Tampilkan postingan dengan label temen2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label temen2. Tampilkan semua postingan

Kupu-kupu sebelum Kupu-kupu

28/07/15

“Binatang apa yang paling aneh?”.
“Belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam minum susu”
Tebakan tersebut menjadi begitu tersohor di masa kecil saya. Pun juga ketika seorang ibu me-ngliling bayi kecilnya dengan kata legendaris tersebut, ditambah sedikit awalan “pok ame-ame”. Ah, jadi rindu masa ketika memberi hiburan ke anak dengan kata cinta, bukan sekedar gadget yang tak bernyawa.

Tentang kupu-kupu, pasti kita pernah mendengar lirik lagu ini, “persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu”. Entah siapa penyanyinya saya sendiri juga ndak tahu, yang jelas ada salah satu stasiun televisi swasta yang menayangkan sinetron dengan soundtrack lagu ini, yang juga sempat menjadi salah satu topik obrolan kawan-kawan saya di mahad Al Mukmin semasa itu. Saya cuma bisa menyimak tanpa mampu menanggapi, Alhamdulillah saya emang rada kuper. :)

Mengenang masa di pondok emang tiada habisnya, pun bagi saya yang baru purna dari mahad ‘Hidup Mulia’. Masa-masa di pondok ibarat sejarah kehidupan yang perlu dikenang, bersebab di dalamnya sebuah pribadi bermetamorfosa, dari seorang yang mbok-mbokan dan suka dimanja menjadi sosok pasangan-able yang ndak cuma memancarkan akhlak mulia, tapi juga bermanfaat bagi sesama. Seperti ulat yang banyak dilirik jijik, menjadi kupu-kupu yang berwarna ceria. Menebarkan keindahan ke alam semesta. Tak salah mungkin kalau kita mengganti lirik lagu di atas menjadi, “Pesantren itu bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.”

Setiap santri pasti punya kenangan indah tentang kehidupan kepesantrenannya. Dari sejak awal ia masuk, hingga ketika ia berisak mengikrarkan janji untuk berbudi mulia saat wisuda. Namun, izinkan saya bercerita tentang dua orang pribadi, orang yang begitu dekat dengan saya dan telah saya anggap adik kandung sendiri, tentang secuil perjuangan mereka. Perjuangan bermetamorfosa menjadi akhwat yang sejati, yang kelak kan dicemburui para bidadari.

Saya menjadi saksi mereka berdua berkembang semasa SMP. Melihat dari masa masih dipenuhi kepolosan, sampai masa ketika saya harus menundukkan pandangan. Melihat bagaimana mereka menetapi dan meniti jalan ini, hingga mampu berubah menjadi sosok yang layak untuk diceritakan kebajikannya. Sekarang pun, mereka masih terus berusaha berubah, karena saya yakin mereka sadar, jalan hijrah yang kan ditempuh masih panjang.

Sungguh, saya merasa malu, sering dianggap oleh mereka berdua sebagai sosok yang memotivasi, padahal sesungguhnya sayalah yang lebih layak untuk bercermin dan berbenah diri. Izinkan saya berceritera tanpa menyebut nama asli mereka, pun bagi yang tahu dimohon untuk tidak menyebarkan siapa sebenarnya mereka, demi menjaga keikhlasan hati mereka berdua.

Dia yang pertama, anggap saja si A. Dia terlahir dari keluarga pra-sejahtera. Kata orang pun rumahnya mewah, mepet sawah. Tapi semangatnya menuntut ilmu tak tergantikan. Setiap saya taklim ia selalu menjadi juru bicara kawan-kawannya. Mencecar saya dengan pertanyaan yang kadang bisa dikatakan rada nyeleneh, tapi justru berbobot dan menyadarkan. Kalau dia tak ada, masjid pun seolah terasa sepi. Tapi jujur, saya bersyukur bersebab itulah saya sadar, aih ilmu saya masih terlampau sedikit. Dan hal itu pun masih berlanjut hingga generasi berganti.

Purna masa studi di mahad ‘hidup mulia’, saya mendengar kabar yang mengejutkan, lebih tepatnya menggembirakan. “Kak, insyaAllah saya sama si B (sahabat karib si A yang nanti akan saya ceritakan) akan melanjutkan sekolah di pondok. Si B alhamdulillah sudah diterima di mahad X. Kalau saya, doakan biar diterima di mahad Y“. Saya yang menerima kabar itu pun hanya bisa mengamini, seraya berdoa semoga niat mulianya dikabulkan oleh Rabbul Izzati.

Suatu ketika, dia datang ke rumah nenek saya di lereng gunung lawu. Bukan, bukan menemui saya, tapi menemui tante saya yang juga tetangga dia di desa aslinya. Mereka mengobrol lama berdua di ruang tamu, dan saya pun ndak berani menyimak. Obrolan wanita. Beberapa waktu pun saya baru mendengar kabar dari umi, ketika tante saya bercerita. Ternyata sore itu dia menangis, bercerita tentang kendala buat masuk ‘penjara suci’.

Jadi, uminya alhamdulillah, akan dikaruniai buah hati lagi. Tapi dari situlah kegalauan itu bermula. Uminya kini tak lagi bisa bekerja seperti biasa, demi kebaikan janin yang dikandungnya. Dikhawatirkan jika dia bersekolah di pondok, orang tuanya ndak bisa membiayai, dan lebih takut seandainya dipaksa, sekarang bisa masuk tapi nantinya berhenti di tengah perantauannya. Umiya pun menyuruhnya untuk menunda studi setahun dulu, menggunakan setahun itu untuk bekerja, membantu menyokong kehidupan keluarga sambil mengumpulkan tabungan untuk kelanjutan studinya.

Dia kurang setuju dengan yang diinginkan uminya. Bukan, bukan karena niat durhaka. Tapi dia takut ketika ia berkerja sekarang, niat untuk masuk pesantren jadi hilang terpudar. Saya yang mendengarnya langsung terenyuh. Ketika mendengar itu dari umi, saya langsung bilang dengan aksen jawa yang kurang lebih artinya, “Mi, alhamdulillah kan kita diberi rizki agak lebih oleh Allah. Lha uangnya beberapa juga dipakai buat anak asuh kan? Mending beberapa anggaran diarahkan buat membantu si A. Saya kan pernah mengajar dia, insyaAllah semangat dan kepribadiannya baik kok mi.”

Saat itu, saya menyampaikan dengan wajah rada melas. Dan hal itu cuma berani saya sampaikan ke umi, soalnya kalau ke ayah takutnya dikira ada apanya. Alhamdulillah, umi bilang “InsyaAllah, nanti umi sampaikan ke ayah.” Alhamdulillah, akhirnya permintaan saya beliau kabulkan.

Dan Senin kemarin, kami mengantarnya ke mahad atas permintaan salah satu teman karib ayah yang juga kolega mahad Y. Saya pun turut serta, karena mau sekalian mampir ke Magetan, memenuhi beberapa keperluan kuliah. Sesampainya di mahad yang dituju, saya ndak tega lihat kondisinya. Jauh banget dari mahad saya semasa SMP dulu, apalagi sama mahad ‘hidup mulia’. Terpencil dari kota, aksesnya pun jauh dari kendaraan umum. Saya sendiri merasa, ah mungkin kalau saya yang dilepas di mahad ini mungkin ndak bakal betah lebih dari sehari.
Tampak depan mahad yang akan dicintainya

pembangunan mahad yang sampai sekarang masih berjalan

Di sana teman karib ayah menceritakan bagaimana keberkahan mahad tersebut. Tentang kebersahajaan dan kesederhanaannya, yang justru darinya naungan barakahNya tercipta. Meski dengan lauk seadanya, tapi  justru banyak santriwatinya lebih gemuk ketika pulang menikmati liburan. Mungkin segala keadaan tersebutlah yang justru bisa melahirkan para calon ummahat sejati. Ya Rabb, baarik lahunn wa baarik ‘alaihinn.

Sepulang dari sana, saya mendapati cerita lain yang juga membuat saya terharu. Tentang bagaimana si A tadi semasa SMP mengumpulkan uang untuk bekalnya, bahkan ketika libur UN menjadi seorang perawat bayi dadakan selama 2 bulan agar bisa memenuhi mimpinya menuntut ilmu di mahad. Tentang bagaimana dia menjadi yang pertama meminta brosur dan mendaftar, bahkan ketika pendaftaran sendiri belum dibuka. Dan saya teringat tak henti ketika kami hendak pulang, dia mengucap jazakumullah terus. Meski tak memandang langsung, tapi saya bisa merasakan bagaimana terharunya dia. :’( Tapi alhamdulillah mulai hari itu, akhirnya terwujudkanlah mimpinya untuk menjadi seorang santriwati.

Berkisah ke sosok lain, sahabat si A yang belakangan saya ketahui ternyata dia juga saudara sepupunya. Seorang yang bagi saya lebih nyantri daripada seorang santriwati yang sejati. Semasa SMP pun, saya begitu takjub melihat amalnya. Bagaimana dia meski di sekolah negeri masih bisa istiqomah menghafal juz amma, melaksanakan sholat dhuha, dan juga berpuasa. Puasanya pun bukan hanya puasa senin dan kamis, tapi juga digabung dengan puasa dawud. Saya selalu malu, jika membandingkan amal saya dengan amalnya.

Semasa saya ajar pun, si B ini juga hampir selalu hadir. Meski lebih banyak diam, tapi dia seolah menjadi ruh dari halaqoh itu. Ketika dia berhalangan, seolah ada sesuatu yang tidak terhadirkan. Sebenarnya, saya dan bahkan tante saya sendiri pun menyayangkan, kenapa dia masuknya mahad X tadi. Tapi tak apalah, bukankah tak bermasalah jika sama-sama menimba ilmu agama, pikir kami. Dan juga, hawa mahad ‘hidup mulia’ insyaAllah bisa mewarnai langkahnya untuk tidak tergesa.

Tentang si B, mungkin tiada banyak kisah yang bisa saya ceritakan. Karena meski belum layak dikatakan berakhlaq Al Quran sempurna, tapi setiap amalnya selalu membuat saya terkesima. Kaana amruhaa ‘ajaban, mungkin itu agak bisa mewakilinya.

Oh ya terlupa. Semenjak lulus dari jenjang SMP bulan lalu, mereka berdua memutuskan untuk meningkatkan kualitas berpakaian mereka. Memang sudah syar’i sebelumnya, tapi mereka menambahkan cadar untuk lebih menjaga taqwa. Bercerita tentang mereka, sebenarnya mereka tak layak untuk dianalogikan sebagai ulat yang bermetamorfosa. Karena mereka telah menjadi kupu-kupu, sebelum meringkuh dalam kepompong untuk bermetamorfosa lebih indah dari sebelumnya. Mungkin dari situlah saya terinspirasi memberi judul artikel ini, kupu-kupu sebelum kupu-kupu. Barakallahu fiihimaa.

Sebenarnya saya malu bercerita tentang kedua sosok ini di sini, karena jujur saya begitu banyak menimba ilmu dari mereka. Saya bersyukur, pernah bertemu dengan kedua sosok ini, karena mungkin setelah ini, akan susah bagi kami untuk berinteraksi kembali. Bagaimanapun, kami bukan mahram kan? Sebenarnya juga ada beberapa yang lain yang juga punya cerita, hanya karena keterbatasan saya ndak sampaikan semua. Saya berharap, jika calon istri saya kelak saat ini membaca artikel ini, mohon kelak ingatkan saya untuk menyambung tali silaturahmi dengan mereka. Jangan berburuk sangka juga ya. Hehe.

Semoga cerita di atas bisa memberi kita motivasi. Saya hanya menitip doa bagi kebaikan saya, kalian semua, dan terutama mereka kedua. Semoga Allah selalu mengilhami kita jalan yang Dia ridhoi. Semoga kita diberi keistiqomahan untuk meniti ‘jalan lurus’ ini. Wallahu a’lam bish showab.

Klaten, 12 Syawal 1436 H
Huda S Drajad

[PICT] FAI X

24/03/15

Momen reuni keluarga kecil. Meski tak mendapat juara umum, tapi alhamdulillah 'alaa kulli haal














30 juz itu 2 hari

08/01/15

“Mimpi, adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya...”

Laskar Pelangi, salah satu novel yang dulu pernah booming di pondokku. Novel ini direkomendasikan oleh beberapa ustadz, katanya memotivasi. Aku sendiri juga sempat beli satu di Sriwedari, dengan kualitas bajakan esek-esek, kan cinta produk lokal :D. Filmnya pun kami tonton bareng-bareng di pelataran yang biasany a dipakai buat futsal. Dan saat itu, nggak sedikit yang nangis lihat perjuanggannya si Lintang.

Semua orang pasti punya mimpi. Cowokkah, cewekkah, atau bahkan cowok setengah cewek. Aku juga percaya kalian juga punya mimpi. Ada yang pengen jadi dokter, perawat, suster ngesot, pilot, pramugari, pramusaji, psikiater, psikolog, psikopat, pokoknya banyak lah.

                Semua mimpi-mimpi biasanya kita abadikan menjadi tujuan yang kita kejar dengan kesungguhan. Setiap tahun berganti, ada banyak target baru yang dicanangkan. Biasanya di akun @warung_blogger ada post-post yang isinya tentang target dan resolusi mereka ke depannya. Ada yang keren-keren tapi nggak sedikit juga yang GJ, kayak kamu, iya kayak kamu. #Plak

Aku pas setoran, make jubah, jaket, ama sorban XD
                Di tahun ini, aku juga punya mimpi yang ingin kudapatkan. Pertama, pas ujian tahfidz bisa setoran 30 juz. Kedua, lulus UN dengan nilai tertinggi se-Indonesia (tinggi bohai targetnya). Ketiga, diterima jadi mahasiswa FK UNS/UGM dengan beasiswa full. Dan terakhir, sukses dalam bisnis yang akan kumulai kelak pas kuliah nanti. Insya Allah.

                Mencanangkan 4 target di atas, awalnya aku juga nggak yakin. Emang apa bisa. Aku sendiri ketawa kok bacanya, apalagi kalian. Bwahahaha. Tapi alhamdulillah, dengan ijinNya 1 mimpi udah tercapai di tanggal muda bulan pertama, bisa setoran 30 juz. Beberapa kalian mungkin nggak percaya, tapi beneran, aku jujur. Aku nggak pengen riya’. Aku cuma pengen berbagi rasa, bahwa setiap mimpi pasti bisa diwujudkan. Bahwa apa yang dianggap dongeng oleh manusia bisa menjadi kenyataan di tangan mereka yang percaya janjiNya (quote favorit).

***

Waktu SMP, aku bertanya-tanya. Mana mungkin sih orang setoran 30 juz sekali duduk. Apa mulutnya nggak berbusa melantun tulisan setebal 600 halaman gitu. Apa dan apa, dan aku masih bertanya-tanya.

Dan ketika akhirnya aku diterima jadi salah satu santri di ma’had hidup mulia ini, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. 3 tahun yang lalu, musyrif kamarku, mas Musa Al Azzam mampu menyetorkan hafalan 30 juz dalam 2 hari. Amazing masya Allah. Dan aku yang saat itu masih kecil, polos, dan unyu pun termotivasi, pokoknya aku pas ujian kudu bisa setoran 30 juz juga.

                Maka, sejak saat itu, aku selalu menargetkan, pokoknya aku kudu bisa setoran 30 juz, pokoknya kudu bisa. Dan Alhamdulillah, musyrif tahfidzku, ustadz Faiz Baraja memberi nasihat yang terus kucoba amalkan sampai sekarang. Man qoroa khomsah falaa yansaa. Barangsiapa yang membaca 5 juz dari Al Qur’an, niscaya ia tidak akan pernah lupa.

                Sejak saat itu, aku jadi rajin membaca 5 juz darinya. Dan sekali lagi aku bersyukur, di semester ketiga aku bersekolah di ma’had hidup mulia, aku mampu merampungkan hafalanku. Tapi selesai bukan berarti lancar, aku mengakuinya. Maka aku meneruskan tradisiku membaca 5 juz dari Al Qur’an, berturut hingga akhirnya aku menginjakkan kaki di kelas 12. Dan alhamdulillah musyrifku setelahnya ustadz Khoiril Azka dan ustadz Hilmy Zulkarnaen juga setia memberi motivasi dan menyimak hafalanku.

Dua minggu menjelang ujian dilakukan, aku kembali menggalau ria. Harap-harap cemas, seperti kebanyakan orang bertipe melankolis lainnya. Tapi alhamdulillah, dengan wasilah karantina yang diadakan di ma’had seminggu sebelumnya, membuatku kembali yakin bisa memenangkan pertempuran.

                Pas karantina, banyak teman-temanku yang berguguran. Memang, saat itu udara dinginnya nggak nguati. Apalagi adanya tahun baru, membuat jalan di depan ma’had jadi macet parah (yang ini nggak nyambung). Hingga akhirnya, beberapa ikhwah pun terpaksa mengatur ulang target dan planning ujian mereka. Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk mengikuti karantina hingga purna.

                Sehari sebelum ujian, aku mulai meriang. Badanku panas, batuk-batuk, dan pilek. Aku jadi pesimis lagi. Belum bisa bayangin kalau seandainya paginya aku nggak bisa setoran. Malam itupun, aku nyari doping. Dari madu, habatus sauda’, sampai propolis. Pokoknya ikhtiyar gimana caranya paginya badanku udah fit dan bisa beli bubur setoran lagi.

                Pengujiku adalah ustadz Syarqun. Aku was was, nanti kalau ustadz Syarqun jodohin aku sama anaknya gimana ya, kan aku belum siap #plak. Tapi tak apalah, bismillah. Dan paginya, perjuangan dimulai. Jam 6 ustadz Syarqun baru dateng. Dalam 2 jam pertama, alhamdulillah 6 juz berhasil kusetorkan. Setelahnya, aku makan roti ama doping-an lagi. Dan aku pun kembali merasa pusing.

                Jam 9 kami janjian untuk kembali memulai setoran. Alhamdulillah, meski kepala terasa berat dan pening, tapi 7 juz berhasil terlewati. Kini 13 juz berhasil kukumpulkan. Sholat Dzuhur, aku disuruh pergi ke Masjid di sebelah pondok, karena biasanya beliau sholatnya di sana. Aku pengen protes, ustadz aku sakit, tapi aku kan cemen. Ya udah, dengan kepala pusing aku mandi terus ke masjid yang beliau maksud.

                Ba’da dzuhur, baru bisa menyelesaikan sampai surat Thoha karena tiba-tiba beliau kedatangan tamu. Yah, alhamdulillah sih, soalnya saat itu aku juga mulai pening lagi. Aku pun berjalan gontai ke arah asrama. Panasnyooo... Sholat ashar, aku pun kembali ke masjid tadi. Selesai merapungkan 2/3 dari Al Qur’an. Setelahnya aku ingin bilang ke ustadznya aku udah terlalu pusing, pening, dan panas. Udah nggak kuat kalau dipaksa menyelesaikan hari itu juga. Alhamdulillah sebelum aku ngomong beliau udah bilang “Antum besok ijab sama jama’ah pengajian saya ya lagi aja ya setorannya, nanti malam soalnya saya ngisi taklim.” Siap tadz, aku bersyukur banget sore itu.

                Setelahnya aku langsung ngebo. Badan ini udah nggak fit lagi. Akupun mempewekan diri ke kasur dan berkerukup ke dalam eSBi. Saat itu aku merasa mengigau, badanku panas dan berkeringat semua. Duh gusti, seperti inikah ujian kalau kita pengen nikah muda kebaikan. Dan malam itu, aku tidak bangun dari tempat tidur kecuali ketika menjelang tengah malam untuk meminum obat dan menngganjal perut. Sholat pun terpaksa di atas ranjang. Tapi alhamdulillah, paginya aku bangun udah jauh baikan.

                Pagi hari aku kembali bergalau ria. Ini ustadnya dimana? Ternyata usut punya usut beliau lagi ada tamu. Dan diundur setorannya setelah Ahad pagi. Pagi itu sarapan dengan cilok enam ribu, soalnya aku takut, kalau makan nasi nanti jadi banyak ria’nya. Lagian aku juga udah kangen sama jamaah Ahad pagi kok, eh.

                Jam setengah sembilan, aku kembali memulai setoranku. Alhamdulillah, meski beberapa kali harus ngambil tisu karena hidungku meler terus, tapi 30 juzku berhasil terselesaikan tepat sebelum adzan dzuhur. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Dan di kamar, kulihat teman-temanku menyunggingkan senyum termanis mereka. Uhibbukum fillah :)

***

                Siang itu, aku merasakan kenikmatan yang tiada terkira. Dan kami semua bergembira, terutama anggota Pasukan Langit. Total, hari itu ada 3 orang dari kami yang menyelesaikan 30 juz. Dan satu temanku, akh Romy Abdul Malik membuat rekor baru di Isy Karima. Beliau menyetorkan hafalan 30 juz tanpa satupun kesalahan. Barakalah barakallah. :))

                Betullah pesan ustadz Zarkasyi sebelum kami melaksanakan ujian, “Setoran 30 juz itu kenikmatan yang tidak ada duanya dengan dunia. Kalau kalian udah bisa menyetorkan 30 juz, niscaya kalian merasa sebaik-baik kenikmatan ada di genggaman tangan dan memenuhi hati kecil kalian. Kalian akan merasa cukup dengan itu.”. Masya Allah, tapi meskipun begitu aku masih pengen tadz dikasih r25 atau ninja. Ahaha :D

                Maaf kalau kurang berkenan, semoga aku memostingnya bukan karena riya’ atau keduniaan. Semoga postingan ini bisa memberikan motivasi bagi kita semua, karena nggak ada yang mustahil di dunia. Mari kita kejar mimpi kita sama-sama. :)

Klaten, 16 Rabiul Awwal 1436H

Long March, Ring of Lawu Expedition

21/12/14

Kelompok 3, kece-kece yak, eh
Oke, aku mau cerita tentang kegiatan akbar yang udah pernah aku lalui. Long March XI The Ring of Lawu Expedition. :)) Perjalanan rutin tahunan ini emang mengesankan banget. Dan tahun lalu, kami mendapat rute cincin lawu, 99 kilometer melalui jalanan desa dan kota, melewati rimbunnya hutan dan damainya kebun teh, menaklukkan tanjakan dan menikmati turunan. Alhamdulillah alhamdulillah.

“ Impian ada di tengah peluh bagai bunga yang mekar secara perlahan ...”

Oke stop jangan diterusin. Itu cuma cuplikan lirik yang kebetulan (kebetulan?) kedengeran waktu jalan kemaren. Jujur, aku nggak (terlalu) hafal, mungkin kalian ada yang lebih hafal? Sedikit out of topik, sehabis denger lagu ini aku jadi bersemangat lagi setelah mulai penat dan lelah jalan 4 hari.

Yap, kembali ke topik utama, aku pengen bercerita tentang long march tahun lalu. Bukan bermaksud buat pamer atau riya’, cuma buat sekedar berbagi pengalaman dan ilmu yang aku dapetin selama perjalanan 4 hari 4 malam.

Persiapan Long March
Dalam setiap long march selalu dibagi menjadi beberapa kelompok. Untuk memudahkan koordinasi selama perjalanan. Aku tergabung di kelompok 3 dengan ketua temen aku yang buuuaaaiiiik banget, Kak Fahry Fahrozy. Bukan melebaykan, tapi ini sesuai dengan kenyataan. Kalau diantara kalian pengen punya suami atausaudara ipar yang baik, pilih anak ini. Ma Sya Allah banget. Nggak kalah sama Fahry-nya Ayat-Ayat Cinta.









Ahad, 15 Desember 2013

Perjalanan kami dimulai. Berbekal persiapan yang udah ada, terus tausiyah singkat dari Ustadz Syihab, kami berangkat memulai ekspedisi memutari Lawu. Kelompokku berangkat ke 6. Hari pertama katanya paling berat. Dimulai dari Ma’had terus jalan ampe Sarangan.

Tausiyah Ustadz Syihab jilid 1
Dan mitos paling berat itu bukan isapan jempol belaka. Emang bener-bener berat. Tanjakan menukik tajam menanti di jalur yang kami lewati. Setiap berhenti pasti ngabisin satu liter pocary. Parah. Dan ‘Penderitaan’ itu masih ditambah dengan panasnya terik matahari. Fyuh.

Berjalan sekitar 4 jam cuaca berubah, bukan sekedar mendung tapi hujan deras. Aku yang waktu itu sok kuat nekat nggak makai jas hujan. Dan hasilnya aku kedinginan dan selangkanganku lecet semua. Tapi alhamdulillah, hujan akhirnya reda. Setibanya di bundaran HI-nya Tawangmangu, kami berhenti. Nyantap-nyantap cilok yang kebetulan (pedaganya) ikut berteduh. So sweet pokoknya. Sayang disekeliling aku cowok semua -_- :D

Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Masih diiringi dnegan bulir barakah dari langit. Jam 1 kami sampai di pos bayangan. Istirahat lagi, sholat ama makan siang. Langsung cabut lagi. Setelah itu perjalanan biasa, nggak ada momen spesial, hingga kami tiba di Cemoro Sewu. Sejak awal niat kami emang pengen nguliner di sana. Makan bakso sembari menikmati dinginnya angin semilir. Brrr...

Habis itu udah, kami lanjut. Hujan kembali turun, meski nggak selama dan nggak sederas yang pertama. Kami jalan lagi nyampe pos 1 di Masjid Baitul Makmur Sarangan. Kami tiba nomor 8, sekitar jam 5an. Habis itu, acara pribadi.. :))

Senin, 16 Desember 2013

Tausiyah ustadz Syihab jilid 2, Sarangan
Pagi hari terbangun langsung melakukan tradisi, nyari kamar mandi. Dan Masya Allah, penuh semua sama adho’. Karena udah nggak ketulungan, aku sama temenku paksain buat nyari masjid lain. Alhamdulillah ketemu. Karena udah terlanjur numpang MCK, kami sekalian sholat disana, sembari berbaur sama warga sekitar. Tak lama, karena matahari udah meninggi dan kami udah ada di Sarangan, kami langsung move ke telaganya. Nggak disangka disana temen-temen aku yang lain udah pada berpose. Eaaaa. Aku nggak mau kalah ikut nyempil masang muka sok keyen :3

Pagi itu, ada tausiyah lagi dari ustadz Syihab. Jam 6 perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini kelompok kami dapat giliran pertama. Meski begitu aku pesimis nyampe pos pertama juga. Secara, mentalnya jadi kelompok penyapu -_-“

Di tengah jalan, kami sempet-sempetin beli Mpbox. Buat temen selama di perjalanan. Soalnya perjalanannya serasa garing. Alhamdulillah dapet. Merek kaleng KFC, harga 50.000. Tapi habis itu muncul masalah baru, ga ada memori. Hadeh...

Perjalanan kali ini lebih panas. Panas dalam dua arti. Pertama, udara emang panas banget. Kedua, panitianya salah nyari pos bayangan. Secara, posnya barengan ama anak-anak pramuka yang lagi pada kemah. Kalo cuma cowok mungkin nggak bikin panas, tapi ini ada harem-nya juga. Fyuh. Untungnya aku udah punya tambatan hati, jadi nggak sempet liat liat yang bertebaran kayak gitu. Eh...

Masih sempet maen bola :0
Perjalanan terus berlanjut. Jam 4, kami tiba di daerah yang jalannya super jelek. Bergelombang batu, bukan cuma kerikil. Kalau mobil kalian Honda Jazz, in sya Allah nggak bisa lewat :)). Lubangnya menganga banget. Daerah itu udah masuk Ngawi, bukan di Magetan lagi. Saat itu 4 kelompok saling berlomba susul menyusul buat jadi kelompok terdepan. Tapi tak disangka, ternyata kami tiba di pos kedua bersamaan. 4 kelompok nda. Dan lebih ngagetin, kami nyampai jam setengah empat :0

Waktunya ternyata luang banyak banget. Karena temen-temen aku termasuk tipikal yang waktunya nggak pengen terbuang sia-sia, mereka mencoba cari aktivitas. Maen bola woy --“. Emang itu kaki bukan kaki biasa.

Di sana, kami numpang di SMP 2 Kendal, Ngawi. Sekolahnya memprihatinkan banget. Semoga pemerintah segera membuka mata. Amin


Dan malem hari di sana terasa horor banget. Bayangkan aja, sekolah di tengah hutan, dengan keadaan remang-remang gitu. Dan karena masjidnya penuh, beberapa mudabbir tidur di ruangan kelas, dan bikin merinding. Hiiii.. :|








Selasa, 17 Desember 2013

Pagi, sehabis bersarapan dengan nasi berlaukkan mi, kami berangkat menyusuri Ngawi. Di hari ketiga ini, kami diberi amanah dari asatidzah, untuk menyebarkan biji-bijian di sela-sela perjalanan. Diharapkan dengan disebarnya biji itu, mereka bisa tumbuh dan memberi manfaat bagi semua mahluk, manusia maupun hewan.

Perjalanan hari ketiga ini ekstrim banget. Ada jalur menanjak 60 drajat, yang panjangnya hampir 1 kilometer. Pokoknya kaki pegel semua. Alhamdulilllah, setelahnya kami disambut dengan kebun teh yang hijau, lagi menyejukkan. 8D

Sampai di Mts kehujanan
Pas di kebun teh itu, ada salah satu anggota kelompok kami yang rada nyeleneh. Dia memisahkan diri dari rombongan. Waktu itu, aku takut banget kalau kalau dia hilang atau tersesat. Tapi alhamdulillah, ketua kami, Fahry emang bener-bener keren. Dia kembali ke belakang buat menyemangati adik kelas yang satu tadi. Jazaahullahu khoiron minhu.

Singkat cerita, sampailah kami di SMP Al Irsyad Sine. Sore hari, kami pun menghabiskan waktu sinambi leyeh-leyeh dan dengerin nasyid bareng-bareng. Ditambah ngemil bakso bakar dan hujan yang mengiringi, sore itu terasa indah buat kami. Malem hari, bubur kacang ijo, menemani syahdunya kami di penghujung hari.

Rabu, 18 Desember 2013

Hari itu, hari terakhir long march Ring of Lawu. Pagi hari, sebelum pemberangkatan diisi tausiyah dari ustadzana Zaenal Abidin. Pas tausiyah itu, ada anak-anak pemilik sekolah itu yang mau sekolah, tapi harus tertunda gegara kehadiran kami. Ahihihi, yang ikhlas yak. Dan terlihat, beberapa adho’ curi-curi pandang ke anak-anak MTs tadi. Sekali lagi aku bersyukur, udah punya sawah target, jadi nggak berminat dengan sawah-sawah yang bertebaran di jalanan. Eh.

Makan di Kemuning Resto
Perjalanan hari terakhir terasa ringan banget. Apalagi waktu udah sampai ke perbatasan Karanganyar, rasanya itu plong. Lega. Kelompok kami berjalan dengan santai, karena di perjalanan terakhir ini, ada gosip asatidzah mau menaktrir seluruh santri makan ikan bakar di Resto Kemuning. Dan ternyata hal itu beneran. Alhamdulillah.

Selepas makan-makan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Dan sore itu, kami berbarengan 4 kelompok sampai ma’had. Udah kayak orang habis perang gitu. Geger. Apalagi, di jalan kami bertumu dengan rombongan besar anak PRAMUKA. Beneran udah kayak orang mau perang. Dan di jalan, anak-anak pada usil. Saat ada cewek cowok lewat, pasti anak-anak langsung teriak ‘istighfar’. Ahihihi. Dan beberapa mereka jadi salting.

Semuanya bisa jadi model
Jam empat-an, kami sampai di ma’had. Dan terakhir, selepas sholat, kami bercerita sampai kantuk datang.

Mungkin sekian cerita tentang long march tahun kemaren. Sebenarnya aku mulai nulis tentang long march ini setahun yang lalu, tapi karena berbagai kesibukan, akhirnya baru selesai sekarang. Alhamdulillah.


Dan pelajaran yang paling berharga saat Long March adalah kebersamaan dan persaudaraan. Dari perjalanan itu, kita tahu sebesar apakah rasa berkorban dan kecintaan kita pada saudara. Dan aku menyadari, ternyata banyak dari dalam diriku yang masih perlu dibenahi, terutama sikap egoisku. Allah muyassir.

Oh ya, kemaren adik-adik kelas baru saja selesai menaklukkan long march 110 kilometer mereka. Menempuh jalur dari Wonogiri, Ponorogo, sampai Magetan. Aslinya aku pengen ikut, cuma karena berbagai alasan, terpaksa urung dilakukan. Yah, semoga Allah memberkahi semuanya.

Sekian, semoga kita bisa saling berbagi pengalaman dan pelajaran. See

Klaten, 29 Shafar 1436H
Huda Syahdan

Tentang sukses yang kita cita

05/12/14

Ketika yang lain masih tersibuk dengan buku dan catatan
Kuberingsut menarik diri dari keramaian
Ada kalanya ikhtiar kita henti
Dan kita ganti dengan doa dan puji

Kau pandangku dengan cinta
Kau berfikir aku bisa
Kau berfikir aku menguasainya

Maka senyum manis coba kupatri
Agar kau memahami
Bahwa bukan itu yang terjadi akhi

Karena aku menyadari
Bahwa sukses yang kita citakan
Tiada semata pada usaha dan perjuangan
Ataupun letih dan kepayahan

Karena aku meyakini
Ia terselip pada rengek yang kita ucap
Pada mushaf yang dengan erat kita dekap
Pada derai linangan di malam gelap
Dan simpuh di hadap-Nya saat manusia terlelap.

Karena aku mengakui
Aku lemah, maka aku berharap pada-Nya
Aku bodoh, maka aku meminta pada-Nya
 Aku kerdil, maka aku berlindung pada-Nya

Maka aku mendekap Rabbku
Bersebab jahil dan hina-Nya diriku

Kampung 2 Menara, 12 Shafar 1436H
Teruntuk sahabatku #PasukanLangit, yang ingin mengetahui cara yang kuupaya:)
Huda Syahdan

We'll miss this moment :')

[PICT] XI Vacation Travel

05/09/14


Sekedar postingan, beberapa hal  dan petualangan yang dilakukan selama liburan kemaren..

Di pantai Klayar

Waktu maen ke rumahnya Kak Bahaul, itu kak Fahry ama Kak Bahaul

Kalau yang ini, gue ama kak Mintul

Ini kita lagi di depan "gua", payah yak..

Yang paling kiri kayak tukang ojek plis..

Waktu silaturahim ke rumah kak Fiki di Semarang

Habis dinner di Solaria, coba-coba Lumpia, dan gue gak suka -_-

Ini Masjid Agung

Di parkiran GM, kak Andi dan Kak Bahaul

Habis lunch, dibayarin kak Maul

Ke 6 pantai bareng keluarga




Kakak gue, mirip gak? :) Kakak perempuan gak diposting, takut timbul fitnah :p

[PICT] Lomba KSM Matematika

30/06/14


Tanggal 26 Juni kemaren, gue habis ikut lomba KSM(Kompetisi Sains Madrasah) tk Provinsi di Purwokerto. Walaupun pada akhirnya gue cuma bisa dapet peringkat 7 dari 35, tapi gak papa. Lagian hasilnya udah memuaskan kok bagi kami, yang malem menjelang lomba malah jalan-jalan dan sejak awal gak dapet bimbingan. Dan gue pengen berbagi foto, ceritanya kapan-kapan aja yak C:


Di depan MAN 2 PWT
Modalnya cuma buku detik-detik warisan kakak kelas

Isinya cuma kayak gini

Narsis -_-

Di depan Masjid Darussalam C:



Sarapan yang sempet ke capture

Pas lomba gini, kita jadi ngrasa deket ama ustadz :)


Ustadnya juga gak kalah kece :D

Penampilan tarian khasnya mereka. Keren!!



Ini lama suer..

Paduan Suara

Selfie gak papa :p

Bersama pak??


Kalau dia emang kece

Gue kalah tapi gak mau kalah -_-


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS