Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Code Blue, belajar psikologi seorang dokter

08/01/15

Aku adalah salah seorang penggemar NARUTO. Sejak ia ditayangkan di Global TV sewindu yang lalu, aku jadi tergila-gila pada tokoh penyukan ramen ini. Ada banyak hal yang kulakukan. Mulai dari minjem komik dari temen atau perpustakaan sekitar rumah, ngrekam animenya di TV lalu ditonton di kelas bareng, sampai beli gantungan kunci atau aksesoris lain bertema NARUTO.

Doctor Heli
Suatu ketika, ketika aku beranjak dewasa, aku mulai menyukai teman sekelasku. Eh bukan. Suatu ketika, aku membeli majalah Animonster. Padahal aku sendiri juga nggak tahu itu majalah tentang apa. Kau tahu alasanku kenapa membelinya? Ya, karena cover depannya bergambarkan NARUTO. Ahh, aku emang payah. Dan aku mendapati ternyata pembahasan tentang NARUTO dikit banget. Tapi tak apalah, aku kan doyan baca majalah sampai habis. Pokoknya dibaca, pasti suatu saat bermanfaat.
               
                Dan perhatianku tertumpuk pada artikel yang membahas tentang Jdrama, entah awalnya aku nggak tahu judulnya. Pokoknya tentang kisah orang yang kembali ke masa lalu itu. Dan akhirnya, drama itu pun menjadi salah satu mimpi kecilku. Aku kebelet nonton, tapi dari dan lewat mana? Saat itu kan ngunduh film dari internet belom jaman.

                Beberapa tahun kemudian, aku dan kakakku menemukan seorang avatar yang baru, seorang pengendali udara yang bernama Aang. Eh, beberapa tahun kemudian, aku menemukan di laptop kakakku, sebuah film dengan judul yang bagiku agak asing. Judulnya, Proposal Daisakusen. Aku iseng buka, dan ya Allah, ini drama yang selama ini aku cari. Aku seneng, bahagia nggak ketulungan. Ibarat cinta Naruto dan Hinata, meski awalnya mungkin kelihatan nggak berjodoh, tapi akhirnya mereka menikah juga.

                Setelah menontron dorama tersebut, aku jadi demen ama film yang dibintangi Yamapi. Setelah berselancar di dunia maya, kudapati ternyata ada banyak dorama lain yang dia bintangi. Ada Kurosagi, Dragon Zakura, Buzzer Beat, dan juga Code Blue. Tapi aku juga nggak tahu, itu film apakah. Pokoknya sekali lagi target film yang ingin kutonton bertambah. Dan sekali lagi takdir seolah mempertemukan kami. Kakak sepupuku ternyata seorang penyuka dorama juga. Aku pun mendapatkan file-file dorama tersebut darinya. Syukron kakak.

                Nah, salah satu yang membuatku berkesan adalah Code Blue. Awalnya aku kira ini dorama tentang cinta-cintaan, ternyata dugaanku tepat 180o. Itu film malah nggak ada kisah cinta yang menonjol. Isinya ternyata tentang kisah para dokter muda yang bertugas di rumah sakit khusus keadaan darurat. Pokoknya isinya menolong kecelakaan gitu. Dan yang menarik, ketika mereka punya kendaraan khusus untuk menyelamatkan orang-orang, yakni helikopter. Maka mereka pun dijuluki dokter heli :))

                Inti kisah dari dokter heli adalah tentang kemanusiaan. Mengisahkan tentang intrik dan konflik batin seorang manusia. Mengisahkan bahwa dokter adalah manusia. Mengisahkan tentang berbagai hal yang kadang menyayat hati. Beberapa kali aku menonton film ini, dan aku terpaksa harus menangis. Huda-i, cengeng pol.. :p Pertama kali namatin, waktu di kereta sepulang dari Cirebon. Dan aku nggak bosen, karena selain ceritanya bagus, yang main juga cantik-cantik, Eh. #Plak

                Dari dorama ini aku belajar banyak hal, diantaranya konflik batin yang dialami para dokter. Yah, aku seneng banget karena bisa jadi pembelajaran untuk kelak jika citaku menjadi dokter di ACC oleh Sang Pencipta. Diantara pelajaran-pelajarannya,,,

Pertama, dengan menonton film ini, berarti kita belajar jadi berani. Lihat film ini berarti kita kudu nonton banyak darah yang tertumpah. Ada banyak adegan penyuntikan, pembedahan, penyayatan daging, bahkan pengamputasian. Awalnya aku merinding, tapi lama-kelamaan terbiasa Alhamdulillah. Makanya, persiapkan mental kalian, pokoknya seru kok. Aku ingat ketika salah satu dokter ditanya, “apakah kau pernah merasa takut?” “Ya, aku selalu takut. Tapi, jika rasa takut itu membuatku ragu dan bimbang, aku lebih takut saat nyawa pasien menjadi tidak terselamatkan.

Kedua, di film ini, aku jadi tahu bahwa ketika menjadi seorang dokter kita harus bermental kuat. Bayangkan saat kita harus ngodel-odel daleman manusia, yang isinya organ vital semua, salah sedikit bisa berakibat buruk, bahkan kematian. Makanya, dibutuhkan mental dan keyakinan yang bulat. Awalnya para dokter muda di sini juga masih ragu-ragu, jadi hasilnya nggak maksimal. Tapi setelah mereka meyakini, skill dan kemampuan mereka pun menjadi benar-benar tergunakan.
Cover season 1

Ketiga, menjadi dokter, berarti harus mengesampingkan perasaan dan lebih mengutamakan hal yang memang penting. Seperti adegan saat salah seorang dokter wanita diminta pasiennya untuk tetap meneruskan persalinannya. Padahal saat itu keadaannya tidak memungkinkan, karena dihawatirkan jika tetap diteruskan nyawa sang ibu juga akan melayang. Tapi sang ibu kekeuh, dan sayangnya dokter tersebut iba. Dia tetap berusaha meneruskan persalinannya, dan ternyata keduanya malah meninggal. Begitulah, hingga akhirnya sang dokter menyesal karena telah mengedepankan perasaannya. Meski begitu, di episode terakhir dorama ada adegan  saat mereka mengedepankan perasaan mereka untuk tetap menolong seorang pasien meski disuruh menyudahi karena keadaan yang berbahaya.

Keempat, apa lagi ya? Pokoknya banyak banget lah. Misalnya, bisakah kalian membayangkan, seorang dokter senior dan paling berpengalaman, harus kehilangan salah satu tangannya karena kecerobohan kalian? Atau saat sebuah harapan menjadi seseorang yang besar tertumpuk di pundak kalian, masihkah kalian kuat untuk terus berusaha memantaskan diri untuknya? Film yang benar-benar menguras emosi dan perasaan.

Makanya, film ini bener-bener recomended buat kalian. Aku yakin, ketika kalian nonton dorama ini sendiri kalian bakan menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang ada di dalamnya. Terus saranku, kalau lihat film jangan cuma fokus dengan pemain-pemainnya aja, soalnya emang cantik-cantik sih, eh #plak, tapi cobalah cari nilai positifnya. Siap? :)

Belajar memang Menyebalkan

20/12/14

“Belajar memang benar-benar menyebalkan”

Semua orang mengakuinya.Ya, belajar memang hal yang sangat menyebalkan. Ada begitu banyak materi yang harus dipahami. Ada berjuta rumus yang harus dihafalkan. Ada seabrek hal yang menurut kita tidak berguna, tapi kita dipaksa untuk mempelajarinya.Terutama kami yang terbiasa hidup di lingkungan pesantren.

Memang, bagi kami mengulang-ulang hafalan Al Qur’an -yang bagi sebagian orang di luar susah- bukanlah merupakan pekerjaan yang berat. Tapi belajar ilmu eksak? Ilmu yang berisikan hal-hal yang bersifat duniawi –menurut kami-? Mempelajarinya jauh lebih menjemukan. Ditambah lagi, dengan tausiyah beberapa asatidzah yang menyebutkan, bahwa kita belajar ilmu seperti itu adalah hal yang sia-sia. Maka, kami semakin drop untuk mempelajarinya.

Tapi aku mendapatkan jawabannya
 “Makanya, orang yang bisa belajar itu hebat.”

Sekali lagi, aku disentil oleh salah satu film yang kutonton. Kali ini giliran film Taiwan berjudul You’re the Apple of my eye. Ya, dari situ aku belajar, bahwa belajar memang menjemukan, belajar memang menyebalkan, belajar memang menjengkelkan. Tapi, mereka yang mampu melewatinya adalah orang-orang yang hebat. Belajar memang kadang membuat frustasi, bahkan bagi mereka yang hidup di luar pesantren.

Tapi di situlah letak keajaibannya. Sekalipun ia menyebalkan, tapi memang hanya orang-orang yang bisa mengalahkan kesebalannya itulah orang yang hebat. Mereka mampu menahan ego dalam dirinya. Meski bukan berarti, belajar formal adalah segalanya.

***

“Fisika, matematika, biologi, kimia, buat apa sih mempelajarinya”, kalimat itu sering terngiang di dalam benak kami.
Fisika? Kurang kerjaan menghitung tegangan katrol, kecepatan bunyi, bahkan tegangan pada gagang sapu. Yang penting kita bisa makai kan? Bukankah itu udah cukup?
Matematika? Nggak bakalan juga semua rumusnya dipakai dalam kehidupan. Misalnya SPLDV-nya, nggak mungkin kan pas kita beli siomay kita bilang, “Bang, kalau 2 siomay ditambah 3 tahu kan 5 ribu, terus kalau 5 siomay ditambah 1 tahu kan 7 ribu, berapa harga gerobak siomay-nya?” -_- Yang jelas bagi kami, matematika yang penting bisa menghutang uang dan anggaran kehidupan. Itu cukup.
Biologi? Itu ngapain sih ngapalin profase, anafase, metafase, ama telofase. Telofase, itu apa hubungannya ama singkongfase? Atau mungkin kentangfase? Ada meiosis, mitosis, mendesis, itu buat apa gunanya bagi kita? Yang penting kita hidup udah cukup kan?
Apalagi kimia. Ngapalin berderet deret sistem periodik unsur, buat apa? Ngapain susah-susah menghafal Bebek Mangan Cacing Seret Banget Rasane. Hla wong ngapalin Al Qur’an aja udah susah. Lagian kalau pengen unsur kimia tinggal beli kan? Selesai sudah masalah.

Seringkali kita berfikir, apa yang kita lakukan adalah percuma. Belajar susah-susah, tapi pada akhirnya kelak juga semuanya nggak berguna. Sia-sia. Mubadzir. Itu sering terlintaskan. Maka sekali lagi aku tersentil.

“ Aku berani bertaruh, 10 tahun lagi, sekalipun aku tidak mengetahui apa itu log, aku masih bisa hidup baik-baik.”
“ Emm”
“ Apakah kamu percaya?”
“ Ya, percaya kok”
“ Lalu kenapa kamu masih giat belajar?”
“ Dalam kehidupan manusia, memang banyak usaha yang tidak membuahkan hasil. “

Fyuh, aku pun harus mengusap keringat kembali. Ya, aku tersadarkan lagi. Memang ada banyak usaha dalam hidup kita yang tidak membuahkan hasil. Dalam belajar, bekerja, berwirausaha, dan dalam urusan cinta. Semuanya sama. Tapi kita lupa, kalau bergerak aja belum tentu membuahkan hasil, apalagi kita diam dan tidak bekerja sama sekali.

***

Sehabis menonton film ini, aku jadi teringat kisah Hajar, yang dahulu berlarian di antara Shofa dan Marwa ketika bayi kecilnya menangis kehausan. Bisa jadi saat itu beliau mengetahui, bahwa memang tidak ada air di kedua bukit itu. Tapi beliau tetap berusaha mengais dan berlarian di antara keduanya. Kenapa? –Wallahu a’lam- mungkin beliau ingin menunjukkan, bahwa beliau tidak berputus asa. Beliau meyakini, bahwa sekali-kali Allah tiada pernah menyiakannya. Dan keyakinan beliau ini, beliau refleksikan dalam usaha yang tiada henti.

Maka aku belajar untuk mencoba menginsyafi, bahwa bisa jadi apa yang kupelajari saat ini, kurang berguna atau mungkin tidak berguna bagi masa depanku kelak. Who knows? Tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya. Tapi aku tetap mencoba berusaha, karena aku yakin sekalipun ending yang tercipta tidak selalu sama dengan yang kita harapkan, tapi Allah selalu menyiapkan yang lebih baik untuk kita sebagai gantinya.

***

Di balik kebanyolan dan kekonyolan film ini yang kadang bikin males, ada banyak hikmah yang bisa kita dapatkan. It’s very recomended bagi kalian yang butuh penguatan atas usaha yang sedang kalian upayakan. Sebenarnya masih ada banyak hikmah lain, cuma mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk membaginya. Semoga suatu saat kita bisa berbagi lagi. Syukron.


Klaten, 28 Shafar 1436H

Huda Syahdan

Revolusi TPA

09/08/14

Kemaren, gue udah mosting, bahwa salah satu gagasan yang bisa menjadi solusi permasalahan pendidikan agama dewasa ini adalah TPA. Tapi sebenarnya gue juga berfikir, bahwa TPA yang selama ini ada butuh direvolusi. Kenapa? Agar tidak muncul kelak di kemudian hari generasi yang rajin mengaji di masa kecil, tapi lupa dewasanya.

Apa yang gue katakan bukan isapan jempol belaka. Banyak banget mereka para alumni TPA yang lupa mengaji dewasanya. Bahkan, bukan hanya santri TPA, beberapa santri pondok pesantren juga ketika lulus hasilnya jauh lebih mengerikan dibanding mereka yang ‘kenyang’ merasakan kehidupan biasa.

Gue sempet berfikir, apa salah cinta.. Ternyata gue ngawur. Diantara yang sempat gue perhatikan, ada beberapa poin yang kadang kita lupakan dalam mendidik generasi muda yang ikut TPA. Diantaranya...

Pertama, fokus pendidikan TPA yang menurut gue kurang tepat.
 TPA yang ada, biasanya atau mungkin sebagian besar, orientasinya cuman satu, yang penting santri-santrinya pada bisa ngaji. Udah itu cukup bagi mereka. Emang sih enggak salah, tapi menurut gue itu kurang. Apa sih gunanya bisa baca Al Qur’an, tapi kalau akhlak sehari-hari gak mencerminkan Al Qur’an sama sekali? Pertanyaan ini selalu muncul di pikiran gue.

Alangkah baiknya, jika di dalam TPA juga diselingi dengan materi tentang akhlak. Karena akhlak kan utama. Jadi, TPA benar-benar bisa ngasih bekal yang berguna ketika kelak mereka udah dewasa.

Kedua, Orang tua juga harus ikut berperan
Ini juga masalah yang banyak terjadi. Biasanya orang tua itu berfikir, “anakku kan udah ikut TPA, pasti mereka udah dapet bekal. Husnudzon aja deh..” Dan menurut gue ini mindset yang menyesatkan. Karena tugas mendidik agama bukan hanya bagi para muallim TPA, tapi tugas ini juga merupakan milik kedua orang tua.

Keberhasilan pendidikan di TPA tergantung juga pada seberapa besar perhatian orang tua. Kebayang gak sih, seorang anak di TPA belajar ngaji, diajari buat berakhlak mulia, tapi pas pulang lihat orang tuanya malah nonton TV, liat dangdutan, sinetron, atau mungkin cerita ‘siluman’ dan dewa dewi yang merusak pemikiran? Terus ‘dengkul’ itu mau dibawa ke mana?

Peran orang tua yang lain, mereka sepatutnya membantu setiap kegiatan yang diadakan oleh TPA. Misal rihlah, makan-makan, atau acara lainnya. Kadang, gue ngrasa miris. Seorang ortu, bisa ngasih jajan anaknya tiap hari 2000. Tapi, disuruh iuran TPA yang jumlahnya kadang gak lebih dari 5000 per bulan aja susyaaaahhh. Padahal, insyaA gak ada kok guru TPA yang nilep uang... Haduh

Ketiga, Sebaiknya TPA ada program tahfidznya juga.
Ini menurut gue penting. Sekarang banyak berdiri rumah tahfizh, jelmaan dari TPA-TPA. Dan antusiasme para ortu dengan program ini cukup besar. Pasalnya, hasilnya lebih keliatan dibandingkan TPA-TPA biasa. Dan kalian bisa bayangkan, betapa senengnya para ortu kalau tahu anaknya yang masih kecil-kecil udah hafal juz 30 misal?

Program tahfizh sekarang emang lagi ngetrend. Maka, setiap pengurus TPA hendaknya menyiasati hal ini. Mulai belajar lagi, menghafal lagi, biar bisa jadi musyrif yang baik buat adik-adik. Biar TPA jadi ngetrend lagi. Jadi, para ortu gak memandang sebelah mata.

Mungkin 3 hal di atas, yang bisa gue usulkan, agar TPA bisa berevolusi. Agar TPA bisa terus bertahan dan berkarya di tengah kerasnya kehidupan.

Dan satu hal yang sampai sekarang masih gue pikirkan gimana caranya, gue pengen anak-anak lulusan TPA punya wadah organisasi saat mereka dewasa. Emang sih ada rohis di sekolah, tapi kalau di rumah? Jarang banget ada perkumpulan pemuda pemudi yang ngadain pengajian. Kalaupun ada, biasanya hanya sekedar pas bertepatan dengan hari besar doang. Pyuh.

Semoga segera terwujudkan, dan semoga Allah membimbing kita semua. Wallahu a’lam. Syukron :))

TPA untuk solusi

02/08/14


                Sebenarnya, dalam kehidupan manusia ada satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Biasanya dan kayak udah jadi mindset di pikiran manusia kebanyakan, kebutuhan pokok kita adalah Papan, Sandang, Pangan. Emang sih, ada beberapa pakar yang menyatakan kalau kebutuhan primer itu tergantung setiap orang. 3 tadi hanyalah yang umum, yang pasti dibutuhkan. Tapi menurut gue, dan mungkin udah ada kali pakar yang ngungkapin, kebutuhan rohani juga salah satu yang utama. Salah satu kebutuhan yang gak akan mungkin bisa lepas dari diri seorang anak manusia. Siapapun ia, muslimkah, yahudikah, nasranikah, bahkan mungkin atheis.
                
 Dan yang miris, di bumi pertiwi yang mayoritas muslim ini, pelajaran akan agama di sekolah-sekolah minim banget, bahkan mungkin jauh dari standar. seminggu palingan cuma 4 jam perlajaran. Padahal, kebutuhan pokok kita akan agama itu lebih besar daripada kebutuhan akan sandang, pangan, ataupun papan. Karena kekuatan seseorang sebenarnya adalah kekuatan jiwa.

                Semua kekurangan di atas masih di dukung dengan globlalisasi dan ekspansi kebudayaan yang makin gencar. *aku ngomong opo -_-. Wajar, kalau anak sekarang makin pada nakal. Udah mulai gak kenal dengan adab dan unggah ungguh dalam bermasyarakat. Pikirannya mulai individualistik. Pengen enak buat diri sendiri. Mulai enggan berpikir buat orang lain. Mbooyyak. Pantes, kalau ujung-ujungnya para koruptor menjamur di negeri ini.

                Mereka juga jauh dari Al qur’an. Ya jelas, lha wong sejak kecil yang dibaca cuma rumus, novel, ama lirik lagu. Yang didengerin tiap hari juga lagu-lagu jahiliyyah. Semuanya diputer tiap hari dan tiap saat, gak di bis, gak di minimarket, gak di TV. Maka jangan heran kalau kalian lihat anak 2 menara habis naik bis ngapalnya jadi rada susah. Hla di bis lagunya pokok’e joget sih. -_-

                Maka sekali lagi jangan heran, kalau pada akhirnya generasi masa depan indonesia rusak. Itu semua bukan hanya salah mereka, tapi juga salah para petinggi negara, salah rakyat Indonesia, dan salah kita semua.

Terus loe Cuma ngritik gitu?
                Enggak lah. Gue inget perkataan senior gue, kritik tanpa solusi hanya menambah masalah yang tidak berarti. Karna rukun mengkritik kayak rukun syahadat, ada nafyu dan itsbat. Nafyunya, sistem di Indonesia bermasalah, dan salah satu solusi yang gue usulkan yakni kembalikan TPA di masjid-masjid.

                Kenapa melalui TPA? Karena susah memasukkan kurikulum Islami ke sekolah umum saat ini. Apalagi nanti kalau kabinetnya pak J jadi, mungkin sekulerisme bakalan menjadi-jadi. Maka TPA bisa menjadi solusi, yang mampu mengajarkan anak ilmu agama sejak dini. Membekali generasi muda Indonesia dengan ilmu dan adab untuk terus bertahan di tengah gemerlap dunia. Maka TPA bisa menjadi solusi bagi mereka untuk membekali ilmu agama meskipun mereka tak mencicipi dunia kepesantrenan.

                Miris emang, ketika lihat orang tua zaman sekarang bangga ngelesin anaknya ke berbagai lembaga kursus. Jarang banget ada yang mendukung. Bahkan di beberapa kasus tak jarang orang tua yang mencaci anak-anak yang tiap hari ngaji. Para remaja juga sama, jauh lebih milih update status di sosmed daripada sekedar ke masjid buat ngajari anak-anak yang pergi ngaji. Hadeh..

 Selayang Pandang TPA
                Ada pepatah berkata, tak kenal maka tak sayang. Mungkin pepatah tersebut berlaku dalam hal ini. Salah satu sebab yang mungkin membuat orang meremehkan TPA adalah mereka gak pernah tahu sejarah dari TPA itu. Mereka gak tahu bahwa TPA membuat masyarakat dahulu mengenal Al Qur’an. Menyembuhkan masyarakat Indonesia dari penyakit buta huruf Arab.

                Seperti yang termuat di penyuluhagama.com, disebutkan bahwa sejak lahirnya lembaga yang diprakarsai oleh KH As’ad Humam ini, gairah masyarakat Indonesia untuk belajar Al Qur’an semakin meningkat. Hal ini didukung dengan ditemukannya metode Iqro’ dalam pengajaran Al Qur’an. Bahkan, KH As’ad Umam juga mendapat penghargaan berkat jasa beliau itu. Info selengkapnya bisa dibuka situsnya disini.


                  Kalau kata bang Wikipedia, pengertian dari TPA adalah lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan nonformal jenis keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran membaca Al Qur’an sejak usia dini, serta memahami dasar-dasar dinul Islam pada anak usia taman kanak-kanak, sekolah dasar dan atau madrasah ibtidaiyah (SD/MI) atau bahkan yang lebih tinggi.
                Jadi, udah paham?
--- --- ---

                Gue pernah baca di salah satu poster kurang lebih begini.
              “Jika kalian ingin mengetahui tingkat keIslaman suatu desa lihatnya masjidnya. Jika kalian ingin mengetahui tingkat kemakmuran masjidnya lihatlah TPAnya.”

                Maka, sudah selayaknya bagi kita kembali memakmurkan masjid. Hidupkan kembali ruh cinta Al Qur’an. Jangan minder dan enggan buat sekedar membantu mengajar TPA di masjid sekitar. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Ngapal Cepet Sebelum Ujian

06/05/14


Hai sobat gue yang tambah kece, bentar lagi ujian ya? Kalau diitung-itung masih sekitar 18 hari lagi. Udah pada siap?
Oke, sekarang disini gue pengen sekedar berbagi buat yang belum pada nyampe target. Semangat dong. Masih ada 18 hari. Masih kurang banyak? Gak papa bisa kok. Itu semua gak mustahil. Katakan aku rapopo dengan sisa waktu yang mepet. Bisa deh bisa.
Pesan gue sih jangan pernah pesimis. Kan kalian udah pada punya El Huffazh, jangan Cuma dibaca doang dong, diyakini dan dipraktekkin jauh lebih penting. Yang penting yakin aja deh, apa yang dikatakan manusia mustahil, bakal bisa dilakukan kalau percaya pada-Nya, Insya Allah yang namanya ujian atau ngejar setoran mah kecil.
Biasanya yang sering jadi kendala itu susah bagi waktu. Alasan yang klise banget. Nah, biar kalian gak pada nyari-nyari alesan lagi, gue pengen sedikit bagi tips bagi waktu buat kalian. Jadi senyum dong J
Jadi kita kira-kira dalam satu hari kudu punya target yang jelas, misalnya ¼ juz, jadi dalam 18 hari ini kalian kira-kira dapet 3 juz plus 6 hari buat persiapan juz’iyyah.
Pagi, sebelum subuh itu enaknya buat ngapal. Tapi gue saranin mending lebih banyak dipake buat munajat sama Allah aja, minta biar kita dipermudah. Baru nyicil baca dikit-dikit. Intinya fokus ke doa lah.
Habis subuh baru, power on. Ambil satu halaman 30 menit, jadi di pagi hari bisa dapet sekitar 2 halaman.
Siang, habis Dzuhur jangan langsung makan. Baca lagi, lumayan kalo bisa dapet 1 halaman. Berarti kita udah dapet 3 halaman kan?
Sore, karna ada tausyiah dari Syaikh Hisyam ya berarti 1 halaman lah. Malem pas murojaah, diselesain 1 halaman terakhir terus murojaah 5 halaman yang udah kita dapet hari itu.
Habis makan malem, pake aja buat baca halaman yang mau kita hafal besok. Misalnya kita ngaji sampai jam setengah sebelas, berarti kira-kira kita bisa baca 5 halaman tadi 12 kali. Lumayan banget kan?
Itu tadi Cuma sekedar tips sih. Terserah mau pada kalian praktikkan nggak. Tapi ingat ini Cuma contoh doang. Semuanya akhirnya kembali ke kalian. Yah kalo misalnya 30 menit belom bisa hafal 1 halaman, berarti tambah lagi porsi ngajinya. Pokoknya yang penting yakin aja deh, bisa Insya Allah.
Sebenarnya kalau menurut gue sih, selain manajemen waktu, ada beberapa hal lain yang kudu diperhatikan. Soalnya ini menyangkut dengan barakah, men.
Pertama, jangan suka bolos kegiatan yang ada di ma’had. Ini penting banget, dan kegiatan itu bisa berupa apa saja. Bisa Tai Chi, Sekolah, Halaqoh Tahfizh, maupun ta’lim dari Syaikhain. Karena kita gak tahu, jangan jangan karena kita suka bolos justru hafalan kita jadi susah. Kenapa? Karena “innamal Mu’minuna Alladzina amanu billah wa rosulihi wa idza kaanuu ma’ahu ‘alaa amrin jaami’in lam yadzhabuu hatta yasta’dzinuuh..” Gimana?
Mungkin ada yang punya alasan, kita kan bolos buat ngaji. Menurut gue sih sama aja. Daripada kalian bolos, terus malah gak dapet barakah, mending kalian langsung ngomong ke ustadz yang bersangkutan, “afwan tadz ana gak bisa ikut kegiatan, soalnya lagi ngejar target hafalan”. Insya Allah ustadznya pengertian kok. Bahkan barangkali nanti kita malah didoain ama mereka. Lebih bagus kan?
Terus kedua, perbanyak ibadah, bisa sholat sunah, puasa sunah, sedekah, atau yang lainnya. Coba aja kalian lihat mereka yang hafalannya cepet, kebanyakan ibadahnya bagus ato enggak? Pada tahu sendiri kan?
Ketiga, tetep cari refreshing. Kita manusia men, butuh istirahat. Pikiran jangan cuman terus dingoyo buat ngapal terus. Sediakan waktu buat refreshing, yah kira-kira setengah jaman lah. Bisa jalan-jalan, berkuda, lari, makan, atau taklim. Yang penting jangan kebablasan aja.
Keempat, manfaatkan musyrif kelas 3 yang masih di pondok buat nyetor sebanyak-banyaknya. Mubadzir kalo gak disetori.
Terakhir, perbanyak doa. Baik dari diri kalian, atau minta ke orang-orang di sekitar kalian.
Mungkin Cuma itu doang yang bisa gue bagiin. Semua akhirnya kembali ke kalian. Dan gue cuman bisa ngasih sedikit pengingat ini. Semoga bisa bermanfaat. Semangat berjuang. Ingat, karena akhir yang baik selalu Dia berikan kepada mereka yang bekerja sebaik mungkin. [^_^]
NB: artikel buat anak Isy Karima dalem, Insya Allah gue bakal ngasih tips yang lengkap buat kalian. Doain aja yak...

Cara Ngapal Al Qur'an

16/08/13


Okay sobat sobat gue yang makin kece abis :3. Besok pagi gue kudu uda merapat ke ma'had gue. Uda abis masa aktip liburan kali ini. Waktunya buat kembali ngecharge ilmu.. *curcol dikit.

  Kali ini gue mo ngebahas satu ulasan yang ditanyain banyak mahluk ke gue. Ga cuma satu dua orang, puluhan bahkan. Mereka tanya "gimana sih cara buat ngapalin Qur'an?", "Emang bisa ya, ngapalin Qur'an yang tebelnya ga kalah ama novel harry potter itu?", bahkan ada juga yang nanya "Make jampi-jampi apa Hud kok lu bisa ngapal Qur'an?" Hadeh. Masih ada beragam pertanyaan dengan redaksi yang bermacam-macam pula, yang intinya "Gimana caranya ngapal Al Qur'an".

Biar singkat, prolognya ga usah make lama, gue uda ngantuk ga ketulungan. Sebenarnya cara ngapal Al Qur'an ada banyak banget. Cuma biar gue ga dibilang "kaburo maqtan", gue cuma kasih tau ke sodara-sodari semua cara ngapal Qur'an yang udah gue coba. Sekedar info, kaburo maqtan arti sebenernya adalah sangat dibenci. Diambil dari surah As Shaf ayat 3. Cuman kata-kata kaburo maqtan uda jadi istilah populer orang yang Omdo(omong doang), ato istilah Jermannya Jarkoni (Ujar RA nglaKONI).

Oke sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum ngapal, yakni

    Pertama, Niatkan hati buat ngapal Al Qur'an
Ini yang paling penting. Karna niat adalah kunci semua amal. Innamal a'malu binniyat. Sesungguhnya tiap amal itu tergantung niatnya. Jadi kalo kalian pengen hafal Al Qur'an harus berniat bener-bener. Jangan cuman coba-coba. Masak buat kitab suci coba-coba? Masak ngapalin Kalamullah coba-coba? Ga banget kan?

    Kedua, sediakan mushaf
udah makruf kan?

   Ketiga, bergabunglah dengan halaqoh Qur'an
Ini ga wajib. Cuma bakalan membantu banget dalam proses mengahafal nantinya. Intinya bagusnya ikut halaqoh, kalo ga bisa sendirian pun gapapa.
---
Lalu langkah-langkahnya adalah

1. Bangun pagi, sholat subuh. Habis shubuh jangan tidur, karna waktu paling enak buat ngapal pagi hari

2. Cari tempat yang enak buat ngapal.

3. Kalo ngapal fokus dulu. Kalo gue sih perhalaman. Kalo bisa urut, jangan loncat-loncat

4. Baca halaman yang mo dihafal berulang-ulang. Yang ini relatif. Kalo gue sih cuma 5 kali, tapi kalo emang pengen bener-bener kuat, baca  40-70 x diulang-ulang terus.

5. Kalo uda, baru mulai ngapal. Jangan maksa langsung 1 halaman, tapi dikit demi dikit. kan kalo mushaf standar khot usmani per halaman ada 15 baris, jadi dibagi dulu. Bisa tiga tiga lima lima, ato delapan tujuh, intinya tergantung dari kemampuan kita masing-masing. Kita ambil sampel tiga-tiga

6. Kalo udah yakin 3 baris pertama hafal diluar kepala, lanjutkan ke 3 halaman selanjutnya, ulangi langkah
nomer 5, lanjutkan hingga 1 halaman habis.

7. Kalo udah selese 1 halaman, langsung ulangi halaman tersebut. Ingat jangan lihat mushaf.

8. Lanjut ke halaman berikutnya begitu seterusnya ulangi langkah 4-7.
 --------
Buat catatan

    1. Usahakan kalo ngapal halaman berikutnya, halaman yang udah hafal jangan dilupakan, tapi tetep dibaca. Buat batas, misalnya ngulang halaman yang udah diapal tiap dapet 5 halaman baru.
    2. Kalo udah selese 1 juz, ulangi lagi juz itu, sampe akhirnya lu yakin hafal 1 juz di luar kepala.
    3. Yang paling penting, meskipun ngapal sendiri, jangan ngarep bisa ngapal Qur'an otodidak. Setorkan hafalan kalian, bisa ke musyrif halaqoh ato temen. Setorkan, jangan dipendam sendiri.
    4. Seandainya udah hafal berjuz-juz, jangan lupa diulang-ulang, karena hafalan Qur'an bakalan ilang kalo ga pernah diulang. Hikmahnya, biar kita selalu membacanya


    Semua cara diatas adalah yang gue lakuin. Mungkin rada bingungin. Gue sendiri juga bingung :D. Susah sih jelasinnya. Namun intinya, semua dari kita punya cara sendiri-sendiri buat ngapal Qur'an. Kita semua bisa asal ada usaha dan kemauan. Well, semoga akhi dan ukhti semua bisa segera hafal Al Qur'an, dan kita bareng-bareng bisa ngasih mahkota ke ortu kita, dan bisa jadi kebanggaan mereka di dunia dan akhirat. :) *amin*. Mohon maaf kalo banyak salah, saya disini cuma minta doanya biar besok pas kembali ke ma'had Hidup Mulia, bisa ngeruk ilmu yang sebanyak-banyaknya, dan bisa berbagi lagi, InsyaAllah.


Wallahua'alam

Gagal pas Ujian -_-

07/08/13

Gue inget, gue pernah punya sedikit cerita mengenaskan. hal ini terjadi bulan Januari tahun 2012. Kalo tanggalnya gue uda lupa. tapi intinya mengenaskan banget, dan hal ini bikin gue sakit ati.

Waktu itu gue uda nyelesaiin program 1 bulan kursus Bahasa Inggris di Pare, tepatnya di ELFAST (english gitu lah) Bp 2. Dan Uda ujian pertama yakni ujian pilgan (pilihan juragan, eh pilihan ganda). Dan Alhamdulillah nilai gue termasuk yang terbaik. *salah 8 uda baek lo.. Dan tahap kedua gue harus bisa ngrampungin tugas nerjemahin ke bahasa Inggris. Dengan semangat membaja, gue coba.

Percobaan pertama gagal, biasa lah. La pas percobaan kedua yang bikin hati kecil ini *ciee teriris-iris. Bayangin aja, cuman salah naroh 1 kata di tempatnya. Gue langsung murung. iyuh --". Dan sejak saat itu gue jadi ga semangat. Ampe sekarang pun gue belom lulus. Dan gue punya niat balas dendam, menyebarkan jawaban benar ke temen-temen gue :p.



Ini jawaban buat ujian writen test BP2 Elfast temen temen :3
 
" We often feel that this life is more and more difficult. Sometimes, what happen in this life is not so beautiful as what we dream. Although what we want is not always given by Allah, we should thank Allah for what has happened. And if we may understand, what we have got is the most beautiful gift that Allah has given. To pray and to try hard are what we should do in passing this life. the more we pray,the nearer Allah we are and the nearer Allah we are, the more Allah loves us."

Maaf buat tentor di Elfast, saran gue, ganti soalnya :D
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS