak jadi dilaksanakan karena nggak dapet izin? Entah dilarang orang tua maupun orang yang berkedudukan di atas kita. Pasti nyesek. Tapi apa yang kalian lakukan, tetap bertahan dalam ke-nyesek-an, atau melanggar larangan?

Pilihan yang begitu berat.

Tapi sungguh, kalau kita telisik cerita-cerita dalam Al Qur’an, ternyata saat-saat seperti ini pernah terjadi. Saat-saat bilamana ketaatan diiringi dengan ujian, tetapi tetap harus dilaksanakan. Saat bilamana ketaatan adalah hal yang harus diutamakan. Allah mengisahkan dalam Al Qur’an, seakan menandakan bahwa perkara seperti ini bakalan sering terjadi dalam kehidupan. Allahu akbar.

Mari kita buka surah Al Baqoroh. Di halaman terakhir juz 2, terpatrilah kisah yang agung itu. Di halaman sebelumnya, Al Qur’an menceriterakan bagaimana kelakuan Bani Isroil sepeninggal Nabi Musa, yang memohonkan sesuatu yang diragukan oleh Nabi mereka. Tapi mereka bersikeras, hingga akhirnya Allah akhirnya memilihkan Tholut untuk memimpin mereka, berjihad menegakkan kalimat-Nya. Tapi kita tahu, pada akhirnya tiadalah menyertainya kecuali sedikit dari mereka.

                Lalu, sampailah mereka di tepi sebuah sungai. Begitu jernih air yang mengalir, mengundang setiap pribadi untuk melihat keelokannya. Begitu jernihnya ia, seolah menggoda setiap hamba untuk berkecipak bermain dalamnya, meminum darinya dan melepaskan dahaga.

                Keadaan yang lelah setelah perjalanan yang jauh, membuat siapapun yang berada di sana saat itu, semakin berhasrat untuk segera meminumnya. Tapi sang komandan menyergah mereka, “Sungguh, Allah ingin menguji kalian dengan sungai ini. Maka, tiadalah termasuk dari pasukanku apabila ia meminum airnya, kecuali hanya sebanyak tangkupan di tangannya.”

                Maka, tiadalah terasa dari kelompok yang sejak awal memang sedikit itu, kecuali segelintir orang saja. Tholut pun meneruskan peperangan bersama kelompok kecil itu. Dan akhirnya, kita bisa simak di Al Qur’an, “ Fa hazamuuhum biidznillah”. Maka binasalah Jalut atas kehendak Rabb semesta. Allahu akbar.

                Setiap kali kisah ini disinggung saat SAPALA, aku jadi tersadarkan dari niat yang menyimpang. Biasanya, serampung makan pagi, kami berusaha mencuri-curi kesempatan mencari kran, dan meneguk sedikit air darinya. Tapi, sebakda ditahdzir dengan ayat ini, kami jadi tersadar. Ketaatan itu paling utama, karena keberkahan akan amal bergantung padanya.

                Kita tentu sering mendengar cerita tentang perang Uhud. Pada perang tersebut, meski pada hakikatnya kaum Muslimin memperoleh kemenangan, tapi pada dzahirnya mereka dikalahkan oleh kaum musyrikin. Adalah Khalid bin Walid yang ketika itu belum berIslam, yang memporak-porandakan kaum Muslimin. Akhirnya, korban pun banyak berjatuhan.

                Dan musababnya adalah adanya pasukan dari kaum Muslimin yang tidak mengindahkan perintah. Mereka regu pemanah meninggalkan bukit yang seharusnya mereka jaga karena ingin mengumpulkan ghanimah sebagaimana sahabat lainnya. Dan dari bukit itulah Khalid bin Walid melancarkan serangan balasan.

                Begitulah. Maka, pantaslah Rasulullah mewanti-wanti kita dengan wasiatnya yang mulia; “Ushikum bitaqwallah wassam’i waththo’at.” Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar, dan menaat. Meski pada seorang budak Habsyi, meski ia berkulit hitam nan legam.

Ya Rasulallah, sami’naa wa atho’naa

Karangpandan, 1 Muharram 1436H

Suasana Wisuda Akbar 5

*Pada akhirnya, kami mendapat kabar dari salah satu ikhwah yang bisa merapat ke GBK, bahwa Syaikh Misyari membatalkan kunjungannya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Meski Terasa Pahit

16/10/14

Qulil haqqo walau kaana murron
Katakanlah kebaikan, walau kan dirasa kepahitan

                Aku yakin, pasti kalian udah pada pernah hafal mahfuzhot di atas (itu mahfuzhot atau hadist :D). Sejak Mts, atau mungkin malah sewaktu masih ngaji di madrasah diniyah semasa SD dulu, pasti kita udah dikenalkan dengan kata mutiara itu. Katakanlah kebenaran, walau terasa pahit.

                Pahit di sini bisa terasa bagi kedua belah pihak, baik yang mendengar maupun yang mengucap. Dan tentunya yang kedua lebih sering merasakannya. Dan harus selalu kita yakini, bahwa kebenaran tetaplah kebenaran. Sekalipun ia diringi rasa pahit, ia akan diganjar dengan kebaikan oleh Sang Penguasa Langit. Sekalipun ia sepat, ia akan membawa kebahagiaan kelak di akhirat.
***

                Salah satu kisah yang telah masyhur adalah kisah Ka’ab bin Malik. Kisah yang dialami oleh sahabat yang dijuluki Rasulullah penyair ini begitu mulia dan menyejarah. Ia merasakan kepahitan setelah mengatakan kebenaran. Dan pada akhirnya ia mengetahui, betapa manis apa yang ia cecap setelahnya.

                Adalah saat itu, ketika Rasul mengabarkan kepada para Sahabat untuk berjihad –padahal beliau biasanya merahasiakan peperangan-, tanaman-tanaman di Madinah sedang subur-suburnya, dan buah-buahnya sedang ranum-ranumnya. Di perang terakhir yang dipimpin langsung oleh Rasulullah tersebut, Ka’ab bin Malik sebenarnya mampu dan berada dalam kondisi yang paling kondusif untuk berperang. Saat itu, Ka’ab juga telah membeli hewan tunggangan.

                Sayang, Ka’ab terlalu asyik dengan kebunnya, hingga dia tertinggal untuk berangkat berjihad. Lalu, berkatalah ia dalam hati, “besok, aku akan ke pasar untuk membeli perbekalan, dan berangkat menyusul mereka.

                Keesokan harinya, ia pergi ke pasar, dan sayang, ia tak berhasil menemukan apa yang diinginkannya. Pergilah Ka’ab ke pasar di hari berikutnya, dan ia dapatkan keadaan yang sama. Berlangsunglah hal itu berhari-hari, hingga akhirnya ia tidak mengikuti peperangan tersebut.

                Lalu, Ka’ab berjalan-jalan di sekitar pasar Madinah, dan tidak didapatinya orang yang tetap tinggal, kecuali mereka yang telah dicap sebagai munafik. Jumlah mereka 80 orang lebih dan mereka merasa tidak diketahui, tersebab banyaknya orang yang tidak dikenal.

                Sekembalinya Rasulullah dari perang tersebut, Ka’ab memikirkan cara untuk meredam amarah beliau. Ditemuinya sanak dan famili untuk bertukar pikiran tentang alasan yang akan ia kemukakan setibanya Rasulullah tiba di Madinah.

                Dhuha itu, Rasulullah memasuki masjid. Seusai melaksanakan sholat Dhuha, beliau lalu duduk-duduk di dalamnya. Kemudian, satu per satu orang yang tidak ikut berperang mendatangi Rasulullah, menyampaikan berbagai alasan, setelah didahului dengan sumpah. Lalu Rasulullah beristighfar, menerima lahir mereka dan menyerahkan yang batin kepada Allah.

Lalu sampailah pada giliran Ka’ab bin Malik. Ditanyailah ia oleh Rasulullah,
“Bukankah kamu telah membeli unta, yang bisa kau tunggangi?”
“Benar ya Rasulallah”, jawabnya mengiyakan.
“Lalu kenapa kau tidak mengikuti perang ini?”, tanya beliau lagi.

                Dijawablah ia dengan jawaban yang sungguh menakjubkan, dan layak untuk kita pelajari dan teladani.

                “Wallahi, Demi Allah. Andaikan bukan Engkau yang berada di hadapanku wahai Rasulullah, tentunya aku bisa menyampaikan alasan, dengan kepawaian lidah yang telah Allah anugerahkan untukku, sehingga amarahnya bisa ku padamkan. Namun, aku menyadari seandainya aku berkata benar sekarang, meski itu mebuat engkau berang, aku berharap Allah akan mengampuninya. Dan seandainya aku menyampaikan kedustaan, meski hal itu membuat engkau senang Ya Rasulallah, pasti Allah akan mengungkapkan segala kebohongan. Ya Nabiyallah, sungguh aku berada pada posisi yang paling memungkinkan untuk berperang.”

                Kemudian Ka’ab disuruh Rasulullah untuk berdiri. Lalu, sebagian besar kaum Muslimin yang berada di sana, menyalahkan Ka’ab, “demi Allah, belum pernah kami melihatmu melakukan dosa sesuatupun. Mengapa kamu tidak menyampaikan alasan sehingga beliau memaafkanmu dan beristighfar untukmu?” Mereja terus menyalahkannya hingga hampir-hampir ia menarik kembali perkataannya, andaikan ia tidak tahu bahwa Hilal dan Umayyah dan Muroroh binti Rabi’ah mengatakan hal yang sama.

                Kemudian Rasulullah melarang kaum Muslimin untuk berbicara dengan mereka bertiga. Setelahnya, perlakuan orang-orang berubah, seakan-akan tidak pernah mengenal mereka. Bumi seolah menjadi sempit dan sesak di dada mereka. Salam mereka tidak dijawab. Senyum mereka tidak dibalas. Sapaan mereka tidak ditanggapi.

                Akan tetapi, Ka’ab tetap yakin di atas millah ini. Bahkan, ketika diajak Raja Ghossan untuk bergabung dengan mereka pun, ia tidak menggubrisnya. Ka’ab juga tetap berusaha sabar, meski ketika telah berlalu 40 hari dan dia harus berpisah dan ditinggal sang istri. Sungguh, saat itu beliau merasakan kesempitan yang begitu menyesakkan, sebagaimana yang Allah gambarkan dalam Al Qur’an. Dhoqot ‘alaihimul ardhu bimaa rohubat wa dhooqot ‘alaihim anfusuhum.

                Lalu, tibalah hari itu, hari ketika ia mendengar seruan dari puncak gunung Sal’, “Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

                Ka’ab langsung bersujud dan mengetahui bahwa Allah telah memberikan jalan keluar untuknya. Kemudian diberikanlah pakaiannya kepada sang pemberi kabar gembira tersebut. Setelahnya ditemuilah Rasulullah.

                Saat itu, beliau sedang duduk di masjid dan dikelilingi oleh para Sahabat. Wajah beliau saat itu bersinar, menampakkan cahaya kebahagiaan. Ka’ab lalu mendekat dan bersimpuh di hadapan beliau. Lalu berliau bersabda “Ka’ab bin Malik, bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah engkau lalui sejak dilahirkan ibumu.”

***
                Hari itu, bersyukurlah Ka’ab bin Malik atas kejujuran yang ia junjung. Terpujilah namanya di bumi dan di langit. Dan abadilah kisahnya dalam Al Qur’an nan mulia, untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yang datang setelahnya.

                Ka’ab telah merasakan, betapa manisnya cecapan kebenaran, meski harus diawali dengan kepahitan. Ia merasakan bahwa akhir yang indah akan diberikan kepada mereka yang menjunjung kejujuran, bukan mereka yang mendustakan. Ia telah menjadi bukti, bahwa tiadalah kebenaran membawa keburukan, akan tetap pahit hanyalah ujian untuk memperoleh keberhasilan.

                Potret kehidupan para salaful ummah memang menakjubkan. Kita merindu pribadi Sa’ad, yang jujur dan berani mengatakan kebenaran. Kita merindu sosok, yang karenanya Allah berfirman, “Ya ayyuhalladziina aamanu ittaqullaha wa kuunuu ma’ash shodiqin”. Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah, dan jadilah termasuk orang-orang yang benar. Allahummaj’alnaa minhum.
inspired from : At Taibuuna ilallah

Klaten, 23 Dzulhijjah 2014
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS