Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Poligami Tidak Menjamin Surga

04/08/15


Dalam belajar, sebenarnya tidak mengenal ruang dan waktu. Banyak ilmu kita dapatkan dari hal-hal kecil di sekitar kita, bahkan terkadang dari disiplin ilmu lainnya.

Suatu waktu, saya pernah diberi pelajaran filosofis kehidupan oleh salah satu guru. Tentang bagaimana pronoun yang bisa berubah bentuk tergantung di mana ia berada. Seperti hidup, kita punya karakter yang harus kita pertahankan, aku tetaplah aku. I am I. Tapi aku juga bisa beradaptasi sesuai lingkungan, seperti I can be mine, me, or myself, tergantung di mana ia berada.

Pun juga dalam pelajaran kimia, ada banyak pelajaran filosofis yang ada. Ketika berbicara tentang atom emas, kita menyebutnya aurum. Dalam keadaan lain, ada kalanya aurum kita ganti dengan aurat. Tak salah kan kalau kita harus menutupi aurat karena ia emas kita? Barangkali saya terlalu mengada-ada, tapi bukankah tak ada satupun kebetulan di dunia, kecuali telah ditakdirkanNya? :D

Salah satu pelajaran yang sering diceritakan oleh ustadz saya selama masih bujang adalah keadaan atom yang tidak stabil saat ia berdiri sendiri. Beliau selalu bercerita bagaimana atom menjadi stabil setelah ia bergabung menjadi molekul atau senyawa. Seperti manusia, yang selalu labil saat ia masih sendiri, tapi menjadi kuat setelah ada seseorang yang menemani di sisi.

Senyawa atau molekul terkadang bukan hanya terdiri dari dua atom saja, seperti molekul air, yang terdiri dari 2 molekul oksigen dan 1 hidrogen. Begitu pula gas propana yang terdiri dari 4 atom C dan 10 atom H. Manusia pun begitu adanya. Terkadang seorang lelaki tak hanya beristri satu, bisa jadi lebih, tergantung kemampuan yang ia punya. Kita begitu mengenal istilah itu, poligami.

Belakangan ini poligami kembali menjadi trending topic, terutama setelah film “Surga yang Tak Dirindukan”-nya Asma Nadia diluncurkan di pasaran. Pun juga artikel dan tulisan Mbak Asma yang menyinggung tentang poligami mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak. Beberapa waktu yang lalu pun saya juga melihat bagaimana sahabat saya beradu argumen dengan salah seorang muslimah. Ya Rabb, barakallahu fiihima.

Saya ndak pengen membahas tentang film itu, soalnya belum pernah nonton. Hehe. Cuma sekedar mengajak menyimak firman-Nya dalam surat An Nur, “nikahilah mereka yang baik untuk kalian di antara perempuan-perempuan, dua tiga, atau empat.”  Barulah setelah itu Allah menutup dengan “dan jika kalian takut tidak mampu berbuat adil, maka satu”. Jelas dalam konteks di atas, perintah yang pertama ialah poligami, baru kemudian jika tidak mampu berbuat adil maka satu saja cukup. Maka, saya pun meyakini, poligami itu lebih utama.

Dari pemahaman tentang ayat di atas lah yang kemudian menimbulkan pro dan kontra, hingga akhirnya banyak orang yang membenci poligami, pada ia adalah salah satu sunnah Rasulullah yang tak layak untuk dibenci.

Mungkin sedikit kita beralih topik berbicara mengenai syariat Jihad. Jihad merupakan puncak tertinggi dalam Islam dan menjadi salah satu amalan terbaik di dalamnya. Allah pun menjanjikan surga bagi siapa yang mati karenanya. Tapi jihad juga berat, bahkan hal itu pun disebutkan Allah dalam Al Quran. Begitu pula poligami, ia berat, butuh pengorbanan, tapi bukankah untuk merengkuh surgaNya membutuhkan pengorbanan tersebut. Poligami bisa jadi seperti jihad, hanya barangkali jika tak berniat untuknya bukan salah satu tanda kemunafikan, berbeda dengan syariat Jihad.

Tapi bukankah ada masanya orang-orang juga dibolehkan untuk tak berjihad jika mereka tak mampu? Seperti poligami juga. Poligami memang utama, tapi bukanlah sebuah celaan bagi mereka yang tak melakukannya. Karena barangkali mereka masih takut jika berbuat tak adil, masih tak mampu menenangkan hati sang istri, masih belum sanggup mengelola gejolak hati. Barangkali pula ia mempunyai sejuta alasan yang menahan untuk berpoligami dan bercukup diri dengan satu bidadari. Ah,sungguh itu bukanlah sebuah kesalahan baginya. Dan dengan satu, barangkali akan menghadirkan rasa surga di rumahnya yang mungkin tak mampu ia rengkuh dengan selebihnya.

Saya masih meyakini, poligami memang utama dan berniat untuk melaksanakannya. Tapi entah, ketika kelak beristri juga apakah ada hal yang ternyata membuat saya hanya sekedar meniatkan, atau benar-benar melakukannya, hanya Allah-lah Yang Mengetahui segalanya. :)

Nah, di sini saya mengingatkan bagi mereka yang mungkin fanatik dengan poligami, tapi tak belajar dahulu sebelum melakukannya. Ingat, poligami ndak menjamin masuk surga loh! WALLAHI, DEMI ALLAH, POLIGAMI TIDAK MENJAMIN SESEORANG MASUK SURGA! Hla wong jihad, menghafal Al Quran, bersedekah aja bisa menyeret ke neraka jika ia tidak ikhlas karenaNya. Iya kan? Hehe. Karena terkadang ada seseorang yang berpoligami hanya menuruti nafsunya dan tak mampu berlaku mulia pada keluarganya. Maka yang ini patut dihindari.

Kesimpulannya, bagi yang mampu berpoligamilah, namun bagi yang tidak, seyogyanya menahan diri dan bercukup dengan satu, demi kebaikan setiap individu.

Semoga tulisan ringan saya ini bisa menjadi pencerahan. Tak ada alasan yang membolehkan kita untuk mencela syariat ini, pun poligami. Karena apa yang Allah tetapkan ialah kebaikan bagi hambaNya, yang barangkali belum diketahui hikmahnya oleh mereka. Pun bagi yang merasa sanggup dan yakin untuk berpoligami, jangan menyalahkan dan menjelekkan mereka yang belum mampu. Bukankah kullan wa’adAllahu husnan? Bukankah setiap mukmin dijanjikan olehNya kebaikan? Ahh, jika saya salah mohon diluruskan. Wallahu a’lam.

Klaten, 19 Syawal 1436H
Huda S Drajad

NB : Bersebab adanya beberapa ikhwah yang ternyata salah paham dalam memahami artikel saya di atas, mungkin video di bawah bisa dirujuk, lebih jelas pembahasannya insyaAllah :) :) Buat para akhwat, yakin kebahagiaan itu adanya pada Allah, bukan pada manusia yak . Dan mungkin sederhananya, poligami itu kebutuhan. Yang ndak butuh ndak perlu diprovokasi, yang butuh jangan dihalangi. 


Kupu-kupu sebelum Kupu-kupu

28/07/15

“Binatang apa yang paling aneh?”.
“Belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam minum susu”
Tebakan tersebut menjadi begitu tersohor di masa kecil saya. Pun juga ketika seorang ibu me-ngliling bayi kecilnya dengan kata legendaris tersebut, ditambah sedikit awalan “pok ame-ame”. Ah, jadi rindu masa ketika memberi hiburan ke anak dengan kata cinta, bukan sekedar gadget yang tak bernyawa.

Tentang kupu-kupu, pasti kita pernah mendengar lirik lagu ini, “persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu”. Entah siapa penyanyinya saya sendiri juga ndak tahu, yang jelas ada salah satu stasiun televisi swasta yang menayangkan sinetron dengan soundtrack lagu ini, yang juga sempat menjadi salah satu topik obrolan kawan-kawan saya di mahad Al Mukmin semasa itu. Saya cuma bisa menyimak tanpa mampu menanggapi, Alhamdulillah saya emang rada kuper. :)

Mengenang masa di pondok emang tiada habisnya, pun bagi saya yang baru purna dari mahad ‘Hidup Mulia’. Masa-masa di pondok ibarat sejarah kehidupan yang perlu dikenang, bersebab di dalamnya sebuah pribadi bermetamorfosa, dari seorang yang mbok-mbokan dan suka dimanja menjadi sosok pasangan-able yang ndak cuma memancarkan akhlak mulia, tapi juga bermanfaat bagi sesama. Seperti ulat yang banyak dilirik jijik, menjadi kupu-kupu yang berwarna ceria. Menebarkan keindahan ke alam semesta. Tak salah mungkin kalau kita mengganti lirik lagu di atas menjadi, “Pesantren itu bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.”

Setiap santri pasti punya kenangan indah tentang kehidupan kepesantrenannya. Dari sejak awal ia masuk, hingga ketika ia berisak mengikrarkan janji untuk berbudi mulia saat wisuda. Namun, izinkan saya bercerita tentang dua orang pribadi, orang yang begitu dekat dengan saya dan telah saya anggap adik kandung sendiri, tentang secuil perjuangan mereka. Perjuangan bermetamorfosa menjadi akhwat yang sejati, yang kelak kan dicemburui para bidadari.

Saya menjadi saksi mereka berdua berkembang semasa SMP. Melihat dari masa masih dipenuhi kepolosan, sampai masa ketika saya harus menundukkan pandangan. Melihat bagaimana mereka menetapi dan meniti jalan ini, hingga mampu berubah menjadi sosok yang layak untuk diceritakan kebajikannya. Sekarang pun, mereka masih terus berusaha berubah, karena saya yakin mereka sadar, jalan hijrah yang kan ditempuh masih panjang.

Sungguh, saya merasa malu, sering dianggap oleh mereka berdua sebagai sosok yang memotivasi, padahal sesungguhnya sayalah yang lebih layak untuk bercermin dan berbenah diri. Izinkan saya berceritera tanpa menyebut nama asli mereka, pun bagi yang tahu dimohon untuk tidak menyebarkan siapa sebenarnya mereka, demi menjaga keikhlasan hati mereka berdua.

Dia yang pertama, anggap saja si A. Dia terlahir dari keluarga pra-sejahtera. Kata orang pun rumahnya mewah, mepet sawah. Tapi semangatnya menuntut ilmu tak tergantikan. Setiap saya taklim ia selalu menjadi juru bicara kawan-kawannya. Mencecar saya dengan pertanyaan yang kadang bisa dikatakan rada nyeleneh, tapi justru berbobot dan menyadarkan. Kalau dia tak ada, masjid pun seolah terasa sepi. Tapi jujur, saya bersyukur bersebab itulah saya sadar, aih ilmu saya masih terlampau sedikit. Dan hal itu pun masih berlanjut hingga generasi berganti.

Purna masa studi di mahad ‘hidup mulia’, saya mendengar kabar yang mengejutkan, lebih tepatnya menggembirakan. “Kak, insyaAllah saya sama si B (sahabat karib si A yang nanti akan saya ceritakan) akan melanjutkan sekolah di pondok. Si B alhamdulillah sudah diterima di mahad X. Kalau saya, doakan biar diterima di mahad Y“. Saya yang menerima kabar itu pun hanya bisa mengamini, seraya berdoa semoga niat mulianya dikabulkan oleh Rabbul Izzati.

Suatu ketika, dia datang ke rumah nenek saya di lereng gunung lawu. Bukan, bukan menemui saya, tapi menemui tante saya yang juga tetangga dia di desa aslinya. Mereka mengobrol lama berdua di ruang tamu, dan saya pun ndak berani menyimak. Obrolan wanita. Beberapa waktu pun saya baru mendengar kabar dari umi, ketika tante saya bercerita. Ternyata sore itu dia menangis, bercerita tentang kendala buat masuk ‘penjara suci’.

Jadi, uminya alhamdulillah, akan dikaruniai buah hati lagi. Tapi dari situlah kegalauan itu bermula. Uminya kini tak lagi bisa bekerja seperti biasa, demi kebaikan janin yang dikandungnya. Dikhawatirkan jika dia bersekolah di pondok, orang tuanya ndak bisa membiayai, dan lebih takut seandainya dipaksa, sekarang bisa masuk tapi nantinya berhenti di tengah perantauannya. Umiya pun menyuruhnya untuk menunda studi setahun dulu, menggunakan setahun itu untuk bekerja, membantu menyokong kehidupan keluarga sambil mengumpulkan tabungan untuk kelanjutan studinya.

Dia kurang setuju dengan yang diinginkan uminya. Bukan, bukan karena niat durhaka. Tapi dia takut ketika ia berkerja sekarang, niat untuk masuk pesantren jadi hilang terpudar. Saya yang mendengarnya langsung terenyuh. Ketika mendengar itu dari umi, saya langsung bilang dengan aksen jawa yang kurang lebih artinya, “Mi, alhamdulillah kan kita diberi rizki agak lebih oleh Allah. Lha uangnya beberapa juga dipakai buat anak asuh kan? Mending beberapa anggaran diarahkan buat membantu si A. Saya kan pernah mengajar dia, insyaAllah semangat dan kepribadiannya baik kok mi.”

Saat itu, saya menyampaikan dengan wajah rada melas. Dan hal itu cuma berani saya sampaikan ke umi, soalnya kalau ke ayah takutnya dikira ada apanya. Alhamdulillah, umi bilang “InsyaAllah, nanti umi sampaikan ke ayah.” Alhamdulillah, akhirnya permintaan saya beliau kabulkan.

Dan Senin kemarin, kami mengantarnya ke mahad atas permintaan salah satu teman karib ayah yang juga kolega mahad Y. Saya pun turut serta, karena mau sekalian mampir ke Magetan, memenuhi beberapa keperluan kuliah. Sesampainya di mahad yang dituju, saya ndak tega lihat kondisinya. Jauh banget dari mahad saya semasa SMP dulu, apalagi sama mahad ‘hidup mulia’. Terpencil dari kota, aksesnya pun jauh dari kendaraan umum. Saya sendiri merasa, ah mungkin kalau saya yang dilepas di mahad ini mungkin ndak bakal betah lebih dari sehari.
Tampak depan mahad yang akan dicintainya

pembangunan mahad yang sampai sekarang masih berjalan

Di sana teman karib ayah menceritakan bagaimana keberkahan mahad tersebut. Tentang kebersahajaan dan kesederhanaannya, yang justru darinya naungan barakahNya tercipta. Meski dengan lauk seadanya, tapi  justru banyak santriwatinya lebih gemuk ketika pulang menikmati liburan. Mungkin segala keadaan tersebutlah yang justru bisa melahirkan para calon ummahat sejati. Ya Rabb, baarik lahunn wa baarik ‘alaihinn.

Sepulang dari sana, saya mendapati cerita lain yang juga membuat saya terharu. Tentang bagaimana si A tadi semasa SMP mengumpulkan uang untuk bekalnya, bahkan ketika libur UN menjadi seorang perawat bayi dadakan selama 2 bulan agar bisa memenuhi mimpinya menuntut ilmu di mahad. Tentang bagaimana dia menjadi yang pertama meminta brosur dan mendaftar, bahkan ketika pendaftaran sendiri belum dibuka. Dan saya teringat tak henti ketika kami hendak pulang, dia mengucap jazakumullah terus. Meski tak memandang langsung, tapi saya bisa merasakan bagaimana terharunya dia. :’( Tapi alhamdulillah mulai hari itu, akhirnya terwujudkanlah mimpinya untuk menjadi seorang santriwati.

Berkisah ke sosok lain, sahabat si A yang belakangan saya ketahui ternyata dia juga saudara sepupunya. Seorang yang bagi saya lebih nyantri daripada seorang santriwati yang sejati. Semasa SMP pun, saya begitu takjub melihat amalnya. Bagaimana dia meski di sekolah negeri masih bisa istiqomah menghafal juz amma, melaksanakan sholat dhuha, dan juga berpuasa. Puasanya pun bukan hanya puasa senin dan kamis, tapi juga digabung dengan puasa dawud. Saya selalu malu, jika membandingkan amal saya dengan amalnya.

Semasa saya ajar pun, si B ini juga hampir selalu hadir. Meski lebih banyak diam, tapi dia seolah menjadi ruh dari halaqoh itu. Ketika dia berhalangan, seolah ada sesuatu yang tidak terhadirkan. Sebenarnya, saya dan bahkan tante saya sendiri pun menyayangkan, kenapa dia masuknya mahad X tadi. Tapi tak apalah, bukankah tak bermasalah jika sama-sama menimba ilmu agama, pikir kami. Dan juga, hawa mahad ‘hidup mulia’ insyaAllah bisa mewarnai langkahnya untuk tidak tergesa.

Tentang si B, mungkin tiada banyak kisah yang bisa saya ceritakan. Karena meski belum layak dikatakan berakhlaq Al Quran sempurna, tapi setiap amalnya selalu membuat saya terkesima. Kaana amruhaa ‘ajaban, mungkin itu agak bisa mewakilinya.

Oh ya terlupa. Semenjak lulus dari jenjang SMP bulan lalu, mereka berdua memutuskan untuk meningkatkan kualitas berpakaian mereka. Memang sudah syar’i sebelumnya, tapi mereka menambahkan cadar untuk lebih menjaga taqwa. Bercerita tentang mereka, sebenarnya mereka tak layak untuk dianalogikan sebagai ulat yang bermetamorfosa. Karena mereka telah menjadi kupu-kupu, sebelum meringkuh dalam kepompong untuk bermetamorfosa lebih indah dari sebelumnya. Mungkin dari situlah saya terinspirasi memberi judul artikel ini, kupu-kupu sebelum kupu-kupu. Barakallahu fiihimaa.

Sebenarnya saya malu bercerita tentang kedua sosok ini di sini, karena jujur saya begitu banyak menimba ilmu dari mereka. Saya bersyukur, pernah bertemu dengan kedua sosok ini, karena mungkin setelah ini, akan susah bagi kami untuk berinteraksi kembali. Bagaimanapun, kami bukan mahram kan? Sebenarnya juga ada beberapa yang lain yang juga punya cerita, hanya karena keterbatasan saya ndak sampaikan semua. Saya berharap, jika calon istri saya kelak saat ini membaca artikel ini, mohon kelak ingatkan saya untuk menyambung tali silaturahmi dengan mereka. Jangan berburuk sangka juga ya. Hehe.

Semoga cerita di atas bisa memberi kita motivasi. Saya hanya menitip doa bagi kebaikan saya, kalian semua, dan terutama mereka kedua. Semoga Allah selalu mengilhami kita jalan yang Dia ridhoi. Semoga kita diberi keistiqomahan untuk meniti ‘jalan lurus’ ini. Wallahu a’lam bish showab.

Klaten, 12 Syawal 1436 H
Huda S Drajad

Selamat Ulang Tahun Cinta

25/02/15

Selamat ulang tahun cinta. Semoga rahmat dan berkahNya selalu tercurahkan kepada engkau. Semoga engkau bisa menjadi wanita sholehah yang bermanfaat bagi Islam, keluarga, dan sanak saudara. Semoga di sisa umur, engkau selalu diliputi cintaNya dan dianungi kasih sayangNya.
Salam sayang, Huda

Kata-kata itu hanya bisa kupendam dalam-dalam. Kata-kata itu hanya kupendam dalam salah satu memoar batinku. Sungguh aku tak mampu dan tak mau mengirimkannya padamu. Biarlah kau tiada tahu, karena aku takut bersebab kata ini, perasaanmu berubah padaku.

Pagi hari aku terbangun dari mimpi indahku. Ku buka hp dan kudapati pemberitahuan menarik di berandaku. Kau berulang tahun hari ini. Dan aku pun tersenyum. Sungguh, aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan ‘barakallah fii umriki’ yang pertama, namun hal itu urung kulakukan. Aku tersenyum, ternyata selama ini aku salah mengahafal tanggal lahirmu.

Aku ingin menjadi yang pertama yang mengucapnya langsung untukmu, meski mungkin aku bukanlah lentera yang paling bersinar di hatimu. Aku ingin bersegera mengungkapkannya, meski mungkin bukan itu yang kau harapkan di hari spesialmu. Tapi lagi-lagi aku tak mampu, dan tak mau untuk melakukan semua itu.

Dan kau tahu, ketika aku mengintip akunmu, kudapati beberapa lelaki memberi selamat atasmu. Kau tahu, saat itu api cemburu membakarku. Ya, aku cemburu. Tapi sekali lagi, tiadapun rasa itu bisa kupermasalahkan, karena kau bukan siapaku, dan aku bukan siapamu.

Aku cemburu dengan kata yang mampu mereka tuliskan, meski kata itu sederhana. Bukan nyanyian, bukan sajak, bukan puisi, tapi hanyalah kata sederhana yang bersahaja. Aku cemburu, meski mungkin, bukan kata mereka juga yang kau pinta.

Aku ingin memberimu sesuatu yang spesial. Aku ingin menjadi yang spesial di hatimu, aku ingin menjadi lentera paling bercahaya di matamu dengan sesuatu itu. Aku berpikir dan mencarinya, tapi sekali lagi aku menyerah. Kurasa segala yang terlintas di benakku tiada cukup untuk kuberikan padamu.

Rangkaian bunga? Rampaian puisi? Rumbaian sajak? Atau mungkin buku yang menarik bagimu? Ahh, bukan, bukan. Aku urungkan niat untuk memberikannya. Aku takut mawaddah kita tercipta sebelum saatnya. Tapi aku lebih takut, saat kuberikan salah satunya, justru bukan mawaddah yang tercipta, tetapi orok dan nanah yang membuat luka.

Maka, sekali lagi kumantapkan hatiku. Kurasa ada sesuatu yang lebih layak untuk kuberikan. Doa, ya doa. Kulantunkan doa mesra untukNya bagimu. Agar engkau dilindungiNya, agar engkau selalu Dia beri cahaya, agar kau dan aku bisa kembali dipertemukanNya, setidaknya kelak di surga.

Biarlah doa ini kulantun dalam diam, tanpa sepengetahuanmu. Biarlah hanya aku dan Dia yang tahu, seberapa cinta aku padamu.

Kampung 2 Menara, satu empat tiga enam hijriyah
Yang berharap cinta-Nya dan cinta orang yang mencintaiNya
Huda S Drajad

[Pada akhirnya aku mem-publish tulisan ini di hari ulang tahunku, agar kau tidak merasa yang kumaksud itu kamu. Lagipula, tiada istilah hari ulang tahun dia agama kita kan? :)]

Mencintainya dalam diam

03/12/14

ramadhan fasting

Mencintai seseorang, adalah suatu hal yang tiada habis untuk diperbicangkan. Ya cinta, mempunyai daya untuk terus mengundang lisan untuk terus berucap, mengundang tangan untuk terus menulis, dan mengundang hati untuk terus berguman. Cinta selalu punya daya yang tiada terduga. Kadang mampu mebuat sang perasa berseri, tapi tak jarang membuat nyeri.

Cinta berawal dari perasaan, begitu kata ustadz Abu Hasanuddin dalam kajiannya di Kajian Ahad Pagi kemarin. Perasaan, jika ia ditanam pada tanah yang bukan miliknya, bisa jadi berakhir tersia, atau bahkan berujung nestapa. Dan bukan haknya untuk mempertanyakan jika suatu hari tanah itu dibeli orang, karena ia tidak berkuasa atasnya.

Mencintai seseorang, beberapa hari terakhir aku merasakan kembali getarannya. Rasa itu menyusup ke dalam hati. Memasuki rongga dan pori-pori batin. Membuatku tersiksa, walau jujur aku menikmatinya. Love is sweet torment, begitulah istilah Maria dalam ayat-ayat Cinta.

Mencintainya adalah sebuah lelucon. Ya, karena aku begitu merindukan sosok yang tiada kutahu perasaannya padaku. Tapi aku menikmatinya. Menikmati setiap detik ia bahagia. Menikmati setiap saat dia ada. Menikmati setiap keadaan yang tercipta.

Aku menikmati mencintainya dalam diam. Dalam keadaan sendiri, yang tiada diketahui kecuali oleh diriku dan Sang Pencipta saja. Meski kadang ada saat aku cemburu dengannya, tapi aku selalu teringat bahwa ia bukan hakku dan aku bukan haknya.

Dalam setiap keadaan yang ada aku selalu menahan untuk tidak memberi sinyal hati. Aku takut jika hubungan kami harus ternodai. Aku takut jika rasa ini tumbuh di saat ia belum layak untuk bersemi. Aku takut, maka aku pun memendamnya.

Aku berusaha menjaga dalam suci dan senyap. Meski aku terus memperhatikan, meski aku terus memantau lini masa akun media sosialnya. Tapi aku selalu diam, tidak berusaha mengeklik tombol suka, atau memberi komentar pada status yang dibuatnya. Aku takut kesucian kita tersia.

Aku diam karena aku ingin menjaganya. Karena seperti yang ditulis mbak Futri -blogger yang blognya nggak sengaja kutemukan- menjaga seseorang yang dicinta berbeda dari penjagaan hewan atau benda lainnya. Jika aku menolongnya saat jatuh, maka hanya kelemahan yang nantinya dia rasa. Jika saat ini aku memberi cinta sebelum masanya, hanya akan menumbuhkan benalu yang merusak di akhirnya.

Seperti yang dituliskan mbak Futri juga, aku pun juga ingin menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat saat dia mendapat kebahagiaan, tapi hal itu urung kusampaikan. Aku hanya terdiam di tempatku, berdoa semoga dia tetap mengingat tempatnya di bumi, dan mengingat bahwa segalanya Allah-lah yang beri.

Maka dalam mencintainya, aku memilih untuk menceriterakannya pada buku harian dan Ar Rohman. Aku memilih untuk memperdengarkannya pada tulisan dan rengek pada-Nya yang kulantunkan. Aku memilih untuk bertahan dalam keadaan yang tercipta, sampai kelak hati kita ditaunkan oleh dan pada-Nya.

Karangpandan, 10 Shafar 1436H
Huda S Drajat

Pembiasan Bahasa Cinta

10/01/14

Hidup ini kompleks, akan ada banyak hal yang terjadi. Kadang suka, kadang duka. Begitu juga dalam sebuah persaudaraan, akan ada saat dimana ikatan itu menjadi kokoh seperti baja, namun tak jarang pula menjadi selemah rumah laba-laba.
                Pernah cinta sama seseorang? Pasti dong. Pernah kecewa? Pernah bersedih? Dan pernahkah merasakan saat ketika apa yang kita berikan kepada orang yang kita cintai tidak bernilai sama sekali dimata mereka? Pasti pernah juga kan?
                Kalo uda kayak gini cuma ada dua kemungkinan. Pertama, dia uda wafat. Dalam tanda kutip yak. Jadi, sekalipun ia hidup hakekatnya ia uda mati.  Ga bisa diambi manfaatnya. Jadi buat yang ini mening cari aja pelabuhan cinta baru.
                Kedua, terjadi pembiasan bahasa cinta. Oke, bahasa gue mungkin rada payah, Sorry. Soalnya gue bingung pengen pake istilah apa. Pembiasan bahasa cinta atau dalam bahasa mudahnya kesalahan dalam penerjemahan bahasa cinta. Tepat ga? Mungkin ada yang punya istilah lebih bagus??
Hm, mari fokus ke yang kedua. Berapa kali sih ngrasainnya? Sekali, dua kali, puluhan kali, atau berkali-kali? Silahkan jawab sendiri.
Mungkin ada yang pernah ngalami ketika perhatian yang diberikan oleh sang pacar terasa sebagai sebuah intimidasi? Jujur Kalo gue Belom. Gue ga punya pacar :P
Ada juga mungkin para pengurus atau mudabbir yang sering pusing? Uda bekerja keras, bekerja sekuat tenaga tetapi anggotanya malah seenaknya sendiri. Sakpenake dhewe. Bahkan sampai mengkritisi para pengurus yang uda susah payah memberikan kasih sayang kepada mereka.
Begitulah kalo uda terjadi pembiasan. Ribet dan rumit. Gue sering banget ngalaminya, terutama akhir-akhir ini. Mangkel pasti. Tapi tetap sabar kudu diutamakan dan diupayakan. Karna yakin, akhir yang baik selalu Dia berikan kepada mereka yang bekerja sebaik mungkin.
Nah, maksud gue disini bukan pengen curhat bareng kalian yang pernah ngrasain hal ini. Bukan. Soalnya gue yakin kalian mungkin lebih sering ngrasain hal ini dan lebih paham seluk beluknya. Tapi gue pengen ama kalian yang sering menyalahartikan bahasa cinta orang-orang di sekitar kalian. Biar lebih gampang dan lebih nyata gue pakai contoh kisah di kehidupan gue yak. Sekalian curcol XD
Buat sekedar muqoddimah, gue ini tipe orang yang pengen punya banyak relasi dan hubungan. Pengen punya banyak persaudaraan dan persahabatan. Mending gue berkorban daripada harus mencederai sebuah persaudaraan. Ini adalah prinsip gue dan ini adalah bahasa cinta gue.
Mungkin ga ada masalah klalo hubungannya ama cowok doang, tapi kalo ama cewek? Ini nih yang bikin masalah. Ga kehitung ada berapa banyak cewek yang pernahy interaksi ama gue. Mulai dari temen sekolah, temen ngaji, temen les, temen chatting, temenghoib (?), temen tapi ga mesra dan banyak lagi. Seabrek pokoknya.
Nah, masalah muncul ketika kami udah lama kenal. Awalnya mungkin cuma ngobrolin hal yang penting, tahfidh lah, pelajaran lah, cuma bahas kemaslahatan. Tapi lama kelamaan setan semakin bergerilya. Obrolan kami pun mulai ga jelas. Mulai bahas hal yang pribadi, seperti kabar, perasaan, ama ukuran baju dan nomor sendal--“. Dan gue sadar, hal ini ga boleh keterusan.
Sedikit demi sedikit hubngan itu mulai gue kurangi. Dan akhirnya gue ga pernah memulai obrolan duluan kecuali buat perkara dhoruri. Dan bisa ditebak, mereka nganggep aku sombong.. Ada yang langsung marah-marah, ada juga yang ngunfoll twitku. Banyaklah jenisnya. Pyuh
                Padahal hal ini semata-mata gue lakukan karna gue cinta mereka. Karna gue ga ingin menzinai hati ini. Gue ga ingin ketika kelak mereka uda berumah tangga mereka masih aja bayangin gue dan menyesal karna suami mereka ga sekeren gue. Oke lupakan –“
Dan setelah berfikir panjang, gue harus mantap melakukan semua ini. Gue harus membiarkan tali ini putus, walau sebenarnya hati kecil berkata tidak. Karna bagaimanapun, cinta sejati itu cinta yang bisa dilogika. Bukan logika manusia, tapi logika cinta Sang Pencipta.
Hal di atas adalah salah satu penyebab terjadinya pembiasan bahasa cinta. Dan masih banyak sebab lainnya. Tapi ada satu penyebab selain ini yang juga sering terjadi. Seseorang susah untuk menterjemahkan cinta mereka.
Contohnya ada di film jayus buatan Singapura, I’m not stupid. Di situ ceritanya ada seorang bapak yang ingin anaknya punya masa depan cerah.Ia terlalu memaksa anaknya untuk menjadi seperti yang ia inginkan.  Dan ia salah menterjemahkan cintanya tersebut. Ibaratnya kalo ahrusnya make Simple Perfect, ia justru make Past Perfect. Bisa dibayangkan bagaimana sikap anaknya kemudian. Frustasi. Oke cukup.
Contoh yang lain kayak apa yang gue liat secara langsung. Jadi ceritanya gue punya santri binaan di desa. Gue pengen banget terus membimbing mereka, Cuma karna sistem di sini yang mengahruskan regenerasi maka mau tak mau gue harus merelakan junior gue yang mengambil alih tugas mulia ini.
Awalnya semua berjalan biasa, hingga akhirnya timbul masalah. Santri-santrinya pada protes. Komplain ke gue. Mereka pada ga klop ama muallim yang baru. Enggak cocok gitu. Dan mereka pengen gue yang ngajar lagi.
Gue sebenernya juga pengen, Cuma gue kudu sadar diri. Dunia akan berubah. Dan gue juga kudu nyadarin mereka akan hal ini. Mereka mungkin nganggep junior gue ga bisa ngajar dan terlalu cuek. Mungkin itu benar, tapi sebenarnya masih ada yang mereka lupakan. Karna gue yakin, para junior gue itu juga sayang ama mereka. Para muallim yang baru itu pasti juga pengen ada kebaikan diantara mereka, tapi mereka bingung gimana cara menyampaikan cinta itu dengan bahasa yang tepat.
Mungkin begitu aja contoh dari gue, tentang pembiasan bahasa cinta yang mungkin sering terjadi diantara kita. Oh ya, gue mohon doa dari kalian biar konflik ini cepet selesai. Biar gue ga ngerasa bersalah terus menerus. Dan doain istri gue seperti yang gue harapkan dan jadi terbaik di sisiNya :)
Terakhir, Saran dari gue buat kalian buat kalian yang sering mengalami kejadian ini. Jangan berduka dan bersedih hati, karna sesungguhnya cinta yang ada di sekeliling kita masih suci. Cinta ini masih lurus, hanya butuh sudut pandang yang tepat. Ibaratnya kayak pensil yang tercelup di air. Kelihatannya bengkok walau sebenarnya lurus. Bukan cintanya yang bengkok, hanya kerapatan hati kita yang berbeda. Maka samakan kerapatan kita, dan yakinlah bahwa cinta mereka selalu ada, dulu, kini, dan nanti... Karena pelangi yang indah juga ada karena pembiasan.....

Cinta

27/08/12

Cinta bukanlah budak dunia
cinta juga bukan nafsu semata
Cinta adalah anugerah rabb kita
yang diberikannya kepada hambanYa

Cinta tak dapat tuk dipaksakan
Cinta adalah sebuah kerelaan
Cinta adalah ujian hidup di dunia
Dengan hjidup bersama orang yang dicinta

Cinta adalah fitrah manusia
Cinta juga bukan pemuasan syahwat saja
Cinta adalah sebuah kasih sayang
Di jiwa hamba berhati tenang

Cintailah Allah dan RasulNya
Cintailah juga Jihad di jalanNya
Dan jangan lupakan orang tua kita
Dan semua umat Islam di dunia

Ku mencintai kalian karena_Nya
Sebagai kewqajiban seorang hamba

Untuk Dia yang Disana



Teruntuk Ukhti …….

Assalamu’alaikum, kaefahaluk? Semoga kau selalu berada di bawah naungan Dzat yang mengetahui segala isi hati ini…

Mungkin kau menganggap surat ini tak berharga, namun bagiku surat ini tak ubahnya seperti harta yang ditinggalkan seorang bapak kepada anaknya, sehingga karenanya Nabi Musa harus menegakkan bangunan di atasnya.

Aku yakin, surat ini bukanlah surat pertama yang nyasar kedirimu, karena kutahu bahwa banyak dari kami, para lelaki yang terjatuh dalam lubang ini. Namun, aku jauga masih yakin, kau masih punya sedikit ruang yang kau persilahkan untuk kuisi harapan dan mimpi-mimpi.

Mungkin kau tidak sadar bahwa kau telah memberi warna baru dalam hidup ini. Dan entah apakah kau tahu, kau ke telah menuntunku ke dalam rangkaian terumit yang tak kutahu cara menahlukannya. Kau telah mengusik malamku dengan kerudung biru itu. Memang hanya sebulan kita bisa bertemu di alam fana ini, namun tanpa kau sadari kau hadir selalu dalam tiap mimpi-mimpiku.

Mungkin kau tidak sadar, bahwa Senin pagi itu telah merubah pola hidupku. Di pagi itu aku merasakan sejuknya Angin Surga yang dihembuskan dengan penuh cinta disaat orang lain terganggu udara panas yang menyesakkan dada. Dan sejak hari itu, semangatku menggebu-gebu untuk memasuki ruangan bambu itu demi melihat seorang bidadari berkerudung biru.

Mungkin kau juga tidak tahu, bahwa senyummu telah menggetarkan hati ini. Menggetarkan hati seorang pemuda yang sedang mencari jati diri. Ditambah lagi perhatian yang kau berikan, membuat pikiran pemuda itu melayang tak karuan dan mengoyak pintu yang selama ini tersimpan dalam labirin kehidupan.

Aku sadar, diriku ini bukanlah Nabi Yusuf, yang ketampanannya melenakan seluruh wanita di kotanya. Aku juga bukan boyband Korea, yang keberadaannya membuat seluruh wanita menjerit histeris.

Aku juga sadar, bahwa aku adalah seorang yang mengemban amanah umat, yang harus selalu berbuat baik, tanpa boleh ,mengeluarkan ralat. Tapi aku juga manusia yang ingin disayang dan dicinta. Dan segumpal daging itu telah memilihmu sebagai orang yang terus mendebarkannya.

Aku cuman ingin mengatakan, bahwa aku mencintaimu. Cinta tulus karena Allah dari dalam lubuk hatiku. Namun kau tak usah risau, karna aku nggak pernah berharap lebih darimu. Aku cuman berharap semoga cinta ini dijadikan suci di atas kalimatNya, tanpa harus menzinai orang yang memilikinya. c:

Jazakillah atas perkenaan hati ukhti untuk membaca curahan hati ini. Semoga kelak kita dikumpulkan di surga Ilahi.

Wassalamu’alaikum
 Terucap salam


Huda
#ternyata aku punya bakat yang terpendam…
:D
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS