Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Selamat Ulang Tahun Cinta

25/02/15

Selamat ulang tahun cinta. Semoga rahmat dan berkahNya selalu tercurahkan kepada engkau. Semoga engkau bisa menjadi wanita sholehah yang bermanfaat bagi Islam, keluarga, dan sanak saudara. Semoga di sisa umur, engkau selalu diliputi cintaNya dan dianungi kasih sayangNya.
Salam sayang, Huda

Kata-kata itu hanya bisa kupendam dalam-dalam. Kata-kata itu hanya kupendam dalam salah satu memoar batinku. Sungguh aku tak mampu dan tak mau mengirimkannya padamu. Biarlah kau tiada tahu, karena aku takut bersebab kata ini, perasaanmu berubah padaku.

Pagi hari aku terbangun dari mimpi indahku. Ku buka hp dan kudapati pemberitahuan menarik di berandaku. Kau berulang tahun hari ini. Dan aku pun tersenyum. Sungguh, aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan ‘barakallah fii umriki’ yang pertama, namun hal itu urung kulakukan. Aku tersenyum, ternyata selama ini aku salah mengahafal tanggal lahirmu.

Aku ingin menjadi yang pertama yang mengucapnya langsung untukmu, meski mungkin aku bukanlah lentera yang paling bersinar di hatimu. Aku ingin bersegera mengungkapkannya, meski mungkin bukan itu yang kau harapkan di hari spesialmu. Tapi lagi-lagi aku tak mampu, dan tak mau untuk melakukan semua itu.

Dan kau tahu, ketika aku mengintip akunmu, kudapati beberapa lelaki memberi selamat atasmu. Kau tahu, saat itu api cemburu membakarku. Ya, aku cemburu. Tapi sekali lagi, tiadapun rasa itu bisa kupermasalahkan, karena kau bukan siapaku, dan aku bukan siapamu.

Aku cemburu dengan kata yang mampu mereka tuliskan, meski kata itu sederhana. Bukan nyanyian, bukan sajak, bukan puisi, tapi hanyalah kata sederhana yang bersahaja. Aku cemburu, meski mungkin, bukan kata mereka juga yang kau pinta.

Aku ingin memberimu sesuatu yang spesial. Aku ingin menjadi yang spesial di hatimu, aku ingin menjadi lentera paling bercahaya di matamu dengan sesuatu itu. Aku berpikir dan mencarinya, tapi sekali lagi aku menyerah. Kurasa segala yang terlintas di benakku tiada cukup untuk kuberikan padamu.

Rangkaian bunga? Rampaian puisi? Rumbaian sajak? Atau mungkin buku yang menarik bagimu? Ahh, bukan, bukan. Aku urungkan niat untuk memberikannya. Aku takut mawaddah kita tercipta sebelum saatnya. Tapi aku lebih takut, saat kuberikan salah satunya, justru bukan mawaddah yang tercipta, tetapi orok dan nanah yang membuat luka.

Maka, sekali lagi kumantapkan hatiku. Kurasa ada sesuatu yang lebih layak untuk kuberikan. Doa, ya doa. Kulantunkan doa mesra untukNya bagimu. Agar engkau dilindungiNya, agar engkau selalu Dia beri cahaya, agar kau dan aku bisa kembali dipertemukanNya, setidaknya kelak di surga.

Biarlah doa ini kulantun dalam diam, tanpa sepengetahuanmu. Biarlah hanya aku dan Dia yang tahu, seberapa cinta aku padamu.

Kampung 2 Menara, satu empat tiga enam hijriyah
Yang berharap cinta-Nya dan cinta orang yang mencintaiNya
Huda S Drajad

[Pada akhirnya aku mem-publish tulisan ini di hari ulang tahunku, agar kau tidak merasa yang kumaksud itu kamu. Lagipula, tiada istilah hari ulang tahun dia agama kita kan? :)]

Tentang sukses yang kita cita

05/12/14

Ketika yang lain masih tersibuk dengan buku dan catatan
Kuberingsut menarik diri dari keramaian
Ada kalanya ikhtiar kita henti
Dan kita ganti dengan doa dan puji

Kau pandangku dengan cinta
Kau berfikir aku bisa
Kau berfikir aku menguasainya

Maka senyum manis coba kupatri
Agar kau memahami
Bahwa bukan itu yang terjadi akhi

Karena aku menyadari
Bahwa sukses yang kita citakan
Tiada semata pada usaha dan perjuangan
Ataupun letih dan kepayahan

Karena aku meyakini
Ia terselip pada rengek yang kita ucap
Pada mushaf yang dengan erat kita dekap
Pada derai linangan di malam gelap
Dan simpuh di hadap-Nya saat manusia terlelap.

Karena aku mengakui
Aku lemah, maka aku berharap pada-Nya
Aku bodoh, maka aku meminta pada-Nya
 Aku kerdil, maka aku berlindung pada-Nya

Maka aku mendekap Rabbku
Bersebab jahil dan hina-Nya diriku

Kampung 2 Menara, 12 Shafar 1436H
Teruntuk sahabatku #PasukanLangit, yang ingin mengetahui cara yang kuupaya:)
Huda Syahdan

We'll miss this moment :')

Mencintainya dalam diam

03/12/14

ramadhan fasting

Mencintai seseorang, adalah suatu hal yang tiada habis untuk diperbicangkan. Ya cinta, mempunyai daya untuk terus mengundang lisan untuk terus berucap, mengundang tangan untuk terus menulis, dan mengundang hati untuk terus berguman. Cinta selalu punya daya yang tiada terduga. Kadang mampu mebuat sang perasa berseri, tapi tak jarang membuat nyeri.

Cinta berawal dari perasaan, begitu kata ustadz Abu Hasanuddin dalam kajiannya di Kajian Ahad Pagi kemarin. Perasaan, jika ia ditanam pada tanah yang bukan miliknya, bisa jadi berakhir tersia, atau bahkan berujung nestapa. Dan bukan haknya untuk mempertanyakan jika suatu hari tanah itu dibeli orang, karena ia tidak berkuasa atasnya.

Mencintai seseorang, beberapa hari terakhir aku merasakan kembali getarannya. Rasa itu menyusup ke dalam hati. Memasuki rongga dan pori-pori batin. Membuatku tersiksa, walau jujur aku menikmatinya. Love is sweet torment, begitulah istilah Maria dalam ayat-ayat Cinta.

Mencintainya adalah sebuah lelucon. Ya, karena aku begitu merindukan sosok yang tiada kutahu perasaannya padaku. Tapi aku menikmatinya. Menikmati setiap detik ia bahagia. Menikmati setiap saat dia ada. Menikmati setiap keadaan yang tercipta.

Aku menikmati mencintainya dalam diam. Dalam keadaan sendiri, yang tiada diketahui kecuali oleh diriku dan Sang Pencipta saja. Meski kadang ada saat aku cemburu dengannya, tapi aku selalu teringat bahwa ia bukan hakku dan aku bukan haknya.

Dalam setiap keadaan yang ada aku selalu menahan untuk tidak memberi sinyal hati. Aku takut jika hubungan kami harus ternodai. Aku takut jika rasa ini tumbuh di saat ia belum layak untuk bersemi. Aku takut, maka aku pun memendamnya.

Aku berusaha menjaga dalam suci dan senyap. Meski aku terus memperhatikan, meski aku terus memantau lini masa akun media sosialnya. Tapi aku selalu diam, tidak berusaha mengeklik tombol suka, atau memberi komentar pada status yang dibuatnya. Aku takut kesucian kita tersia.

Aku diam karena aku ingin menjaganya. Karena seperti yang ditulis mbak Futri -blogger yang blognya nggak sengaja kutemukan- menjaga seseorang yang dicinta berbeda dari penjagaan hewan atau benda lainnya. Jika aku menolongnya saat jatuh, maka hanya kelemahan yang nantinya dia rasa. Jika saat ini aku memberi cinta sebelum masanya, hanya akan menumbuhkan benalu yang merusak di akhirnya.

Seperti yang dituliskan mbak Futri juga, aku pun juga ingin menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat saat dia mendapat kebahagiaan, tapi hal itu urung kusampaikan. Aku hanya terdiam di tempatku, berdoa semoga dia tetap mengingat tempatnya di bumi, dan mengingat bahwa segalanya Allah-lah yang beri.

Maka dalam mencintainya, aku memilih untuk menceriterakannya pada buku harian dan Ar Rohman. Aku memilih untuk memperdengarkannya pada tulisan dan rengek pada-Nya yang kulantunkan. Aku memilih untuk bertahan dalam keadaan yang tercipta, sampai kelak hati kita ditaunkan oleh dan pada-Nya.

Karangpandan, 10 Shafar 1436H
Huda S Drajat

Udah nggak sabar

14/08/14

                Udah nggak sabar. Mungkin kita sering banget merasakannya. Lupakan perasaan kalian dulu, mari kita belajar bersama. Udah pernah baca satu anekdot tentang sabar? Kalau belum, simak dulu.

        Suatu ketika, seorang pemuda sebut saja Fiki, berkata ke sahabatnya, Fiko.
“Fik, katanya sabar itu indah. Gue udah lama menunggu. Sabar. Tapi kok gak kerasa juga ya indahnya?”
“Kata siapa, sabar itu indah kok.”
“Masak? Terus kapan gue bisa merasakan keindahannya?”
“Ya, sabar aja”

                Ini mungkin anekdot rada aneh, tapi sesungguhnya mencerminkan keadaan kita sehari-hari. Mencerminkan keadaaan seseorang yang berusaha bersabar, tapi masih merasa hidupnya selalu berada dalam kesusahan. Ia mungkin, belum menyadari indahnya kesabaran dalam hidupnya.

                Yang pengen gue bahas sekarang adalah pembiasan makna sabar yang sering terjadi di antara kita. Sabar itu seolah-olah artinya cuma menunggu. Itu perkataan ulama’ siapa juga gak tahu. Pokoknya sabar itu menunggu. Sampai muncul quote, sabar itu ada batasnya, ketika seseorang terlalu lama menunggu.

    Salim A Fillah, menggambarkan dalam satu bukunya, Jalan Cinta Para Pejuang, tentang pembiasan makna ini. Karena gue gak hafal ceritanya ngeplek, gue pas-pasin aja ya.

                Alkisah seorang pemuda, sebut saja dia Fahry Muhammad Ihsan, ingin melamar seorang akhwat, sebut dia Aisyah. Fahry datang ke rumahnya Aisyah. Nembung ke bapaknya (langsung to the point aja kakak)..

                “Pak, Kedatangan saya di sini pertama ingin menjalin silaturrahim. Agar kita semua diberkahi. Agar Allah memanjangkan umur kita. Kedua, tujuan saya ke sini adalah hendak mengamalkan salah satu sabda Rasulullah. “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mampu, menikahlah” Nah, maksud saya, saya ingin menikah dengan anak Bapak, Aisyah”

                Si Aisyah udah menunggu di dalam kamar. Dia juga pengen. Yee... Tapi, bukannya bertanya ke Aisyah, tapi sang bapak langsung langsung menjawab. “Ya, saya sebenarnya juga ingin, tapi kan Aisyah masih kuliah, alangkah lebih baik jika adik menunggu dianya lulus dulu”

Kalau gue yang digituin, mungkin gue langsung ngeluarin hadis Rasulullah yang berbunyi,
“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”
Jleb. Jeder. Klontang-Klontang.

                Tapi Fahry bukan gue. Dia lelaki sopan dan baik hati. Dan pula, bapak tadi gak nolak, cuma menyuruhnya menunggu. Fahry pamit pulang meskipun hatinya remuk. Trek trek dung ces.

                Hari demi hari berlalu. Dia lama berfikir. Dia harus menunggu orang yang di-istikhoroh-inya lulus. Itu masih 2 tahun lagi kakak. 2 tahun memang bukan waktu yang lama seandainya dijalani, tapi kali ini keadaanya berbeda. Dia sudah nggak kuat kalau harus menahan hawa nafsunya terlalu lama. Status hafidz dan mahasiswa berprestasi yang disandangnya, ditambah wajahnya yang ganteng membuatnya digemari mahasiswi di kampusnya. Bahkan, beberapa akhwat pun juga menaruh hati padanya. Gak percaya kegantengannya, coba buka sendiri akun fbnya di sini.

                Oke, lanjut. Setelah berfikir panjang, akhirnya Fahry pun memutuskan untuk menikah dengan akhwat lain. Baginya sabar bukan hanya menunggu orang yang diharapkannya lulus. Sabar, juga berarti merelakan apa yang disukainya, untuk menghindari madhorot dan dosa. Ia ingin segera menikah, bukan karena ia tak mampu menunggu, tapi karena ia tak yakin masih mampu bertahan di fitnah dewasa ini.

***
                Dari cerita itu, dulu gue tersadar dari pembiasan ini. Mungkin kita lupa, pada perkataan Ibnul Qoyyim “Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (tidak lurus). Sabar ada tiga macam, yaitu sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dari maksiat, dan sabar dari cobaan Allah. ”.

                Bahkan, beliau juga gak menyebutkan kalau sabar berarti menunggu bukan? Jadi, gue berharap setelah ini, kita gak terkekang dengan persepsi bahwa sabar adalah menunggu. Lain kali, kita bahas masalah sabar ini lebih jauh. Gue tutup dengan sabda Rasul

Ash Shobru dhiya’, sabar adalah pelita” Ma Syaa Allah

Cinta Tak Harus Dimiliki

05/06/14

“Kucintaimu, tak berarti bahwa.. Ku harus memilikimu selamanya...”

Plis deh, pasti dari kalian banyak yang hafal lagu ini. Ini lagu kayaknya udah sejak zaman gue masih SD, tapi entah gak ilang-ilang dari ingatan. Padahal gue juga gak pernah murojaah. Ckckck. Giliran Al Qur’an aja, baru kemaren disetorin sekarang udah lupa. Hadeh.. Astaghfirullah..

Oke, mungkin lirik lagu di atas pada paham maksudnya. Menggambarkan perasaan orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan kayaknya banyak dari kalian yang sering ngalami. Kasihan deh.. :P

Gue bukan bermaksud pengen menghina kalian, karena jujur gue juga bernasib sama. -_-“ Gue disini cuma pengen ngasih hiburan, pengen ngasih contoh dari arti kata “cinta tak harus memiliki yang sebenarnya”. Kenapa? Karena kebanyakan kita itu terlalu lebay. Suka ketipu ama cerita dan roman-roman picisan. Lihat film yang boongan, baca novel atau cerpen yang agak romantis dikir langsung melow, terus teriak teriak, “Ihh, romantis banget.” atau mungkin “ihh, kasian banget”. Gak banget -_-“. Dan apa yang gue sampaikan barusan bukan fiksi, tapi beneran dan sering terjadi di sekitar kita.

Padahal ya, kalau kita mau buka siroh, ada cerita berkaitan dengan “Cinta tak harus memiliki” yang lebih keren. Cerita yang dialami oleh para sahabat nabi. Cerita suci yang penuh hikmah. Monggo disimak..

***
Dia adalah Salman Al Farisi, seorang pengembara dari Persia. Sebagaimana seorang pengembara lainnya, Salman merasa asing di negeri itu, Madinah. Sekalipun di negeri itu ada Rasulullah, sekalipun di negeri itu ada Sahabat-sahabat yang hebat, tapi fitrohnya sebagai manusia membutuhkan saudara spesial. Dia membutuhkan kawan yang mampu menjadi tempatnya berkeluh kesah. Dan akhirnya dia pun bersahabat dengan Abu Darda’.

Suatu ketika, Salman mengungkapkan pada sahabatnya keinginannya untuk mempersunting salah satu wanita Anshor. Karena ia kurang mengetahui tradisi dalam melamar di Madinah, Ia pun meminta Abu Darda’ untuk mengantarkan lamarannya. Baginya sahabatnya lebih layak untuk menyampaikan lamarannya, karena paham dengan kondisi sosio-kultural di sana. Tak lupa, Ia juga telah mempersiapkan mahar dan segala hal yang dibutuhkan untuk pernikahan tersebut.

Akhirnya diantarkanlah sahabatnya tersebut menemui wali sang fulanah. Mereka disambut dengan hangat oleh orangtua wanita tersebut, karena keduanya adalah sahabat Nabi yang masyhur. Tapi sang ayah tidak berani menjawabnya. Ia menyerahkan sepenuhnya jawaban atas lamaran itu kepada putrinya sendiri.

Sang putri kemudian berpikir, dan akhirnya memberikan jawabannya. Tapi jawabannya jauh banget dari yang diharapkan. Si fulanah tadi menolak lamaran dari Salman. Orangtuanya berkata “Maafkan kami, putri kami tidak bisa menerimanya. Namun jika Abu Darda’ mempunyai niat yang sama, dia menerimanya”.

Bayangin aja kalau kalian ada di posisinya Salman, apa yang bakal kalian perbuat? Mungkin kalian bakal nyesel karena telah salah memilih ‘pelamar’. Atau mungkin kalian bakalan sakit hati? Remuk? Tapi bukan seperti itu kelas para sahabat Rasulullah. Dan sungguh sikap mereka memang benar-benar layak untuk kita teladani.

“Allahu Akbar. Kalau begitu semua mahar dan persiapan ini aku berikan kepada Abu Darda’”, justru kalimat itu yang keluar. Gak nyangka? Kebayang gak kalian berucap kayak gitu? Merelakan orang yang kalian ikhtiyari dalam hidup pada akhirnya justru memilih sahabat kalian. Walaupun gue berani nulis begini, tapi jujur gue gak mesti kuat berbuat kayak gitu XD.

Tapi ingat sekali lagi. Meski para sahabat tidak ma’shum, mereka mempunyai akhlak yang agung. Mereka adalah hasil tarbiyah Rasulullah. Maka tak heran Salman begitu berbesar hati dengan sahabatnya. Ia begitu memahami, karena mencintai tak harus memiliki. Dan ia rela tidak mendapatkan apa yang dia inginkan selama orang-orang di sekitarnya bahagia karenanya. Kalian mampu kayak Salman?

***
Gimana? Itu tuh cerita sejati. Cinta dan romantisme yang patut dibanggakan. Gak cuma karangan orang-orang. Gue habis baca cerita ini biasanya langsung sadar kembali. Mencintai itu fitroh, tapi memiliki orang yang dicintai hanyalah kemungkinan. Yah, gue belum nikah, jadi gue gak berani ngomong kayak gini lebih dalam. Entar kalau gue udah nikah, gue bakal kasih tau deh arti cinta yang sebenarnya. Insya Allah. Pokoknya minta doanya aja yak ^^

Pembiasan Bahasa Cinta

10/01/14

Hidup ini kompleks, akan ada banyak hal yang terjadi. Kadang suka, kadang duka. Begitu juga dalam sebuah persaudaraan, akan ada saat dimana ikatan itu menjadi kokoh seperti baja, namun tak jarang pula menjadi selemah rumah laba-laba.
                Pernah cinta sama seseorang? Pasti dong. Pernah kecewa? Pernah bersedih? Dan pernahkah merasakan saat ketika apa yang kita berikan kepada orang yang kita cintai tidak bernilai sama sekali dimata mereka? Pasti pernah juga kan?
                Kalo uda kayak gini cuma ada dua kemungkinan. Pertama, dia uda wafat. Dalam tanda kutip yak. Jadi, sekalipun ia hidup hakekatnya ia uda mati.  Ga bisa diambi manfaatnya. Jadi buat yang ini mening cari aja pelabuhan cinta baru.
                Kedua, terjadi pembiasan bahasa cinta. Oke, bahasa gue mungkin rada payah, Sorry. Soalnya gue bingung pengen pake istilah apa. Pembiasan bahasa cinta atau dalam bahasa mudahnya kesalahan dalam penerjemahan bahasa cinta. Tepat ga? Mungkin ada yang punya istilah lebih bagus??
Hm, mari fokus ke yang kedua. Berapa kali sih ngrasainnya? Sekali, dua kali, puluhan kali, atau berkali-kali? Silahkan jawab sendiri.
Mungkin ada yang pernah ngalami ketika perhatian yang diberikan oleh sang pacar terasa sebagai sebuah intimidasi? Jujur Kalo gue Belom. Gue ga punya pacar :P
Ada juga mungkin para pengurus atau mudabbir yang sering pusing? Uda bekerja keras, bekerja sekuat tenaga tetapi anggotanya malah seenaknya sendiri. Sakpenake dhewe. Bahkan sampai mengkritisi para pengurus yang uda susah payah memberikan kasih sayang kepada mereka.
Begitulah kalo uda terjadi pembiasan. Ribet dan rumit. Gue sering banget ngalaminya, terutama akhir-akhir ini. Mangkel pasti. Tapi tetap sabar kudu diutamakan dan diupayakan. Karna yakin, akhir yang baik selalu Dia berikan kepada mereka yang bekerja sebaik mungkin.
Nah, maksud gue disini bukan pengen curhat bareng kalian yang pernah ngrasain hal ini. Bukan. Soalnya gue yakin kalian mungkin lebih sering ngrasain hal ini dan lebih paham seluk beluknya. Tapi gue pengen ama kalian yang sering menyalahartikan bahasa cinta orang-orang di sekitar kalian. Biar lebih gampang dan lebih nyata gue pakai contoh kisah di kehidupan gue yak. Sekalian curcol XD
Buat sekedar muqoddimah, gue ini tipe orang yang pengen punya banyak relasi dan hubungan. Pengen punya banyak persaudaraan dan persahabatan. Mending gue berkorban daripada harus mencederai sebuah persaudaraan. Ini adalah prinsip gue dan ini adalah bahasa cinta gue.
Mungkin ga ada masalah klalo hubungannya ama cowok doang, tapi kalo ama cewek? Ini nih yang bikin masalah. Ga kehitung ada berapa banyak cewek yang pernahy interaksi ama gue. Mulai dari temen sekolah, temen ngaji, temen les, temen chatting, temenghoib (?), temen tapi ga mesra dan banyak lagi. Seabrek pokoknya.
Nah, masalah muncul ketika kami udah lama kenal. Awalnya mungkin cuma ngobrolin hal yang penting, tahfidh lah, pelajaran lah, cuma bahas kemaslahatan. Tapi lama kelamaan setan semakin bergerilya. Obrolan kami pun mulai ga jelas. Mulai bahas hal yang pribadi, seperti kabar, perasaan, ama ukuran baju dan nomor sendal--“. Dan gue sadar, hal ini ga boleh keterusan.
Sedikit demi sedikit hubngan itu mulai gue kurangi. Dan akhirnya gue ga pernah memulai obrolan duluan kecuali buat perkara dhoruri. Dan bisa ditebak, mereka nganggep aku sombong.. Ada yang langsung marah-marah, ada juga yang ngunfoll twitku. Banyaklah jenisnya. Pyuh
                Padahal hal ini semata-mata gue lakukan karna gue cinta mereka. Karna gue ga ingin menzinai hati ini. Gue ga ingin ketika kelak mereka uda berumah tangga mereka masih aja bayangin gue dan menyesal karna suami mereka ga sekeren gue. Oke lupakan –“
Dan setelah berfikir panjang, gue harus mantap melakukan semua ini. Gue harus membiarkan tali ini putus, walau sebenarnya hati kecil berkata tidak. Karna bagaimanapun, cinta sejati itu cinta yang bisa dilogika. Bukan logika manusia, tapi logika cinta Sang Pencipta.
Hal di atas adalah salah satu penyebab terjadinya pembiasan bahasa cinta. Dan masih banyak sebab lainnya. Tapi ada satu penyebab selain ini yang juga sering terjadi. Seseorang susah untuk menterjemahkan cinta mereka.
Contohnya ada di film jayus buatan Singapura, I’m not stupid. Di situ ceritanya ada seorang bapak yang ingin anaknya punya masa depan cerah.Ia terlalu memaksa anaknya untuk menjadi seperti yang ia inginkan.  Dan ia salah menterjemahkan cintanya tersebut. Ibaratnya kalo ahrusnya make Simple Perfect, ia justru make Past Perfect. Bisa dibayangkan bagaimana sikap anaknya kemudian. Frustasi. Oke cukup.
Contoh yang lain kayak apa yang gue liat secara langsung. Jadi ceritanya gue punya santri binaan di desa. Gue pengen banget terus membimbing mereka, Cuma karna sistem di sini yang mengahruskan regenerasi maka mau tak mau gue harus merelakan junior gue yang mengambil alih tugas mulia ini.
Awalnya semua berjalan biasa, hingga akhirnya timbul masalah. Santri-santrinya pada protes. Komplain ke gue. Mereka pada ga klop ama muallim yang baru. Enggak cocok gitu. Dan mereka pengen gue yang ngajar lagi.
Gue sebenernya juga pengen, Cuma gue kudu sadar diri. Dunia akan berubah. Dan gue juga kudu nyadarin mereka akan hal ini. Mereka mungkin nganggep junior gue ga bisa ngajar dan terlalu cuek. Mungkin itu benar, tapi sebenarnya masih ada yang mereka lupakan. Karna gue yakin, para junior gue itu juga sayang ama mereka. Para muallim yang baru itu pasti juga pengen ada kebaikan diantara mereka, tapi mereka bingung gimana cara menyampaikan cinta itu dengan bahasa yang tepat.
Mungkin begitu aja contoh dari gue, tentang pembiasan bahasa cinta yang mungkin sering terjadi diantara kita. Oh ya, gue mohon doa dari kalian biar konflik ini cepet selesai. Biar gue ga ngerasa bersalah terus menerus. Dan doain istri gue seperti yang gue harapkan dan jadi terbaik di sisiNya :)
Terakhir, Saran dari gue buat kalian buat kalian yang sering mengalami kejadian ini. Jangan berduka dan bersedih hati, karna sesungguhnya cinta yang ada di sekeliling kita masih suci. Cinta ini masih lurus, hanya butuh sudut pandang yang tepat. Ibaratnya kayak pensil yang tercelup di air. Kelihatannya bengkok walau sebenarnya lurus. Bukan cintanya yang bengkok, hanya kerapatan hati kita yang berbeda. Maka samakan kerapatan kita, dan yakinlah bahwa cinta mereka selalu ada, dulu, kini, dan nanti... Karena pelangi yang indah juga ada karena pembiasan.....

Cinta

27/08/12

Cinta bukanlah budak dunia
cinta juga bukan nafsu semata
Cinta adalah anugerah rabb kita
yang diberikannya kepada hambanYa

Cinta tak dapat tuk dipaksakan
Cinta adalah sebuah kerelaan
Cinta adalah ujian hidup di dunia
Dengan hjidup bersama orang yang dicinta

Cinta adalah fitrah manusia
Cinta juga bukan pemuasan syahwat saja
Cinta adalah sebuah kasih sayang
Di jiwa hamba berhati tenang

Cintailah Allah dan RasulNya
Cintailah juga Jihad di jalanNya
Dan jangan lupakan orang tua kita
Dan semua umat Islam di dunia

Ku mencintai kalian karena_Nya
Sebagai kewqajiban seorang hamba

Untuk Dia yang Disana



Teruntuk Ukhti …….

Assalamu’alaikum, kaefahaluk? Semoga kau selalu berada di bawah naungan Dzat yang mengetahui segala isi hati ini…

Mungkin kau menganggap surat ini tak berharga, namun bagiku surat ini tak ubahnya seperti harta yang ditinggalkan seorang bapak kepada anaknya, sehingga karenanya Nabi Musa harus menegakkan bangunan di atasnya.

Aku yakin, surat ini bukanlah surat pertama yang nyasar kedirimu, karena kutahu bahwa banyak dari kami, para lelaki yang terjatuh dalam lubang ini. Namun, aku jauga masih yakin, kau masih punya sedikit ruang yang kau persilahkan untuk kuisi harapan dan mimpi-mimpi.

Mungkin kau tidak sadar bahwa kau telah memberi warna baru dalam hidup ini. Dan entah apakah kau tahu, kau ke telah menuntunku ke dalam rangkaian terumit yang tak kutahu cara menahlukannya. Kau telah mengusik malamku dengan kerudung biru itu. Memang hanya sebulan kita bisa bertemu di alam fana ini, namun tanpa kau sadari kau hadir selalu dalam tiap mimpi-mimpiku.

Mungkin kau tidak sadar, bahwa Senin pagi itu telah merubah pola hidupku. Di pagi itu aku merasakan sejuknya Angin Surga yang dihembuskan dengan penuh cinta disaat orang lain terganggu udara panas yang menyesakkan dada. Dan sejak hari itu, semangatku menggebu-gebu untuk memasuki ruangan bambu itu demi melihat seorang bidadari berkerudung biru.

Mungkin kau juga tidak tahu, bahwa senyummu telah menggetarkan hati ini. Menggetarkan hati seorang pemuda yang sedang mencari jati diri. Ditambah lagi perhatian yang kau berikan, membuat pikiran pemuda itu melayang tak karuan dan mengoyak pintu yang selama ini tersimpan dalam labirin kehidupan.

Aku sadar, diriku ini bukanlah Nabi Yusuf, yang ketampanannya melenakan seluruh wanita di kotanya. Aku juga bukan boyband Korea, yang keberadaannya membuat seluruh wanita menjerit histeris.

Aku juga sadar, bahwa aku adalah seorang yang mengemban amanah umat, yang harus selalu berbuat baik, tanpa boleh ,mengeluarkan ralat. Tapi aku juga manusia yang ingin disayang dan dicinta. Dan segumpal daging itu telah memilihmu sebagai orang yang terus mendebarkannya.

Aku cuman ingin mengatakan, bahwa aku mencintaimu. Cinta tulus karena Allah dari dalam lubuk hatiku. Namun kau tak usah risau, karna aku nggak pernah berharap lebih darimu. Aku cuman berharap semoga cinta ini dijadikan suci di atas kalimatNya, tanpa harus menzinai orang yang memilikinya. c:

Jazakillah atas perkenaan hati ukhti untuk membaca curahan hati ini. Semoga kelak kita dikumpulkan di surga Ilahi.

Wassalamu’alaikum
 Terucap salam


Huda
#ternyata aku punya bakat yang terpendam…
:D
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS