Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Kupu-kupu sebelum Kupu-kupu

28/07/15

“Binatang apa yang paling aneh?”.
“Belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam minum susu”
Tebakan tersebut menjadi begitu tersohor di masa kecil saya. Pun juga ketika seorang ibu me-ngliling bayi kecilnya dengan kata legendaris tersebut, ditambah sedikit awalan “pok ame-ame”. Ah, jadi rindu masa ketika memberi hiburan ke anak dengan kata cinta, bukan sekedar gadget yang tak bernyawa.

Tentang kupu-kupu, pasti kita pernah mendengar lirik lagu ini, “persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu”. Entah siapa penyanyinya saya sendiri juga ndak tahu, yang jelas ada salah satu stasiun televisi swasta yang menayangkan sinetron dengan soundtrack lagu ini, yang juga sempat menjadi salah satu topik obrolan kawan-kawan saya di mahad Al Mukmin semasa itu. Saya cuma bisa menyimak tanpa mampu menanggapi, Alhamdulillah saya emang rada kuper. :)

Mengenang masa di pondok emang tiada habisnya, pun bagi saya yang baru purna dari mahad ‘Hidup Mulia’. Masa-masa di pondok ibarat sejarah kehidupan yang perlu dikenang, bersebab di dalamnya sebuah pribadi bermetamorfosa, dari seorang yang mbok-mbokan dan suka dimanja menjadi sosok pasangan-able yang ndak cuma memancarkan akhlak mulia, tapi juga bermanfaat bagi sesama. Seperti ulat yang banyak dilirik jijik, menjadi kupu-kupu yang berwarna ceria. Menebarkan keindahan ke alam semesta. Tak salah mungkin kalau kita mengganti lirik lagu di atas menjadi, “Pesantren itu bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.”

Setiap santri pasti punya kenangan indah tentang kehidupan kepesantrenannya. Dari sejak awal ia masuk, hingga ketika ia berisak mengikrarkan janji untuk berbudi mulia saat wisuda. Namun, izinkan saya bercerita tentang dua orang pribadi, orang yang begitu dekat dengan saya dan telah saya anggap adik kandung sendiri, tentang secuil perjuangan mereka. Perjuangan bermetamorfosa menjadi akhwat yang sejati, yang kelak kan dicemburui para bidadari.

Saya menjadi saksi mereka berdua berkembang semasa SMP. Melihat dari masa masih dipenuhi kepolosan, sampai masa ketika saya harus menundukkan pandangan. Melihat bagaimana mereka menetapi dan meniti jalan ini, hingga mampu berubah menjadi sosok yang layak untuk diceritakan kebajikannya. Sekarang pun, mereka masih terus berusaha berubah, karena saya yakin mereka sadar, jalan hijrah yang kan ditempuh masih panjang.

Sungguh, saya merasa malu, sering dianggap oleh mereka berdua sebagai sosok yang memotivasi, padahal sesungguhnya sayalah yang lebih layak untuk bercermin dan berbenah diri. Izinkan saya berceritera tanpa menyebut nama asli mereka, pun bagi yang tahu dimohon untuk tidak menyebarkan siapa sebenarnya mereka, demi menjaga keikhlasan hati mereka berdua.

Dia yang pertama, anggap saja si A. Dia terlahir dari keluarga pra-sejahtera. Kata orang pun rumahnya mewah, mepet sawah. Tapi semangatnya menuntut ilmu tak tergantikan. Setiap saya taklim ia selalu menjadi juru bicara kawan-kawannya. Mencecar saya dengan pertanyaan yang kadang bisa dikatakan rada nyeleneh, tapi justru berbobot dan menyadarkan. Kalau dia tak ada, masjid pun seolah terasa sepi. Tapi jujur, saya bersyukur bersebab itulah saya sadar, aih ilmu saya masih terlampau sedikit. Dan hal itu pun masih berlanjut hingga generasi berganti.

Purna masa studi di mahad ‘hidup mulia’, saya mendengar kabar yang mengejutkan, lebih tepatnya menggembirakan. “Kak, insyaAllah saya sama si B (sahabat karib si A yang nanti akan saya ceritakan) akan melanjutkan sekolah di pondok. Si B alhamdulillah sudah diterima di mahad X. Kalau saya, doakan biar diterima di mahad Y“. Saya yang menerima kabar itu pun hanya bisa mengamini, seraya berdoa semoga niat mulianya dikabulkan oleh Rabbul Izzati.

Suatu ketika, dia datang ke rumah nenek saya di lereng gunung lawu. Bukan, bukan menemui saya, tapi menemui tante saya yang juga tetangga dia di desa aslinya. Mereka mengobrol lama berdua di ruang tamu, dan saya pun ndak berani menyimak. Obrolan wanita. Beberapa waktu pun saya baru mendengar kabar dari umi, ketika tante saya bercerita. Ternyata sore itu dia menangis, bercerita tentang kendala buat masuk ‘penjara suci’.

Jadi, uminya alhamdulillah, akan dikaruniai buah hati lagi. Tapi dari situlah kegalauan itu bermula. Uminya kini tak lagi bisa bekerja seperti biasa, demi kebaikan janin yang dikandungnya. Dikhawatirkan jika dia bersekolah di pondok, orang tuanya ndak bisa membiayai, dan lebih takut seandainya dipaksa, sekarang bisa masuk tapi nantinya berhenti di tengah perantauannya. Umiya pun menyuruhnya untuk menunda studi setahun dulu, menggunakan setahun itu untuk bekerja, membantu menyokong kehidupan keluarga sambil mengumpulkan tabungan untuk kelanjutan studinya.

Dia kurang setuju dengan yang diinginkan uminya. Bukan, bukan karena niat durhaka. Tapi dia takut ketika ia berkerja sekarang, niat untuk masuk pesantren jadi hilang terpudar. Saya yang mendengarnya langsung terenyuh. Ketika mendengar itu dari umi, saya langsung bilang dengan aksen jawa yang kurang lebih artinya, “Mi, alhamdulillah kan kita diberi rizki agak lebih oleh Allah. Lha uangnya beberapa juga dipakai buat anak asuh kan? Mending beberapa anggaran diarahkan buat membantu si A. Saya kan pernah mengajar dia, insyaAllah semangat dan kepribadiannya baik kok mi.”

Saat itu, saya menyampaikan dengan wajah rada melas. Dan hal itu cuma berani saya sampaikan ke umi, soalnya kalau ke ayah takutnya dikira ada apanya. Alhamdulillah, umi bilang “InsyaAllah, nanti umi sampaikan ke ayah.” Alhamdulillah, akhirnya permintaan saya beliau kabulkan.

Dan Senin kemarin, kami mengantarnya ke mahad atas permintaan salah satu teman karib ayah yang juga kolega mahad Y. Saya pun turut serta, karena mau sekalian mampir ke Magetan, memenuhi beberapa keperluan kuliah. Sesampainya di mahad yang dituju, saya ndak tega lihat kondisinya. Jauh banget dari mahad saya semasa SMP dulu, apalagi sama mahad ‘hidup mulia’. Terpencil dari kota, aksesnya pun jauh dari kendaraan umum. Saya sendiri merasa, ah mungkin kalau saya yang dilepas di mahad ini mungkin ndak bakal betah lebih dari sehari.
Tampak depan mahad yang akan dicintainya

pembangunan mahad yang sampai sekarang masih berjalan

Di sana teman karib ayah menceritakan bagaimana keberkahan mahad tersebut. Tentang kebersahajaan dan kesederhanaannya, yang justru darinya naungan barakahNya tercipta. Meski dengan lauk seadanya, tapi  justru banyak santriwatinya lebih gemuk ketika pulang menikmati liburan. Mungkin segala keadaan tersebutlah yang justru bisa melahirkan para calon ummahat sejati. Ya Rabb, baarik lahunn wa baarik ‘alaihinn.

Sepulang dari sana, saya mendapati cerita lain yang juga membuat saya terharu. Tentang bagaimana si A tadi semasa SMP mengumpulkan uang untuk bekalnya, bahkan ketika libur UN menjadi seorang perawat bayi dadakan selama 2 bulan agar bisa memenuhi mimpinya menuntut ilmu di mahad. Tentang bagaimana dia menjadi yang pertama meminta brosur dan mendaftar, bahkan ketika pendaftaran sendiri belum dibuka. Dan saya teringat tak henti ketika kami hendak pulang, dia mengucap jazakumullah terus. Meski tak memandang langsung, tapi saya bisa merasakan bagaimana terharunya dia. :’( Tapi alhamdulillah mulai hari itu, akhirnya terwujudkanlah mimpinya untuk menjadi seorang santriwati.

Berkisah ke sosok lain, sahabat si A yang belakangan saya ketahui ternyata dia juga saudara sepupunya. Seorang yang bagi saya lebih nyantri daripada seorang santriwati yang sejati. Semasa SMP pun, saya begitu takjub melihat amalnya. Bagaimana dia meski di sekolah negeri masih bisa istiqomah menghafal juz amma, melaksanakan sholat dhuha, dan juga berpuasa. Puasanya pun bukan hanya puasa senin dan kamis, tapi juga digabung dengan puasa dawud. Saya selalu malu, jika membandingkan amal saya dengan amalnya.

Semasa saya ajar pun, si B ini juga hampir selalu hadir. Meski lebih banyak diam, tapi dia seolah menjadi ruh dari halaqoh itu. Ketika dia berhalangan, seolah ada sesuatu yang tidak terhadirkan. Sebenarnya, saya dan bahkan tante saya sendiri pun menyayangkan, kenapa dia masuknya mahad X tadi. Tapi tak apalah, bukankah tak bermasalah jika sama-sama menimba ilmu agama, pikir kami. Dan juga, hawa mahad ‘hidup mulia’ insyaAllah bisa mewarnai langkahnya untuk tidak tergesa.

Tentang si B, mungkin tiada banyak kisah yang bisa saya ceritakan. Karena meski belum layak dikatakan berakhlaq Al Quran sempurna, tapi setiap amalnya selalu membuat saya terkesima. Kaana amruhaa ‘ajaban, mungkin itu agak bisa mewakilinya.

Oh ya terlupa. Semenjak lulus dari jenjang SMP bulan lalu, mereka berdua memutuskan untuk meningkatkan kualitas berpakaian mereka. Memang sudah syar’i sebelumnya, tapi mereka menambahkan cadar untuk lebih menjaga taqwa. Bercerita tentang mereka, sebenarnya mereka tak layak untuk dianalogikan sebagai ulat yang bermetamorfosa. Karena mereka telah menjadi kupu-kupu, sebelum meringkuh dalam kepompong untuk bermetamorfosa lebih indah dari sebelumnya. Mungkin dari situlah saya terinspirasi memberi judul artikel ini, kupu-kupu sebelum kupu-kupu. Barakallahu fiihimaa.

Sebenarnya saya malu bercerita tentang kedua sosok ini di sini, karena jujur saya begitu banyak menimba ilmu dari mereka. Saya bersyukur, pernah bertemu dengan kedua sosok ini, karena mungkin setelah ini, akan susah bagi kami untuk berinteraksi kembali. Bagaimanapun, kami bukan mahram kan? Sebenarnya juga ada beberapa yang lain yang juga punya cerita, hanya karena keterbatasan saya ndak sampaikan semua. Saya berharap, jika calon istri saya kelak saat ini membaca artikel ini, mohon kelak ingatkan saya untuk menyambung tali silaturahmi dengan mereka. Jangan berburuk sangka juga ya. Hehe.

Semoga cerita di atas bisa memberi kita motivasi. Saya hanya menitip doa bagi kebaikan saya, kalian semua, dan terutama mereka kedua. Semoga Allah selalu mengilhami kita jalan yang Dia ridhoi. Semoga kita diberi keistiqomahan untuk meniti ‘jalan lurus’ ini. Wallahu a’lam bish showab.

Klaten, 12 Syawal 1436 H
Huda S Drajad

Senyuman Sang Pejuang Tulis

23/07/15

Salah satu hal yang membedakan mahad kami dengan mahad-mahad pada umumnya adalah, kelas tiga di mahad kami diperbolehkan untuk mengikuti bimbingan belajar di luar mahad. Dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi tentunya, seperti telah menyelesaikan ujian akhir tahfizh maupun mendapat SKCK tak resmi dari Madrasah dan Kesantrian.
Alhamdulillah, Allah mempermudahku untuk bisa mendapatkan perizinan bersama 3 temanku lainnya. Aku pun mendaftar di Ganesha Operation Karanganyar seperti para pendahuluku. Yakali perjuangannya besar banget les di sana, mulai dari touring setengah jam seminggu dua kali, kudu bolak-balik ke kesantrian buat ngambil kunci motor yang dititipin, sampai godaan warung-warung yang buka di sepanjang jalan raya Solo-Tawangmangu. Apalagi nasi gorengnya Pak Shobirin, bikin benteng iman abis. Ahihi. Tak jarang pula aku harus melompati pagar asrama Cuma buat ngambil jubah atau ngambil iftor yang di kamar. Hasbunallah wa ni’mal wakil.
Pertama kali les di sana, aku merasa minder, secara ilmu eksak yang didapetin di mahad kan kurang banget. Udah gitu di kelasku aku satu-satunya murid yang berasal dari mahad hidup mulia. Huhu. Dan di antara semua pelajaran, kimialah yang menjadi momok bagiku. Pelajaran saat itu tentang benzena dan lain-lainnya, tentang ikatan-ikatannya, bikin pusing seribu pening. Alhamdulillah, tentor kimianya, Bu PT sama Bu HI super-super, tak lama pun aku bisa mulai mengejar ketertinggalanku.
Semakin lama les di sana, alhamdulillah mulai banyak hal yang kudapatkan, dari ilmu-ilmu, pengetahuan tentang dunia luar, hingga kenalan-kenalan baru, dari para tentor hingga anak-anak sekolah lain.Dan  alhamdulillah, setiap try out grafiknya selalu meningkat, seperti cinta kita, semakin lama semakin tinggi menggapai surgaNya. :p
Dan ketika hari H perang, aku udah mulai merasa mantab. Alhamdulillah semua bisa dijalani dengan semestinya, melingkari setiap jawaban dengan pensil legendaris yang juga kupakai saat UN SMP dahulu kala. Dan masa itu pun tiba, masa rehat dan perpulangan, menuju ke pangkuan ibu bapa masing-masing. Tapi selalu sama, libur purna sekolah selalu menyisakan tantangan yang berbeda. Pun juga libur kali ini. Kalau dahulu kala kami disibukkan dengan murojaah hafalan sama belajar matematika biar masuk ma’had hidup mulia, sekarang tanggungannya berbeda.
Di depan kami, telah menanti seekor monster cantik bernama SBMPTN, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Katanya sih, jauh lebih nyeremin daripada ‘sekedar’ UN, huhu. Apalagi banyak kakak tingkatku dipaksa untuk berjatuhan di fase ini, “Anak MATIQ mah susah buat masuk PTN”. Huhu, aku tambah minder. Tapi mungkin di situ kali yak seninya, seni menata hati dan ruhani. Mungkin dengan bersebab itulah kita jadi tetap bercengkrama dengan Sang Pencipta. Dan kayaknya kita harus rajin bercengkrama denganNya terus, biar ndak was-was kayak gitu lagi.
Selepas UN, beberapa dari kami ikut bimbel untuk mengejar segala ketertinggalan. Ada yang harus menempuh jarak 35 kilometer cuma buat ikut les, ada juga yang sampai ikut camp, membayar berpuluh juta untuk ‘sekedar’ memasuki PTN yang didamba. Aku sedikit lebih santai, karena program yang kuambil di GO berkesinambung sampai setelah UN. Alhamdulillah juga, GO sistemnya bukan franchise, jadi aku bisa pindah cabang ke deket rumah. Niatnya sih biar bisa deket kalau pengen materi tambahan, tapi…
Di GO Klaten petualangan baru dimulai. Awal masuk kelas, aku merasa terasing (lagi). Yakali kayak si Zainuddin ‘Van Der Wijck’ yang terasing di negeri sendiri. Aku coba buat ngajak kenalan, yang ada jadinya malah kayak orang yang SKSD karena kesepian. Huahh. Di  awal masuk juga aku merasa seolah dapet pandangan miring waktu pada tahu aku anak pesantren yang ingin mengundi nasib di kedokteran. Huhu. Tapi ya gimana lagi, bismillah aku tetep kudu terus menjalani. Tetep percaya, jodoh ada di tanganNya, kalau emang dia, meski sekarang belum kenal pun pasti suatu saat dipertemukan sepelaminan berdua. Aku ngomong apa sih? :3

Alhamdulillah juga, Allah memberi kemudahan. Meskipun tiap kali mau minta jawaban sama pembahasan try out kudu ke Karanganyar dulu. Tapi aku masih penasaran, itu peringkat pertama sama keduanya orang itu mlulu. Hsssh, awalnya pengen ngajak kenalan, tapi nggak jadi gegara takut kalau-kalau dikira pemandu bakat laskar pelangi. Dan saat itu tetap menemaniku pensil ajaib yang berusia jumlah jari kiri.

Try out demi try out berlalu, hingga akhirnya tibalah tanggal 9 Mei. Aku berharap banget bisa diterima di jalur SNMPTN, biar nggak senam jantung lagi. Kan bisa kemlinti tuh, tiap ditanya orang kuliah dimana langsung jawab, “FK UGM”. Simpel, padat, tapi berisi penuh wibawa. Tapi alhamdulillah aku ndak diterima di UGM, la wong ndak daftar di sana. :D Tapi sama aja sih, di UNS juga ndak diterima. Kata pak Raviqnya sih nilai UN biologiku ndak memadai :D

Aku yang udah deg-degan seharian saat itu langsung drop. Mangkel banget sama UNS yang katanya ngasih kemudahan buat para Huffazhul Quran buat masuk kedokteran. Tapi perlahan juga sadar, ah Al Quran dihafal bukan untuk sekedar masuk kedokteran. Ditambah sokongan dari berbagai pihak, aku kembali tersadar kembali. Udah dilupakan yang lalu, biarlah jadi bahan buat postingan di blog ini. Dan ndak nyangka, banyak orang yang berhusnudzon, yang terkadang bikin aku sendiri malu, ‘ah, aku sungguh terlampau jauh dari pandangan baik kalian"

Semua berjalan kembali normal. Rutinitas buat les tetap dijalani. Walaupun sekarang jadi agak kurang bersemangat. Bayang-bayang yang aneh-aneh itu muncul terus. Gimana kalau ternyata ndak lulus. Gimana kalau ternyata ndak diterima di kedokteran. Gimana kalau ternyata dia minta dilamarnya tahun depan (hey). Ya, meski udah punya planning B buat cadangan kalau-kalau ndak diterima, tapi tetep aja hati ini masih was-was. Mungkin gegara itu hikmahnya bikin aku jadi ndak lupa diri. Jadi inget terus sama Rabbul Izzati. Yakali harusnya dalam keadaan kayak gini kudu inget juga ya, huhu.

Hari H telah tiba. Hari H telah tiba. Hore, hore, hore hore hore. Yakali ndak Cuma Tasya kok yang gembira dengan hari H, aku pun juga :). Para pejuang pensil di manapun berada juga udah bersiap siaga buat bertempur. Pun kami, para pejuang muda dari mahad hidup mulia. Ada belasan kawanku yang mengundi nasib bertempur di jalan ini. Alhamdulillah, aku tiada sendiri di tempat tesku. Ada kawan karibku Fahry Fahrozy yang setia menemani. Alhamdulillah, aku tidak ditakdirkan menjadi gelandangan sendiri.

Sepurna tes, kulihat wajah peserta lain cerah. S**t, apa cuma aku yang berwajah suram gini. Dan sebulan lamanya harus kembali ikut senam ayo bangkit. Bangkit dari keterdetakan jantung. Berdag-dug ria. Eh, ndak juga sih. Udah menjelang wisuda soalnya, pikirannya jadi terbiaskan. Habis itu semasa rekreasi di malang juga udah agak tenang. Paling-paling kalok ada yang nanya sekolah di mana aku jawabnya, “Doakan bapak, ibu, semoga saya diterima di kedokteran ataupun tempat terbaik lainnya.”

Dan akhirnya masa rekreasi di Malang pun purna. 7 Juli 2015, karena udah kangen pondok, gue langsung capcuss ke mahad. Mumpung gratis kalau alumni. Hihi. Dan mulai H-2 itulah aku kembali ketar-ketir. Pengumuman kali ini lebih  menyangkut banyak hal. Menyangkut nasib 7 hari sisa dari bulan Ramadhan, menyangkut hal yang bakal disunggangkan di wajah, senyumankah atau kemurungan.

Ketika tiba hari H-nya, aku tambah menggalau ria. Dari jam 7 pagi aku udah buka situs pengumuman.sbmptn.or.id isinya countdown eui. Tambah bikin nyesek. Seharian penuh aku ndak bisa konsen buat ngapa-ngapain. Alhamdulillah habis asharnya ada kajian tahsin seru dari ustad Aos. Tapi tetep aja, sang tepak imutku tetap kupegang erat-erat. Di refresh terus situsnya. Hahaha.

Jam 5 pun tiba. Dan situsnya pun overload. Haduh. Aku yang udah nggalau ria jadi tambah risau. Bolak-balik itu situs di refresh, kemudian nyari-nyari situs mirrornya, tapi tetep aja sama. The page you request cannot be displayed. Jam 17.12 udah bisa buka via situs its, tapi waktu masukkin nomor ngelag lagi. Fiuh. Dan akhirnya jam 17.20 barulah bisa dibuka via situsnya Undip. Mungkin karena jaringannya lemot backgroundnya pun masih putih sederhana. Dan saat itu hanya satu yang tertangkap di mata, kata-kata “KEDOKTERAN – UNIVERSITAS SEBELAS MARET”.
ALhamdulillah :')

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Langsung di tempat itu pula aku bersujud, berterima kasih atas karunia yang tak terhingga dariNya. Langsung kukabari sanak keluarga, dan juga ikhwah Pasukan Langit tercinta. Dan terlihat senyum mereka yang juga ikut merekah. Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar. :’)

Berturut turut setelah itu, beberapa kawan mengabari keterimaan mereka. Mulai dari Pak Boss Naufal Ade yang diterima di pilihan keduanya Geologi-Universitas Indonesia, kemudian juga bang Ibrahim Fay yang diterima di pilihan kedua juga, Teknik Informatika-Universitas Riau. Dan malamnya baru satu ikhwah lagi mengabari, Pak Profesor Fisika Bahaul Fahmi, yang diterima di pilihan ketiga Teknik Kimia-Universitas Sebelas Maret.

Tapi seindah apapun senyuman yang tersungging di bibir kami, tetap ada rasa sedih yang menyelinap. Ya, kami sedih atas belum diterimanya ikhwah kami yang lain. Ah, Barakallah lakum, Allah selalu punya rencana yang lebih indah dibanding rencana-rencana kita.
----

Dari saat itulah, judul artikel ini bermula. Senyuman Sang Pejuang Pensil. Alhamdulillah sang pejuang pensil tersenyum, karena doa dan usaha yang ia panjatkan berbuah manis dan senyum menentramkan. Alhamdulillah sang pejuang pensil tersentum, bersebab karuniaNya yang tiada terkirakan. Alhamdulillah sang pejuang pensil tersenyum, kerana saat ia beritahu kawan karibnya berita membahagiakan ini, mereka memberikannya doa yang menyejukkan, barakallahu fiik.

Sungguh, aku ndak mampu merasakan kecuali bahagia, saat ikhwah-ihwah memberiku doa termanis itu. Bahkan, kawan yang mungkin sudah lama tak berkontak, ikut mendendangkan doa mesra itu. Sungguh, di sini aku ingin sekali berkata, uhibbukum fillah, aku mencintai kalian kerana Allah.

Dan terlepas dari pro dan kontra ujian menggunakan Lembar Jawab Komputer (LJK), sebenarnya ada salah satu pelajaran penting yang bisa diambil. Mungkin ini Cuma mengada-ada, tapi tak apalah. Bukankah kita berharga bersebab kebaikan yang kita ambil di segala warna?

Jadi, ujian menggunakan LJK menuntut kita untuk kembali menggunakan pensil. Ya, pensil. Sarana menulis yang kita akrabi dahulu di masa kecil. Bukan hanya saat UN, tetapi juga saat SBMPTN. Semua itu seolah mengisyaratkan kepada kita, “Kembalilah berkanak-kanak, karena dalam kekanakanmu, kau menyimpan sejuta mimpi yang tak terengkuh oleh keraguan hatimu. Kembalilah berpolos ria, karena dalam kepolosanmu, harapan-harapan itu menjadi sangat nyata 5 cm di depan matamu. Tak perlu kau risaukan kegagalan, karena yang kau butuhkan hanyalah semangat untuk meraih cita-citamu.”

Dalam masa berpensil kita tak pernah malu untuk berkata, aku ingin menjadi dokter, aku ingin menjadi pilot, aku ingin menjadi tentara. Dalam masa berpensil, kita tak pernah ragu untuk mencoba, mengabaikan realitas bias yang ada. Huhu.

Yakali saya berpendapat ujian menggunakan komputer ditiadakan. Mungkin iya sih lebih hemat, lebih praktis, dan lebih mudah, tapi bukankah dalam mengejar cita itu butuh pengorbanan dalam ketiganya? Ah, siapa sih yang mau mendengar celotehan anak blogger serabutan gini?

Oh ya, lupa. Jangan sampai dipinggirkan juga, tak ada cita yang lebih indah daripada menjadi khodimul Quran, para pelayan Al Quran. Oh ya aku lupa, minta doanya lagi ya kawan, bukan minta kuliah kok, minta jodoh. :D

Klaten, 7 Syawal 1436H
Salam hangat dari sang pejuang pensil yang selalu tersenyum berdoa untukmu
Huda S Drajad

Tentang sukses yang kita cita

05/12/14

Ketika yang lain masih tersibuk dengan buku dan catatan
Kuberingsut menarik diri dari keramaian
Ada kalanya ikhtiar kita henti
Dan kita ganti dengan doa dan puji

Kau pandangku dengan cinta
Kau berfikir aku bisa
Kau berfikir aku menguasainya

Maka senyum manis coba kupatri
Agar kau memahami
Bahwa bukan itu yang terjadi akhi

Karena aku menyadari
Bahwa sukses yang kita citakan
Tiada semata pada usaha dan perjuangan
Ataupun letih dan kepayahan

Karena aku meyakini
Ia terselip pada rengek yang kita ucap
Pada mushaf yang dengan erat kita dekap
Pada derai linangan di malam gelap
Dan simpuh di hadap-Nya saat manusia terlelap.

Karena aku mengakui
Aku lemah, maka aku berharap pada-Nya
Aku bodoh, maka aku meminta pada-Nya
 Aku kerdil, maka aku berlindung pada-Nya

Maka aku mendekap Rabbku
Bersebab jahil dan hina-Nya diriku

Kampung 2 Menara, 12 Shafar 1436H
Teruntuk sahabatku #PasukanLangit, yang ingin mengetahui cara yang kuupaya:)
Huda Syahdan

We'll miss this moment :')

Meski Terasa Pahit

16/10/14

Qulil haqqo walau kaana murron
Katakanlah kebaikan, walau kan dirasa kepahitan

                Aku yakin, pasti kalian udah pada pernah hafal mahfuzhot di atas (itu mahfuzhot atau hadist :D). Sejak Mts, atau mungkin malah sewaktu masih ngaji di madrasah diniyah semasa SD dulu, pasti kita udah dikenalkan dengan kata mutiara itu. Katakanlah kebenaran, walau terasa pahit.

                Pahit di sini bisa terasa bagi kedua belah pihak, baik yang mendengar maupun yang mengucap. Dan tentunya yang kedua lebih sering merasakannya. Dan harus selalu kita yakini, bahwa kebenaran tetaplah kebenaran. Sekalipun ia diringi rasa pahit, ia akan diganjar dengan kebaikan oleh Sang Penguasa Langit. Sekalipun ia sepat, ia akan membawa kebahagiaan kelak di akhirat.
***

                Salah satu kisah yang telah masyhur adalah kisah Ka’ab bin Malik. Kisah yang dialami oleh sahabat yang dijuluki Rasulullah penyair ini begitu mulia dan menyejarah. Ia merasakan kepahitan setelah mengatakan kebenaran. Dan pada akhirnya ia mengetahui, betapa manis apa yang ia cecap setelahnya.

                Adalah saat itu, ketika Rasul mengabarkan kepada para Sahabat untuk berjihad –padahal beliau biasanya merahasiakan peperangan-, tanaman-tanaman di Madinah sedang subur-suburnya, dan buah-buahnya sedang ranum-ranumnya. Di perang terakhir yang dipimpin langsung oleh Rasulullah tersebut, Ka’ab bin Malik sebenarnya mampu dan berada dalam kondisi yang paling kondusif untuk berperang. Saat itu, Ka’ab juga telah membeli hewan tunggangan.

                Sayang, Ka’ab terlalu asyik dengan kebunnya, hingga dia tertinggal untuk berangkat berjihad. Lalu, berkatalah ia dalam hati, “besok, aku akan ke pasar untuk membeli perbekalan, dan berangkat menyusul mereka.

                Keesokan harinya, ia pergi ke pasar, dan sayang, ia tak berhasil menemukan apa yang diinginkannya. Pergilah Ka’ab ke pasar di hari berikutnya, dan ia dapatkan keadaan yang sama. Berlangsunglah hal itu berhari-hari, hingga akhirnya ia tidak mengikuti peperangan tersebut.

                Lalu, Ka’ab berjalan-jalan di sekitar pasar Madinah, dan tidak didapatinya orang yang tetap tinggal, kecuali mereka yang telah dicap sebagai munafik. Jumlah mereka 80 orang lebih dan mereka merasa tidak diketahui, tersebab banyaknya orang yang tidak dikenal.

                Sekembalinya Rasulullah dari perang tersebut, Ka’ab memikirkan cara untuk meredam amarah beliau. Ditemuinya sanak dan famili untuk bertukar pikiran tentang alasan yang akan ia kemukakan setibanya Rasulullah tiba di Madinah.

                Dhuha itu, Rasulullah memasuki masjid. Seusai melaksanakan sholat Dhuha, beliau lalu duduk-duduk di dalamnya. Kemudian, satu per satu orang yang tidak ikut berperang mendatangi Rasulullah, menyampaikan berbagai alasan, setelah didahului dengan sumpah. Lalu Rasulullah beristighfar, menerima lahir mereka dan menyerahkan yang batin kepada Allah.

Lalu sampailah pada giliran Ka’ab bin Malik. Ditanyailah ia oleh Rasulullah,
“Bukankah kamu telah membeli unta, yang bisa kau tunggangi?”
“Benar ya Rasulallah”, jawabnya mengiyakan.
“Lalu kenapa kau tidak mengikuti perang ini?”, tanya beliau lagi.

                Dijawablah ia dengan jawaban yang sungguh menakjubkan, dan layak untuk kita pelajari dan teladani.

                “Wallahi, Demi Allah. Andaikan bukan Engkau yang berada di hadapanku wahai Rasulullah, tentunya aku bisa menyampaikan alasan, dengan kepawaian lidah yang telah Allah anugerahkan untukku, sehingga amarahnya bisa ku padamkan. Namun, aku menyadari seandainya aku berkata benar sekarang, meski itu mebuat engkau berang, aku berharap Allah akan mengampuninya. Dan seandainya aku menyampaikan kedustaan, meski hal itu membuat engkau senang Ya Rasulallah, pasti Allah akan mengungkapkan segala kebohongan. Ya Nabiyallah, sungguh aku berada pada posisi yang paling memungkinkan untuk berperang.”

                Kemudian Ka’ab disuruh Rasulullah untuk berdiri. Lalu, sebagian besar kaum Muslimin yang berada di sana, menyalahkan Ka’ab, “demi Allah, belum pernah kami melihatmu melakukan dosa sesuatupun. Mengapa kamu tidak menyampaikan alasan sehingga beliau memaafkanmu dan beristighfar untukmu?” Mereja terus menyalahkannya hingga hampir-hampir ia menarik kembali perkataannya, andaikan ia tidak tahu bahwa Hilal dan Umayyah dan Muroroh binti Rabi’ah mengatakan hal yang sama.

                Kemudian Rasulullah melarang kaum Muslimin untuk berbicara dengan mereka bertiga. Setelahnya, perlakuan orang-orang berubah, seakan-akan tidak pernah mengenal mereka. Bumi seolah menjadi sempit dan sesak di dada mereka. Salam mereka tidak dijawab. Senyum mereka tidak dibalas. Sapaan mereka tidak ditanggapi.

                Akan tetapi, Ka’ab tetap yakin di atas millah ini. Bahkan, ketika diajak Raja Ghossan untuk bergabung dengan mereka pun, ia tidak menggubrisnya. Ka’ab juga tetap berusaha sabar, meski ketika telah berlalu 40 hari dan dia harus berpisah dan ditinggal sang istri. Sungguh, saat itu beliau merasakan kesempitan yang begitu menyesakkan, sebagaimana yang Allah gambarkan dalam Al Qur’an. Dhoqot ‘alaihimul ardhu bimaa rohubat wa dhooqot ‘alaihim anfusuhum.

                Lalu, tibalah hari itu, hari ketika ia mendengar seruan dari puncak gunung Sal’, “Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

                Ka’ab langsung bersujud dan mengetahui bahwa Allah telah memberikan jalan keluar untuknya. Kemudian diberikanlah pakaiannya kepada sang pemberi kabar gembira tersebut. Setelahnya ditemuilah Rasulullah.

                Saat itu, beliau sedang duduk di masjid dan dikelilingi oleh para Sahabat. Wajah beliau saat itu bersinar, menampakkan cahaya kebahagiaan. Ka’ab lalu mendekat dan bersimpuh di hadapan beliau. Lalu berliau bersabda “Ka’ab bin Malik, bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah engkau lalui sejak dilahirkan ibumu.”

***
                Hari itu, bersyukurlah Ka’ab bin Malik atas kejujuran yang ia junjung. Terpujilah namanya di bumi dan di langit. Dan abadilah kisahnya dalam Al Qur’an nan mulia, untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yang datang setelahnya.

                Ka’ab telah merasakan, betapa manisnya cecapan kebenaran, meski harus diawali dengan kepahitan. Ia merasakan bahwa akhir yang indah akan diberikan kepada mereka yang menjunjung kejujuran, bukan mereka yang mendustakan. Ia telah menjadi bukti, bahwa tiadalah kebenaran membawa keburukan, akan tetap pahit hanyalah ujian untuk memperoleh keberhasilan.

                Potret kehidupan para salaful ummah memang menakjubkan. Kita merindu pribadi Sa’ad, yang jujur dan berani mengatakan kebenaran. Kita merindu sosok, yang karenanya Allah berfirman, “Ya ayyuhalladziina aamanu ittaqullaha wa kuunuu ma’ash shodiqin”. Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah, dan jadilah termasuk orang-orang yang benar. Allahummaj’alnaa minhum.
inspired from : At Taibuuna ilallah

Klaten, 23 Dzulhijjah 2014

Amal, Ujian, Kesabaran

12/10/14


Wa quli’maluu fasayarollahu ‘amalakum wa rosuuluhu wal mukminun. Dan katakanlah, beramallah kalian, maka akan melihat amal-amal kalian Allah, Rasul-Nya, dan segenap kaum muslimin lainnya.

Seringkali, kita merasakan kesusahan dalam melaksanakan sebuah amal. Sendiriankah atau berjamaah. Berkhalwat dalam tenang maupun dalam keramaian orang. Semua pernah merasakan dan hal itu adalah sebuah kepastian. Karena sungguh, tiadalah seseorang memperoleh kekuasaan, tanpa menghadapi ujian dan kepayahan.

Kadang, kita sering bersuudzon pada-Nya. Apa mungkin bukan ini yang diridhoi-Nya? Apa mungkin bukan ini yang patut kami kerjakan. Apa dan apa, mungkin dan mungkin.

Aku sendiri juga sering mengalaminya. Salah satunya, saat ketika aku ditunjuk sebagai pengajar TPA, meneruskan perjuangan seniorku. Awal menjabat, ada banyak target yang ingin ku capai. Di awal masa mengajar, ada banyak hal yang ingin ku gapai. Sungguh, saat itu semua begitu mudah terasa.

Tapi sebagaimana rumus yang jamak berlaku, ada banyak hal yang kita harapkan, berkebalikan dengan apa yang menjadi kenyataan. Saat itu, tidak ada satupun murid yang masuk. Satu dua, itu pun hanya bermain dan berlalu. Berulangkali aku berangkat dengan penuh keyakinan, dan berharap akan segera terjadi perubahan.

Seminggu, dua minggu, tiada perubahan yang berarti.Teman-teman seperjuangan yang mengajar di tempat yang berbeda, mulai akrab dengan para murid dab membangun kebersamaan bersama. Sedang aku, selalu duduk di sudut masjid itu, merenung dan terpaku.

Saat itu aku mulai merasa, apakah mungkin Allah tidak meridhoi jalan ini? Apakah mungkin, karena hal ini bukanlah jalan yang baik, lalu Allah menyemai duri? Aku selalu bertanya dalam keadaan tiada pasti.

Hampir sebulan aku mengajar, dan masih belum ada satu pun yang datang. Aku mulai goyah. Mulai kubuaat beberapa planning cadangan, dari berhenti mengajar atau pindah ke lain tempat. Saat itu, partner mengajarku juga hampir-hampir menyerah. Hasbunallah.

Setiap hari aku mencoba berdo’a, dan teringat usahaku untuk bisa mengajar, yang saat itu tersandung berbagai hambatan. Mulai dari usaha untuk segera menyelesaikan hafalan (karena resminya, kita baru dibolehkan mengajar saat udah selesai 20 juz) , lalu kegamangan saat diminta untuk mengajar di tempat yang berbeda, dan usaha-usaha lainnya.

Ketika akhirnya bisa mempertahankan gelar juara
Dan suatu ketika, doa yang ku panjatkan akhirnya terkabulkan. Sedikit demi sedikit, pelan pelan, para murid mulai datang. Mungkin hanya hitungan jari, tapi tak apalah mereka mampu mengembalikan semangat kami. Dan hari itu menjadi awal kegemilangan tempat kami untuk menyabet berbagai prestasi, kelak di kemudian hari.

Begitulah, dari pengalaman tersebut aku belajar untuk lebih menginsyafi, bahwa tak selamanya jalan dakwah itu mudah. Aku jadi semakin meyakini, bahwa akan selalu ada ujian dalam setiap langkah, tapi hanya dia yang terus berusaha yang dapat berubah.

ketika juara ketiga kali berturut-turut
Saat-saat seperti itu membuatku merasakan, betapa beratnya ujian yang dulu menimpa Rasulullah, dalam mengemban risalah. Sungguh aku malu, begitu banyak aku mengeluh hanya karena sebuah peluh. Begitu sering aku menggerutu, padahal semua itu adalah kebaikan bagiku. Astaghfirullah.

Sungguh, Rasulullah akan berhenti berdakwah, jika beliau berfikiran bahwa jalan yang disemai duri  berarti tidak diridhoi. Dalam semua siksaan, dalam setiap cercaan, dalam segala cobaan.

Sungguh kita perlu belajar lagi, perlu lebih mentadabburi, perlu lebih menghayati dan menafakkuri, ayat yang telah termaktub dalam dustur ilahi.

“Apakah kalian mengira, kalian akan diberi balasan surga, dan belum datang kepada kalian permisalan orang-orang yang datang sebelum kalian. Mereka ditimpa kesusahan dan kepayahan, hingga berkatalah Rasul mereka, bilamanakah pertolongan Allah. Sesungguhnya amat dekatlah pertolongan-Nya”

Sungguh, aku merasa malu.

Karangpandan, 19 Dzulhijjah 1435 H.

Lelaki rabun bertabur cahaya

01/10/14

Innamal a’maalu bin niyat

Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, itulah sabda Rasul yang mulia. Yang dipilih Imam An Nawawi sebagai hadits pertama dari 42 kumpulan haditsnya. Menggambarkan betapa mulianya niat, betapa besarnya, betapa pentingnya.

Ya, niat, pondasi dari setiap amal yang kita lakukan. Dan di zaman yang penuh tekanan ini, ada banyak hal yang kita lupakan. Niat amal sholeh untuk kita sendiri, bagus tapi masih ada kekurangan. Bagus, tapi masih ada yang terlupakan. Bagus, tapi masih butuh sedikit perbaikan.

Sungguh, kita akan termasuk dari golongan orang egois, tatkala kita berniat untuk kebaikan kita semata. Sungguh, kita akan termasuk dari golongan orang individualis, manakala kita hanya berupaya untuk kemajuan kita saja. Kenapa? Karena Islam mengajarkan kita untuk maju bersama. Karena Islam mendorong kita untuk terus berbagi. Berbagi harta, berbagi cinta, berbagi cita, dan berbagi suka duka.

Karena dengan bersama, keajaiban akan terjadi. Karena dengan bersama, keajaiban logika langit mampu bekerja. Karena dengan bersama, niat kadang menjadi kenyataan, meski kita belum mampu melaksanakannya.

Begitulah, karena saat kita berfikir sendiri, otak ini terlalu lemah untuk ditimpa berbagai masalah. Dengan berfikir bersama, cita-cita akan mudah tercapai. Karena saat bersama, kita akan saling mengisi. Saling menambal kekurangan antar pribadi. Saling mengingatkan saat lalai menghampiri. Dan saat futur menerpa bisa terus berbagi motivasi. Semua berawal dari niat untuk kebaikan bersama.

***

Lelaki rabun dan lelaki buta, dari merekalah cerita ini bermula. Kisah agung nan mulia. Mungkin kisah mereka akan membuka sebuah cakrawala, yang bagi kita kadang dilupa.

Tersebutlah di zaman dahulu, ketika kekuasaan Islam masih berjaya, dua orang yang bersahabat. Mereka bukanlah sahabat biasa, karena yang satu rabun, dan yang lain buta. Rojulun aghmadh wa rojulun a’ma.

Mereka begitu padu, berangkat ke masjid bersama berlalu. Sang lelaki rabun menuntun Sang Kawan, menunjukkan padanya rumah Ar Rahman. Tapi sebagaimana sunnatullah yang selalu ada, banyak pribadi yang mencibir dan mencela. Bagaimana seorang yang rabun menuntun si buta, padahal untuk melihat saja, dia harus bersusah dan melebihkan usaha? Sebuah pemandangan yang mengundang gelak tawa.

Sang lelaki rabun pun menyadarinya. Maka, suatu hari dia berkata pada sahabatnya, “Sepertinya kita harus mengambil jalan yang berbeda, agar tiada lagi orang yang mencela kita.” Sang kawan menyergah, “Kenapa? Bukankah ketika kita dicela mereka mendapat dosa dan kita memanen pahala? Bukankah ketika kita dihina mereka justru yang kan terhina dan kita menjadi mulia?” Dijawablah sang buta dengan ketulusan dan senyum yang menawan, “Ya, kau benar akhi. Tapi, aku lebih suka jika kita mendapat kebaikan dan pahala, dan mereka juga mendapatkan hal yang sama”

Subhanallah. Begitulah kharateristik orang terdahulu, berbuat kebaikan yang sering membuat kita tersipu. Begitulah sifat-sifat agung yang terpancar dalam hidupnya, ingin selalu berbagi dan memberi cahaya, meski hal itu tiada disuka. Begitulah watak agung yang mereka wariskan kepada generasi penerus, yang tiada dilekang zaman dan tiada tergerus.

Karangpandan, 7 Dzulhijjah 1435

Kehendak-Nya

21/09/14

Ketika kehendakmu tidak sejalan dengan kehendak-Nya
Biarkan kehendak-Nya yang berjalan di atas hidupmu
Karena kehendak-Nya adalah kebaikan untukmu

Ketika inginmu tidak sejalan dengan ingin-Nya
Biarkan ingin-Nya menjadi skenario terbaik bagi hidupmu
Karena Dia MahaTahu segala tentangmu

Biarkan tangisan mengobati kekecewaanmu
Bukan kecewa pada Rabb-mu
Tapi kecewa pada dirimu sendiri
Karena tak mampu berdiri di atas ingin-Nya

Hidup harus dijalani, teman
Semenyakitkan apapun
Siap atau tidak
Karena Rabb-mu tidak butuh persetujuanmu
Atas kehendak-Nya

***
Itu puisinya keren banget yak? Puisi ini juga dimuat di majalah AL-HUFFAZH edisi 8, bersama 2 artikelku yang lain, kenapa dia stalking dan karena cinta tak harus memiliki. Secara, aku mas’ul bagian KIS sih -_-

Oke, lupakan yang tadi. Sebenarnya, puisi di atas bukan orisinil bikinanku. Itu puisi yang aku ubah dari yang kutemuin di buku jadul compang-comping. Buku itu tanpa sengaja bisa jatuh di tanganku waktu kelas 3 Mts dulu. Aku udah lupa judul dan nama penulisnya. Tapi semoga, dengan dimuatnya puisi beliau di majalah ini, bisa menjadi amal jariyah bagi beliau kelak di akhirat.

Buku itu berkisah tentang perjuangan beliau untuk terus bertahan hidup setelah divonis gagl ginjal. Puisi itu ditulis bersama dengan beberapa lainnya, yang mungkin beliau tulis saat beliau merasa kematian terasa begitu dekat di sisinya.

Keinsyafan beliau dalam memaknai hidup yang membuatku tertegun. Jujur, aku tertohok banget. Tapi Alhamdulillah, puisi-puisi beliau berhasil aku amankan hingga saat ini. Alhamdulillah. Allah yubaarik fiiha.

Dari kisah beliau, gue menjadi tersadar, bahwa bukan hanya diri ini seorang yang merasakan pahitnya sebuah “kegagalan”. Aku tersadar dari kenaifan, bahwa sebenarnya masih ada berjuta-juta orang yang merasakan hal yang sama. Tapi banyak di antara mereka, berusaha untuk melapangkan hati dalam memaknainya.

Dan aku yakin, kalian juga pernah merasakan hal yang sama. Dan aku lebih yakin, bahwa di antara kalian juga ada yang lancing, mencoba melangkahi Allah. Menganggap suatu hal penting dan berharga, tapi lupa bahwa Allah lebih tahu tentang kebaikan yang hakiki. Astaghfirullah.

Dan aku pengen cerita satu kisah lagi, yang juga berkenaan dengan kehendak-Nya, tapi dengan sedikit perspektif yang berbeda. Dan kisah ini, terjadi di sekelilingku.

Kalian pernah mendengar nama Andi Wiyarto? Beliau adalah sosok super inspiratif yang kini telah tiada. Alumnus kampung dua menara, yang sepak terjangnya begitu mempesona. Subhanallah pokoknya.

Saat itu, bulan Februari 2013. Saat ketika kita ditakdirkan untuk bertemu, bersama mengikuti dauroh Syaikh Abdul Karim hafidzohullah. Saat itu, beliau bercerita tentang kisah hidup beliau.

Beliau bercerita, bagaimana masa-masa hidup beliau sewaktu masih menjadi santri di sini. Beliau bercerita keadaan orangtua beliau yang saat itu biosa dibilang kurang mampu. Beliau juga berkisah, bahwa saat bersekolah di ma’had ini, Syahriyah beliau nunggak berbulan-bulan.

Bahkan, sampai-sampai beliau dipanggil oleh ustadh Ali Mursyidi, kepala sekolah kami berkenaan dengan tunggakan ini. Beliaupun hanya bisa pasrah. “Kalau saat dikeluarkan juga nggak papa ustadz, saya ikhlas”, tutur beliau. Aku rapopo, Cuma itu yang bisa beliau lakukan. Setelah itu, beliau hanya fokus belajar dan mengaji.

Waktu berlalu, tapi kehendak-Nya berkata lain. Teman-temannya satu angkatan, berinisiatif mengumpulkan dana untuk menalangi tunggakan SPP beliau. Sebuah ukhuwah yang masya Allah. Dan singkat cerita, beliau akhirnya mampu menamatkan pendidikan di ma’had ini.

Banyak prestasi yang telah beliau torehkan, mulai dari menjuarai Olimpiade Matematika dan Fisika tingkat Kabupaten, menjadi wisudawan terbaik, hingga nilai UN yang kalau nggak salah nomor 2 se-Jawa Tengah. Ma Syaa Allah.

Prestasi beliau terus bertambah, ketika beliau menamatkan dua pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan mengabdika dirinya untuk Al Qur’an. Dan Alhamdulillah, aku bisa bertemu sosok inspiratif ini.

Tapi, setelah kehendak-Nya yang begitu indah, Allah berkehendak yang lain. Sesuatu yang berbeda dengan yang dibayangkan manusia. Saat beliau mungkin sedang menikmati masa-masa ‘pengantin baru’, beliau tiba-tiba sakit dan divonis menderita penyakit kanker darah atau leukimia. Singkat cerita, beliaupun wafat di usia mudanya. Allahumaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu

Sewaktu dauroh dulu, beliau paling atas, tiga dari kiri

***

Begitulah rencana Allah. Ada hal-hal yang nggak bisa kita bayangkan sebelumnya. Ada kebahagiaan, ada kesedihan, tapi yang harus kita yakini bahwa semua itu mengandung kebaikan dan keberkahan.

Mungkin, beliau mas Andi telah tiada, tapi jasanya akan terus dikenang sepankjang masa. Mungkin beliau telah wafat, tapi ruh yang beliau tinggalkan akan selalu membuat kami, santri 2 menara untuk terus bersemangat. Dan mungkin beliau telah meninggal dunia, tapi kami akan terus berusaha untuk meneruskan cita dan perjuangannya.

Karangpandan, 21 September 2014

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS