Tampilkan postingan dengan label al qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al qur'an. Tampilkan semua postingan

Sang Pengandung Kalam Mulia

23/07/15

“Asyrofu ummati Hamalatul Qur’ani wa ashhaabul lail”. Sebaik-baik golongan dari umatku adalah mereka, para penghafal Al Qur’an dan ahli qiyamul lail.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZkAuVJaoNT2gkeSt2du1_vn7uiyIygtbUf2CIrQ7vI9RbI7D111gdQEiseqoTZaD5rqN5kNmX-uTcjYXj5fab7kjGpBEZLajwYI9JPaDjuENLpPykKAOOb_tEgDXzXuAWdeFnyVRL2jA/s1600/Metode+Sederhana+Menghafal+Al-Qur'an+Bagi+Orang+Sibuk.jpgBagi sebagian ikhwah yang berkonsentrasi dalam menghafal Al Qur’an, mungkin ada yang menjadikan hadist ini sebagai motivasi. Ada yang menempelnya di dinding kamar, di pintu lemari, atau mungkin di mushaf yang dengannya sering berinteraksi. Hadist ini sering mengingatkan di kala futur menghampiri. Memberi pencerahan dan menggugah jiwa untuk bangkit kembali.
Sebenarnya, kalau kita mau memperhatikan, ada redaksi unik dalam penyebutan ‘penghafal Al Qur’an’ dalam hadist Rasulullah tersebut. Rasulullah menyebut mereka yang mulia dengan hamalatulQur’an, para pengandung Al Qur’an, bukanhuffazhulQur’an. Ada suatu indikasi, yang layak bagi kita untuk meninjaunya kembali
.
Kalau kita tengok sejarah, zaman dahulu gelar alhafizh sebenarnya disematkan kepada mereka yang mampu menghafal ratusan ribu hadis, Ibnu Hajar contohnya. Dan kita pun telah akrab dengan julukan nan agung itu, AlHafizh Ibnu Hajar Al-Atsqoilani. Sungguh, ternyata ada begitu banyak makna yang terbiaskan di sekitar kita.
Rasulullah menyebut para penghafal Al Qur’an sebagai para pengandung Al Qur’an, bukan sekedar penjaga, karena –wallahu a’lam- seorang pengandung akan lebih berhati-hati dengan kandungannya. Ia akan terus memperhatikannya siang dan malam. Hatinya pun juga selalu memikirkan apa yang ia bawa, karena sungguh ia tiada ingin semuanya berakhir sia-sia, atau bahkan berujung nestapa.
Hammalatul Qur’an, seolah mengisyaratkan bahwa Al Qur’an adalah sesuatu yang harus ia jaga sepanjang hayatnya. Selayaknya bagi mereka untuk mencukupi asupan gizinya dengan terus mengulangsecaraberkesinambungan dan mengamalkannya dalam keseharian. Selalu ia jaga kandungan itu dengan vaksin keikhlasan, agar tiada berakhir dengan sesalan. Dan di akhir, ia berupaya untuk terus melahirkan generasi pembaharuan, yang rabbani lagi berakhlaq menawan.
Maka sungguh, adalah sebuah keanehan saat seorang yang mengandung Al Qur’an dalam jiwanya, tetapi dia masih terpukau dengan rumah yang megah. Sungguh, adalah suatu kemirisan tatkala seorang yang diberi amanah kalam Sang Kholik Yang MahaMulia, tetapi dia tersilaukan dengan dengan kendaraan yang mewah. Sungguh, adalah sebuah kesedihan ketika seseorang yang dijuluki asyrofu ummah, bahkan ahlullahiwakhosshotuhu, tetapi kebeningan hatinya mudah terhijabkan oleh gemerlap dunia dan perhiasan yang indah.
Bukan kesalahan untuk memilikinya, akan tetapi terlalu naif apabila semua hal itu dijadikan tujuan semata. Sungguh menjadi seorang hamilulQur’an adalah karunia tiada terhingga, nikmat yang tiada tara, yang memuliakannya di akhirat dan di dunia.Dan juga harus selalu kita ingat bahwasetiap amal yang bernilai tinggi bisa menjadi bumerang saat hati diniatkan bukan untuknya lagi. Sungguh, niat begitu penting, dan menentukan seberapa tinggi derajatnya di hadapan Sang Pemberi rizqi.
Hadits itu begitu masyhur. Ketika di hari kiamat kelak seorang Qari akan dihadapkan di depan Rabb-Nya. Ditunjukilah nikmat padanya yang terkarunia di dunia. Ia pun mengakuinya. Lalu ditanyalah ia oleh Sang Pemberi Karunia, “Amal apakah yang engkau kerjakan dengan nikmat-nikmat itu, wahai hamba-Ku?”
“Ya Rabb, sesungguhnya daku membaca Al Qur’an, mempelajari, dan mengajarkannya semata-mata hanya untuk-Mu.”
“Dusta, engkau belajar Al Qur’an hanya agar dikata engkau alim di antara manusia. Dan engkau membaca Al Qur’an semata-mata hanya agar engkau dikata sebagai seorang Qari’ oleh mereka. Engkau telah mendapatkannya, dan memang begitulah yang dikata manusia tentang dirimu.” Kemudian diperintahkanlah Malaikat untuk menyeret dan melemparkannya ke neraka.
Astaghfirullah. Maka kita harus lebih berhati-hati lagi, menjaga hati ini. Menjaga segumpal daging ini agar terus lurus menetapi jalan Ilahi. Selayaknya kita takut, karena sesungguhnya dalam hadist lain Rasul nan Mulia pernah bersabda, “kebanyakan munafik dari ummatku adalah para Qari’ mereka”
Ya Allah, kami berlindung pada-Mu dari perbuatan syirik yang nista. Maka, selayaknya bagi kita untuk terus mengulang hadist yang termaktub di akhir doa pertama dari kumpulan doa khotmilQur’an. “Waj’alhu lanaa hujjatan Yaa Rabbal ‘Alamin”. Duhai Rabbi, jadikanlah dia hujjah bagi kami.
Laa haula wa laa quwwata illa billah.
(terinspirasi dari tausiyah ustadzana Salim A Fillah)

NB: Artikel ini juga dimuat di majalah Al Huffazh edisi 9, "Al Quran, Bukan Prosesor Biasa"

30 juz itu 2 hari

08/01/15

“Mimpi, adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya...”

Laskar Pelangi, salah satu novel yang dulu pernah booming di pondokku. Novel ini direkomendasikan oleh beberapa ustadz, katanya memotivasi. Aku sendiri juga sempat beli satu di Sriwedari, dengan kualitas bajakan esek-esek, kan cinta produk lokal :D. Filmnya pun kami tonton bareng-bareng di pelataran yang biasany a dipakai buat futsal. Dan saat itu, nggak sedikit yang nangis lihat perjuanggannya si Lintang.

Semua orang pasti punya mimpi. Cowokkah, cewekkah, atau bahkan cowok setengah cewek. Aku juga percaya kalian juga punya mimpi. Ada yang pengen jadi dokter, perawat, suster ngesot, pilot, pramugari, pramusaji, psikiater, psikolog, psikopat, pokoknya banyak lah.

                Semua mimpi-mimpi biasanya kita abadikan menjadi tujuan yang kita kejar dengan kesungguhan. Setiap tahun berganti, ada banyak target baru yang dicanangkan. Biasanya di akun @warung_blogger ada post-post yang isinya tentang target dan resolusi mereka ke depannya. Ada yang keren-keren tapi nggak sedikit juga yang GJ, kayak kamu, iya kayak kamu. #Plak

Aku pas setoran, make jubah, jaket, ama sorban XD
                Di tahun ini, aku juga punya mimpi yang ingin kudapatkan. Pertama, pas ujian tahfidz bisa setoran 30 juz. Kedua, lulus UN dengan nilai tertinggi se-Indonesia (tinggi bohai targetnya). Ketiga, diterima jadi mahasiswa FK UNS/UGM dengan beasiswa full. Dan terakhir, sukses dalam bisnis yang akan kumulai kelak pas kuliah nanti. Insya Allah.

                Mencanangkan 4 target di atas, awalnya aku juga nggak yakin. Emang apa bisa. Aku sendiri ketawa kok bacanya, apalagi kalian. Bwahahaha. Tapi alhamdulillah, dengan ijinNya 1 mimpi udah tercapai di tanggal muda bulan pertama, bisa setoran 30 juz. Beberapa kalian mungkin nggak percaya, tapi beneran, aku jujur. Aku nggak pengen riya’. Aku cuma pengen berbagi rasa, bahwa setiap mimpi pasti bisa diwujudkan. Bahwa apa yang dianggap dongeng oleh manusia bisa menjadi kenyataan di tangan mereka yang percaya janjiNya (quote favorit).

***

Waktu SMP, aku bertanya-tanya. Mana mungkin sih orang setoran 30 juz sekali duduk. Apa mulutnya nggak berbusa melantun tulisan setebal 600 halaman gitu. Apa dan apa, dan aku masih bertanya-tanya.

Dan ketika akhirnya aku diterima jadi salah satu santri di ma’had hidup mulia ini, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. 3 tahun yang lalu, musyrif kamarku, mas Musa Al Azzam mampu menyetorkan hafalan 30 juz dalam 2 hari. Amazing masya Allah. Dan aku yang saat itu masih kecil, polos, dan unyu pun termotivasi, pokoknya aku pas ujian kudu bisa setoran 30 juz juga.

                Maka, sejak saat itu, aku selalu menargetkan, pokoknya aku kudu bisa setoran 30 juz, pokoknya kudu bisa. Dan Alhamdulillah, musyrif tahfidzku, ustadz Faiz Baraja memberi nasihat yang terus kucoba amalkan sampai sekarang. Man qoroa khomsah falaa yansaa. Barangsiapa yang membaca 5 juz dari Al Qur’an, niscaya ia tidak akan pernah lupa.

                Sejak saat itu, aku jadi rajin membaca 5 juz darinya. Dan sekali lagi aku bersyukur, di semester ketiga aku bersekolah di ma’had hidup mulia, aku mampu merampungkan hafalanku. Tapi selesai bukan berarti lancar, aku mengakuinya. Maka aku meneruskan tradisiku membaca 5 juz dari Al Qur’an, berturut hingga akhirnya aku menginjakkan kaki di kelas 12. Dan alhamdulillah musyrifku setelahnya ustadz Khoiril Azka dan ustadz Hilmy Zulkarnaen juga setia memberi motivasi dan menyimak hafalanku.

Dua minggu menjelang ujian dilakukan, aku kembali menggalau ria. Harap-harap cemas, seperti kebanyakan orang bertipe melankolis lainnya. Tapi alhamdulillah, dengan wasilah karantina yang diadakan di ma’had seminggu sebelumnya, membuatku kembali yakin bisa memenangkan pertempuran.

                Pas karantina, banyak teman-temanku yang berguguran. Memang, saat itu udara dinginnya nggak nguati. Apalagi adanya tahun baru, membuat jalan di depan ma’had jadi macet parah (yang ini nggak nyambung). Hingga akhirnya, beberapa ikhwah pun terpaksa mengatur ulang target dan planning ujian mereka. Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk mengikuti karantina hingga purna.

                Sehari sebelum ujian, aku mulai meriang. Badanku panas, batuk-batuk, dan pilek. Aku jadi pesimis lagi. Belum bisa bayangin kalau seandainya paginya aku nggak bisa setoran. Malam itupun, aku nyari doping. Dari madu, habatus sauda’, sampai propolis. Pokoknya ikhtiyar gimana caranya paginya badanku udah fit dan bisa beli bubur setoran lagi.

                Pengujiku adalah ustadz Syarqun. Aku was was, nanti kalau ustadz Syarqun jodohin aku sama anaknya gimana ya, kan aku belum siap #plak. Tapi tak apalah, bismillah. Dan paginya, perjuangan dimulai. Jam 6 ustadz Syarqun baru dateng. Dalam 2 jam pertama, alhamdulillah 6 juz berhasil kusetorkan. Setelahnya, aku makan roti ama doping-an lagi. Dan aku pun kembali merasa pusing.

                Jam 9 kami janjian untuk kembali memulai setoran. Alhamdulillah, meski kepala terasa berat dan pening, tapi 7 juz berhasil terlewati. Kini 13 juz berhasil kukumpulkan. Sholat Dzuhur, aku disuruh pergi ke Masjid di sebelah pondok, karena biasanya beliau sholatnya di sana. Aku pengen protes, ustadz aku sakit, tapi aku kan cemen. Ya udah, dengan kepala pusing aku mandi terus ke masjid yang beliau maksud.

                Ba’da dzuhur, baru bisa menyelesaikan sampai surat Thoha karena tiba-tiba beliau kedatangan tamu. Yah, alhamdulillah sih, soalnya saat itu aku juga mulai pening lagi. Aku pun berjalan gontai ke arah asrama. Panasnyooo... Sholat ashar, aku pun kembali ke masjid tadi. Selesai merapungkan 2/3 dari Al Qur’an. Setelahnya aku ingin bilang ke ustadznya aku udah terlalu pusing, pening, dan panas. Udah nggak kuat kalau dipaksa menyelesaikan hari itu juga. Alhamdulillah sebelum aku ngomong beliau udah bilang “Antum besok ijab sama jama’ah pengajian saya ya lagi aja ya setorannya, nanti malam soalnya saya ngisi taklim.” Siap tadz, aku bersyukur banget sore itu.

                Setelahnya aku langsung ngebo. Badan ini udah nggak fit lagi. Akupun mempewekan diri ke kasur dan berkerukup ke dalam eSBi. Saat itu aku merasa mengigau, badanku panas dan berkeringat semua. Duh gusti, seperti inikah ujian kalau kita pengen nikah muda kebaikan. Dan malam itu, aku tidak bangun dari tempat tidur kecuali ketika menjelang tengah malam untuk meminum obat dan menngganjal perut. Sholat pun terpaksa di atas ranjang. Tapi alhamdulillah, paginya aku bangun udah jauh baikan.

                Pagi hari aku kembali bergalau ria. Ini ustadnya dimana? Ternyata usut punya usut beliau lagi ada tamu. Dan diundur setorannya setelah Ahad pagi. Pagi itu sarapan dengan cilok enam ribu, soalnya aku takut, kalau makan nasi nanti jadi banyak ria’nya. Lagian aku juga udah kangen sama jamaah Ahad pagi kok, eh.

                Jam setengah sembilan, aku kembali memulai setoranku. Alhamdulillah, meski beberapa kali harus ngambil tisu karena hidungku meler terus, tapi 30 juzku berhasil terselesaikan tepat sebelum adzan dzuhur. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Dan di kamar, kulihat teman-temanku menyunggingkan senyum termanis mereka. Uhibbukum fillah :)

***

                Siang itu, aku merasakan kenikmatan yang tiada terkira. Dan kami semua bergembira, terutama anggota Pasukan Langit. Total, hari itu ada 3 orang dari kami yang menyelesaikan 30 juz. Dan satu temanku, akh Romy Abdul Malik membuat rekor baru di Isy Karima. Beliau menyetorkan hafalan 30 juz tanpa satupun kesalahan. Barakalah barakallah. :))

                Betullah pesan ustadz Zarkasyi sebelum kami melaksanakan ujian, “Setoran 30 juz itu kenikmatan yang tidak ada duanya dengan dunia. Kalau kalian udah bisa menyetorkan 30 juz, niscaya kalian merasa sebaik-baik kenikmatan ada di genggaman tangan dan memenuhi hati kecil kalian. Kalian akan merasa cukup dengan itu.”. Masya Allah, tapi meskipun begitu aku masih pengen tadz dikasih r25 atau ninja. Ahaha :D

                Maaf kalau kurang berkenan, semoga aku memostingnya bukan karena riya’ atau keduniaan. Semoga postingan ini bisa memberikan motivasi bagi kita semua, karena nggak ada yang mustahil di dunia. Mari kita kejar mimpi kita sama-sama. :)

Klaten, 16 Rabiul Awwal 1436H

Hafal Al Qur’an dalam 40 hari

13/08/14

                Membaca judul di atas, membuat orang ngiler. Terbukti animo masyarakat begitu tinggi waktu unit IMTAQ kemaren mengadakan dauroh 40 hari hafal Al Qur’an. Yang dateng banyak bingit, bahkan melebihi kuota yang disediakan.

                Pertanyaannya, bisakah hal tersebut dilakukan? Jawabannya bisa. Ya emang, gue akui bukanlah sebuah kemustahilan seseorang bisa ngapal Al Qur’an dalam 40 hari. Dan anak-anak IMTAQ buktinya. Mereka bisa menyelesaikan hafalan mereka dalam waktu kurang dari 40 hari malah. Tapi satu pertanyaan yang terbesit, lancar gak tuh?

                Itu yang jadi ganjalan di benak kita, yang ada di negeri 2 menara. Enak banget sih, ngapal Al Qur’an 40 hari doang. Kita aja di ma’had sini, susah payah ngapal 3 tahun, eh ini enak banget bisa hafal dalam 40 hari. Dan ganjalan tersebut hancur ketika kita mendengar kisah dari ustad dan seorang peserta program tersebut.

                Sewaktu iktikaf kemaren, ada salah seorang peserta yang setoran ke gue. Setorannya sebenarnya agak kurang lancar, tapi biasa gue coba basa-basi. Habis setoran, gue nanya “mas udah hafal berapa juz?”. Beliau jawab 22. Waw. It’s amazing. Gue tanya, kok bisa. Terus beliaunya malah cerita tentang keikutsertaan beliau ke Makasar buat ikut program ini.

                Beliau jujur merasa kepayahan buat murojaah, karena pada dasarnya di program ini hanya dikhususkan buat menghafal doang. Beliau coba sharing ke salah satu ustadnya, dan ternyata ustadnya pun sebenarnya juga kurang sreg dengan program seperti ini.

                Gue juga dapet cerita dari musyrif halaqoh gue yang juga jadi musyrif program yang diadakan untuk anak IMTAQ. Beliau juga mengeluhkan yang sama, takut kalau seandainya anak IMTAQ pada kesusahan buat murojaah. Banyak yang beliau keluhkan pokoknya. Dan gue dengarnya juga miris.

                Sebenarnya, program ini bagus buat memotivasi orang menghafal Al Qur’an. Hafal Al Qur’an dalam 40 hari, bukankah mudah sekali? Tapi ada sisi minusnya, yang sebenarnya juga jadi masalah terberatnya. Dia Cuma hafal dalam 40 hari. Setelah itu, hafalannya menguap.

                Karena di sini, kita cuma disuruh menghafal, disetorkan, terus menghafal halaman selanjutnya dan seterusnya. Ibaratnya yang udah dihafalin itu udah gak diurusi. Fokusnya Cuma menghafal baru dan baru. Maka, ketika dia udah selesai menghafal 30 juz, dia akan kesulitan buat mengulanginya, karena seperti yang kami rasakan, proses memurojaah hafalan itu jauh lebih susah daripada proses menghafalnya.

                Kadang kita bingung dengan orang yang pengen menghafal dengan cepat, emang setelah 40 hari menghafal, apa yang pengen dia kerjakan? Mungkin penyebabnya karena mereka salah pengertian. Karena sesungguhnya hafizh mempunyai makna sama dengan menjaga. Jadi pada dasarnya, hafizh Al Qur’an mempunyai makna penjaga Al Qur’an, bukan sekedar penghafal.

                Tugas para hafidz sesungguhnya adalah menjaga bagaimana Al Qur’an selalu terjaga hingga hari Kiamat. Menjaga, agar ruh Qur’an terus tertanam dalam jiwa setiap Muslim. Menjaga, agar lisan mereka terus berkesinambungan untuk tetap melantunkan ayat ini.

                Karena Al Qur’an lebih mudah hilang, dibandingkan unta yang terikat. Maka, dibutuhkan proses untuk terus tilawah Al Qur’an dan mentadabburinya, agar ia tidak hilang dari hati. Gue gak menggembosi kalian, enggak. Gue hanya ingin, agar kalian tidak kehilangan substansi dari menghafal Al Qur’an. Gue hanya ingin kita semua sadar untuk terus menghidupkannya dalam setiap langkah kita, bukan hanya sekedar dalam waktu puluhan hari, atau beberapa bulan saja.

                Jujur, gue suka lihat orang yang berusaha keras buat menghafal kitab-Nya. Gue iri melihat mereka, yang siang malam bersusah payah tanpa henti untuk menghafalnya. Dan jujur, kadang gue miris, kalau mereka yang rajin menghafalnya susah, tapi  yang hidupnya asal-asalan bisa menghafal dengan cepat. Dan gue lebih miris, melihat orang pertama pengen jadi kayak orang kedua. Allahummaghfir..

Semoga kita tetap berupaya untuk menjaganya, dalam setiap keadaan kita. Semoga kita tetap diberikan semangat. Dan semoga Allah memudahkan kita untuk selalu dimudahkan dalam menjaga kitab-Nya. Wallahulmusta’an.

Revolusi TPA

09/08/14

Kemaren, gue udah mosting, bahwa salah satu gagasan yang bisa menjadi solusi permasalahan pendidikan agama dewasa ini adalah TPA. Tapi sebenarnya gue juga berfikir, bahwa TPA yang selama ini ada butuh direvolusi. Kenapa? Agar tidak muncul kelak di kemudian hari generasi yang rajin mengaji di masa kecil, tapi lupa dewasanya.

Apa yang gue katakan bukan isapan jempol belaka. Banyak banget mereka para alumni TPA yang lupa mengaji dewasanya. Bahkan, bukan hanya santri TPA, beberapa santri pondok pesantren juga ketika lulus hasilnya jauh lebih mengerikan dibanding mereka yang ‘kenyang’ merasakan kehidupan biasa.

Gue sempet berfikir, apa salah cinta.. Ternyata gue ngawur. Diantara yang sempat gue perhatikan, ada beberapa poin yang kadang kita lupakan dalam mendidik generasi muda yang ikut TPA. Diantaranya...

Pertama, fokus pendidikan TPA yang menurut gue kurang tepat.
 TPA yang ada, biasanya atau mungkin sebagian besar, orientasinya cuman satu, yang penting santri-santrinya pada bisa ngaji. Udah itu cukup bagi mereka. Emang sih enggak salah, tapi menurut gue itu kurang. Apa sih gunanya bisa baca Al Qur’an, tapi kalau akhlak sehari-hari gak mencerminkan Al Qur’an sama sekali? Pertanyaan ini selalu muncul di pikiran gue.

Alangkah baiknya, jika di dalam TPA juga diselingi dengan materi tentang akhlak. Karena akhlak kan utama. Jadi, TPA benar-benar bisa ngasih bekal yang berguna ketika kelak mereka udah dewasa.

Kedua, Orang tua juga harus ikut berperan
Ini juga masalah yang banyak terjadi. Biasanya orang tua itu berfikir, “anakku kan udah ikut TPA, pasti mereka udah dapet bekal. Husnudzon aja deh..” Dan menurut gue ini mindset yang menyesatkan. Karena tugas mendidik agama bukan hanya bagi para muallim TPA, tapi tugas ini juga merupakan milik kedua orang tua.

Keberhasilan pendidikan di TPA tergantung juga pada seberapa besar perhatian orang tua. Kebayang gak sih, seorang anak di TPA belajar ngaji, diajari buat berakhlak mulia, tapi pas pulang lihat orang tuanya malah nonton TV, liat dangdutan, sinetron, atau mungkin cerita ‘siluman’ dan dewa dewi yang merusak pemikiran? Terus ‘dengkul’ itu mau dibawa ke mana?

Peran orang tua yang lain, mereka sepatutnya membantu setiap kegiatan yang diadakan oleh TPA. Misal rihlah, makan-makan, atau acara lainnya. Kadang, gue ngrasa miris. Seorang ortu, bisa ngasih jajan anaknya tiap hari 2000. Tapi, disuruh iuran TPA yang jumlahnya kadang gak lebih dari 5000 per bulan aja susyaaaahhh. Padahal, insyaA gak ada kok guru TPA yang nilep uang... Haduh

Ketiga, Sebaiknya TPA ada program tahfidznya juga.
Ini menurut gue penting. Sekarang banyak berdiri rumah tahfizh, jelmaan dari TPA-TPA. Dan antusiasme para ortu dengan program ini cukup besar. Pasalnya, hasilnya lebih keliatan dibandingkan TPA-TPA biasa. Dan kalian bisa bayangkan, betapa senengnya para ortu kalau tahu anaknya yang masih kecil-kecil udah hafal juz 30 misal?

Program tahfizh sekarang emang lagi ngetrend. Maka, setiap pengurus TPA hendaknya menyiasati hal ini. Mulai belajar lagi, menghafal lagi, biar bisa jadi musyrif yang baik buat adik-adik. Biar TPA jadi ngetrend lagi. Jadi, para ortu gak memandang sebelah mata.

Mungkin 3 hal di atas, yang bisa gue usulkan, agar TPA bisa berevolusi. Agar TPA bisa terus bertahan dan berkarya di tengah kerasnya kehidupan.

Dan satu hal yang sampai sekarang masih gue pikirkan gimana caranya, gue pengen anak-anak lulusan TPA punya wadah organisasi saat mereka dewasa. Emang sih ada rohis di sekolah, tapi kalau di rumah? Jarang banget ada perkumpulan pemuda pemudi yang ngadain pengajian. Kalaupun ada, biasanya hanya sekedar pas bertepatan dengan hari besar doang. Pyuh.

Semoga segera terwujudkan, dan semoga Allah membimbing kita semua. Wallahu a’lam. Syukron :))

TPA untuk solusi

02/08/14


                Sebenarnya, dalam kehidupan manusia ada satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Biasanya dan kayak udah jadi mindset di pikiran manusia kebanyakan, kebutuhan pokok kita adalah Papan, Sandang, Pangan. Emang sih, ada beberapa pakar yang menyatakan kalau kebutuhan primer itu tergantung setiap orang. 3 tadi hanyalah yang umum, yang pasti dibutuhkan. Tapi menurut gue, dan mungkin udah ada kali pakar yang ngungkapin, kebutuhan rohani juga salah satu yang utama. Salah satu kebutuhan yang gak akan mungkin bisa lepas dari diri seorang anak manusia. Siapapun ia, muslimkah, yahudikah, nasranikah, bahkan mungkin atheis.
                
 Dan yang miris, di bumi pertiwi yang mayoritas muslim ini, pelajaran akan agama di sekolah-sekolah minim banget, bahkan mungkin jauh dari standar. seminggu palingan cuma 4 jam perlajaran. Padahal, kebutuhan pokok kita akan agama itu lebih besar daripada kebutuhan akan sandang, pangan, ataupun papan. Karena kekuatan seseorang sebenarnya adalah kekuatan jiwa.

                Semua kekurangan di atas masih di dukung dengan globlalisasi dan ekspansi kebudayaan yang makin gencar. *aku ngomong opo -_-. Wajar, kalau anak sekarang makin pada nakal. Udah mulai gak kenal dengan adab dan unggah ungguh dalam bermasyarakat. Pikirannya mulai individualistik. Pengen enak buat diri sendiri. Mulai enggan berpikir buat orang lain. Mbooyyak. Pantes, kalau ujung-ujungnya para koruptor menjamur di negeri ini.

                Mereka juga jauh dari Al qur’an. Ya jelas, lha wong sejak kecil yang dibaca cuma rumus, novel, ama lirik lagu. Yang didengerin tiap hari juga lagu-lagu jahiliyyah. Semuanya diputer tiap hari dan tiap saat, gak di bis, gak di minimarket, gak di TV. Maka jangan heran kalau kalian lihat anak 2 menara habis naik bis ngapalnya jadi rada susah. Hla di bis lagunya pokok’e joget sih. -_-

                Maka sekali lagi jangan heran, kalau pada akhirnya generasi masa depan indonesia rusak. Itu semua bukan hanya salah mereka, tapi juga salah para petinggi negara, salah rakyat Indonesia, dan salah kita semua.

Terus loe Cuma ngritik gitu?
                Enggak lah. Gue inget perkataan senior gue, kritik tanpa solusi hanya menambah masalah yang tidak berarti. Karna rukun mengkritik kayak rukun syahadat, ada nafyu dan itsbat. Nafyunya, sistem di Indonesia bermasalah, dan salah satu solusi yang gue usulkan yakni kembalikan TPA di masjid-masjid.

                Kenapa melalui TPA? Karena susah memasukkan kurikulum Islami ke sekolah umum saat ini. Apalagi nanti kalau kabinetnya pak J jadi, mungkin sekulerisme bakalan menjadi-jadi. Maka TPA bisa menjadi solusi, yang mampu mengajarkan anak ilmu agama sejak dini. Membekali generasi muda Indonesia dengan ilmu dan adab untuk terus bertahan di tengah gemerlap dunia. Maka TPA bisa menjadi solusi bagi mereka untuk membekali ilmu agama meskipun mereka tak mencicipi dunia kepesantrenan.

                Miris emang, ketika lihat orang tua zaman sekarang bangga ngelesin anaknya ke berbagai lembaga kursus. Jarang banget ada yang mendukung. Bahkan di beberapa kasus tak jarang orang tua yang mencaci anak-anak yang tiap hari ngaji. Para remaja juga sama, jauh lebih milih update status di sosmed daripada sekedar ke masjid buat ngajari anak-anak yang pergi ngaji. Hadeh..

 Selayang Pandang TPA
                Ada pepatah berkata, tak kenal maka tak sayang. Mungkin pepatah tersebut berlaku dalam hal ini. Salah satu sebab yang mungkin membuat orang meremehkan TPA adalah mereka gak pernah tahu sejarah dari TPA itu. Mereka gak tahu bahwa TPA membuat masyarakat dahulu mengenal Al Qur’an. Menyembuhkan masyarakat Indonesia dari penyakit buta huruf Arab.

                Seperti yang termuat di penyuluhagama.com, disebutkan bahwa sejak lahirnya lembaga yang diprakarsai oleh KH As’ad Humam ini, gairah masyarakat Indonesia untuk belajar Al Qur’an semakin meningkat. Hal ini didukung dengan ditemukannya metode Iqro’ dalam pengajaran Al Qur’an. Bahkan, KH As’ad Umam juga mendapat penghargaan berkat jasa beliau itu. Info selengkapnya bisa dibuka situsnya disini.


                  Kalau kata bang Wikipedia, pengertian dari TPA adalah lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan nonformal jenis keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran membaca Al Qur’an sejak usia dini, serta memahami dasar-dasar dinul Islam pada anak usia taman kanak-kanak, sekolah dasar dan atau madrasah ibtidaiyah (SD/MI) atau bahkan yang lebih tinggi.
                Jadi, udah paham?
--- --- ---

                Gue pernah baca di salah satu poster kurang lebih begini.
              “Jika kalian ingin mengetahui tingkat keIslaman suatu desa lihatnya masjidnya. Jika kalian ingin mengetahui tingkat kemakmuran masjidnya lihatlah TPAnya.”

                Maka, sudah selayaknya bagi kita kembali memakmurkan masjid. Hidupkan kembali ruh cinta Al Qur’an. Jangan minder dan enggan buat sekedar membantu mengajar TPA di masjid sekitar. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Ngapal Cepet Sebelum Ujian

06/05/14


Hai sobat gue yang tambah kece, bentar lagi ujian ya? Kalau diitung-itung masih sekitar 18 hari lagi. Udah pada siap?
Oke, sekarang disini gue pengen sekedar berbagi buat yang belum pada nyampe target. Semangat dong. Masih ada 18 hari. Masih kurang banyak? Gak papa bisa kok. Itu semua gak mustahil. Katakan aku rapopo dengan sisa waktu yang mepet. Bisa deh bisa.
Pesan gue sih jangan pernah pesimis. Kan kalian udah pada punya El Huffazh, jangan Cuma dibaca doang dong, diyakini dan dipraktekkin jauh lebih penting. Yang penting yakin aja deh, apa yang dikatakan manusia mustahil, bakal bisa dilakukan kalau percaya pada-Nya, Insya Allah yang namanya ujian atau ngejar setoran mah kecil.
Biasanya yang sering jadi kendala itu susah bagi waktu. Alasan yang klise banget. Nah, biar kalian gak pada nyari-nyari alesan lagi, gue pengen sedikit bagi tips bagi waktu buat kalian. Jadi senyum dong J
Jadi kita kira-kira dalam satu hari kudu punya target yang jelas, misalnya ¼ juz, jadi dalam 18 hari ini kalian kira-kira dapet 3 juz plus 6 hari buat persiapan juz’iyyah.
Pagi, sebelum subuh itu enaknya buat ngapal. Tapi gue saranin mending lebih banyak dipake buat munajat sama Allah aja, minta biar kita dipermudah. Baru nyicil baca dikit-dikit. Intinya fokus ke doa lah.
Habis subuh baru, power on. Ambil satu halaman 30 menit, jadi di pagi hari bisa dapet sekitar 2 halaman.
Siang, habis Dzuhur jangan langsung makan. Baca lagi, lumayan kalo bisa dapet 1 halaman. Berarti kita udah dapet 3 halaman kan?
Sore, karna ada tausyiah dari Syaikh Hisyam ya berarti 1 halaman lah. Malem pas murojaah, diselesain 1 halaman terakhir terus murojaah 5 halaman yang udah kita dapet hari itu.
Habis makan malem, pake aja buat baca halaman yang mau kita hafal besok. Misalnya kita ngaji sampai jam setengah sebelas, berarti kira-kira kita bisa baca 5 halaman tadi 12 kali. Lumayan banget kan?
Itu tadi Cuma sekedar tips sih. Terserah mau pada kalian praktikkan nggak. Tapi ingat ini Cuma contoh doang. Semuanya akhirnya kembali ke kalian. Yah kalo misalnya 30 menit belom bisa hafal 1 halaman, berarti tambah lagi porsi ngajinya. Pokoknya yang penting yakin aja deh, bisa Insya Allah.
Sebenarnya kalau menurut gue sih, selain manajemen waktu, ada beberapa hal lain yang kudu diperhatikan. Soalnya ini menyangkut dengan barakah, men.
Pertama, jangan suka bolos kegiatan yang ada di ma’had. Ini penting banget, dan kegiatan itu bisa berupa apa saja. Bisa Tai Chi, Sekolah, Halaqoh Tahfizh, maupun ta’lim dari Syaikhain. Karena kita gak tahu, jangan jangan karena kita suka bolos justru hafalan kita jadi susah. Kenapa? Karena “innamal Mu’minuna Alladzina amanu billah wa rosulihi wa idza kaanuu ma’ahu ‘alaa amrin jaami’in lam yadzhabuu hatta yasta’dzinuuh..” Gimana?
Mungkin ada yang punya alasan, kita kan bolos buat ngaji. Menurut gue sih sama aja. Daripada kalian bolos, terus malah gak dapet barakah, mending kalian langsung ngomong ke ustadz yang bersangkutan, “afwan tadz ana gak bisa ikut kegiatan, soalnya lagi ngejar target hafalan”. Insya Allah ustadznya pengertian kok. Bahkan barangkali nanti kita malah didoain ama mereka. Lebih bagus kan?
Terus kedua, perbanyak ibadah, bisa sholat sunah, puasa sunah, sedekah, atau yang lainnya. Coba aja kalian lihat mereka yang hafalannya cepet, kebanyakan ibadahnya bagus ato enggak? Pada tahu sendiri kan?
Ketiga, tetep cari refreshing. Kita manusia men, butuh istirahat. Pikiran jangan cuman terus dingoyo buat ngapal terus. Sediakan waktu buat refreshing, yah kira-kira setengah jaman lah. Bisa jalan-jalan, berkuda, lari, makan, atau taklim. Yang penting jangan kebablasan aja.
Keempat, manfaatkan musyrif kelas 3 yang masih di pondok buat nyetor sebanyak-banyaknya. Mubadzir kalo gak disetori.
Terakhir, perbanyak doa. Baik dari diri kalian, atau minta ke orang-orang di sekitar kalian.
Mungkin Cuma itu doang yang bisa gue bagiin. Semua akhirnya kembali ke kalian. Dan gue cuman bisa ngasih sedikit pengingat ini. Semoga bisa bermanfaat. Semangat berjuang. Ingat, karena akhir yang baik selalu Dia berikan kepada mereka yang bekerja sebaik mungkin. [^_^]
NB: artikel buat anak Isy Karima dalem, Insya Allah gue bakal ngasih tips yang lengkap buat kalian. Doain aja yak...

Cara Ngapal Al Qur'an

16/08/13


Okay sobat sobat gue yang makin kece abis :3. Besok pagi gue kudu uda merapat ke ma'had gue. Uda abis masa aktip liburan kali ini. Waktunya buat kembali ngecharge ilmu.. *curcol dikit.

  Kali ini gue mo ngebahas satu ulasan yang ditanyain banyak mahluk ke gue. Ga cuma satu dua orang, puluhan bahkan. Mereka tanya "gimana sih cara buat ngapalin Qur'an?", "Emang bisa ya, ngapalin Qur'an yang tebelnya ga kalah ama novel harry potter itu?", bahkan ada juga yang nanya "Make jampi-jampi apa Hud kok lu bisa ngapal Qur'an?" Hadeh. Masih ada beragam pertanyaan dengan redaksi yang bermacam-macam pula, yang intinya "Gimana caranya ngapal Al Qur'an".

Biar singkat, prolognya ga usah make lama, gue uda ngantuk ga ketulungan. Sebenarnya cara ngapal Al Qur'an ada banyak banget. Cuma biar gue ga dibilang "kaburo maqtan", gue cuma kasih tau ke sodara-sodari semua cara ngapal Qur'an yang udah gue coba. Sekedar info, kaburo maqtan arti sebenernya adalah sangat dibenci. Diambil dari surah As Shaf ayat 3. Cuman kata-kata kaburo maqtan uda jadi istilah populer orang yang Omdo(omong doang), ato istilah Jermannya Jarkoni (Ujar RA nglaKONI).

Oke sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum ngapal, yakni

    Pertama, Niatkan hati buat ngapal Al Qur'an
Ini yang paling penting. Karna niat adalah kunci semua amal. Innamal a'malu binniyat. Sesungguhnya tiap amal itu tergantung niatnya. Jadi kalo kalian pengen hafal Al Qur'an harus berniat bener-bener. Jangan cuman coba-coba. Masak buat kitab suci coba-coba? Masak ngapalin Kalamullah coba-coba? Ga banget kan?

    Kedua, sediakan mushaf
udah makruf kan?

   Ketiga, bergabunglah dengan halaqoh Qur'an
Ini ga wajib. Cuma bakalan membantu banget dalam proses mengahafal nantinya. Intinya bagusnya ikut halaqoh, kalo ga bisa sendirian pun gapapa.
---
Lalu langkah-langkahnya adalah

1. Bangun pagi, sholat subuh. Habis shubuh jangan tidur, karna waktu paling enak buat ngapal pagi hari

2. Cari tempat yang enak buat ngapal.

3. Kalo ngapal fokus dulu. Kalo gue sih perhalaman. Kalo bisa urut, jangan loncat-loncat

4. Baca halaman yang mo dihafal berulang-ulang. Yang ini relatif. Kalo gue sih cuma 5 kali, tapi kalo emang pengen bener-bener kuat, baca  40-70 x diulang-ulang terus.

5. Kalo uda, baru mulai ngapal. Jangan maksa langsung 1 halaman, tapi dikit demi dikit. kan kalo mushaf standar khot usmani per halaman ada 15 baris, jadi dibagi dulu. Bisa tiga tiga lima lima, ato delapan tujuh, intinya tergantung dari kemampuan kita masing-masing. Kita ambil sampel tiga-tiga

6. Kalo udah yakin 3 baris pertama hafal diluar kepala, lanjutkan ke 3 halaman selanjutnya, ulangi langkah
nomer 5, lanjutkan hingga 1 halaman habis.

7. Kalo udah selese 1 halaman, langsung ulangi halaman tersebut. Ingat jangan lihat mushaf.

8. Lanjut ke halaman berikutnya begitu seterusnya ulangi langkah 4-7.
 --------
Buat catatan

    1. Usahakan kalo ngapal halaman berikutnya, halaman yang udah hafal jangan dilupakan, tapi tetep dibaca. Buat batas, misalnya ngulang halaman yang udah diapal tiap dapet 5 halaman baru.
    2. Kalo udah selese 1 juz, ulangi lagi juz itu, sampe akhirnya lu yakin hafal 1 juz di luar kepala.
    3. Yang paling penting, meskipun ngapal sendiri, jangan ngarep bisa ngapal Qur'an otodidak. Setorkan hafalan kalian, bisa ke musyrif halaqoh ato temen. Setorkan, jangan dipendam sendiri.
    4. Seandainya udah hafal berjuz-juz, jangan lupa diulang-ulang, karena hafalan Qur'an bakalan ilang kalo ga pernah diulang. Hikmahnya, biar kita selalu membacanya


    Semua cara diatas adalah yang gue lakuin. Mungkin rada bingungin. Gue sendiri juga bingung :D. Susah sih jelasinnya. Namun intinya, semua dari kita punya cara sendiri-sendiri buat ngapal Qur'an. Kita semua bisa asal ada usaha dan kemauan. Well, semoga akhi dan ukhti semua bisa segera hafal Al Qur'an, dan kita bareng-bareng bisa ngasih mahkota ke ortu kita, dan bisa jadi kebanggaan mereka di dunia dan akhirat. :) *amin*. Mohon maaf kalo banyak salah, saya disini cuma minta doanya biar besok pas kembali ke ma'had Hidup Mulia, bisa ngeruk ilmu yang sebanyak-banyaknya, dan bisa berbagi lagi, InsyaAllah.


Wallahua'alam

Ntaran aja

15/08/13

Dikisahkan saat itu Ken membaca catatan kakeknya Rei yang tertempel diatas bungkus telor dadar jepang *namanya gue lupa, Ken mbatin *ngomong ke diri sendiri-pen.
" Aku hampir lupa hal yang terpenting. Kakek tidak akan pernah kembali lagi mengunjungi Tokyo. Dan Rei juga kehilangan kesempatan untuk memberikan foto ini ke kakeknya. Kakek Rei akan meninggal akhir tahun ini. "
   Jadi ceritanya waktu itu kakeknya Rei pulang ke kampung duluan. Padahal Rei pengen ngasih photo mereka ke kakeknya. Ken lalu ingat apa yang selalu dikatakan kakek Rei.

“Hanya memikirkan tanpa berbuat adalah percuma. Jika kamu tetap memikirkan bahwa selalu akan ada hari esok, kamu akan menderita. Mereka yang bilang akan melakukannya besok adalah orang yang bodoh.”
   Mengingat perkataan kakek Rei mendorong Ken untuk mengajak Rei mencari kakeknya dan ngasih foto tersebut. Awalnya Rei menolak, kan masih ada waktu laen pikirnya, tapi Ken menasehatinya *lagi bijak
" Kau harus melakukannya saat masih ada kesempatan. Kau jangan pernah berpikir dia ada di dekatmu terus. Menunda-nunda itu percuma. Kunjungi beliau sesering mungkin! Saat kau rindu, pergilah menemuinya! Kalo kau pikir ini (telornya) enak, bilang! Kau harus bisa kayak kakekmu atau kau bakal menyesal kayak aku!  "
  
Ken juga mengutip perkataan Kakek, “ Mereka yang bilang akan melakukannya besok adalah orang yang bodoh. “ Lalu Ken segera menarik Rei untuk mencari Kakek ke tempat perhentian bus yang menuju ke Hiroshima.

Ken berkata dalam hati" perkataan kakek telah menusuk hatiku, dengan penyesalan tiada akhir terhadap Rei. Rei selalu ada di sisiku. dan kupikir aku bisa menyatakan perasaan padanya kapan saja. kupikir aku selalu bisa, menyatakan perasaanku kepadanya kapan saja. Walau dia slalu ada di sisiku kayak ini, aku masih belom bisa berbuat apapun untuknya. Walau dia slalu ada di sisiku kayak gini, aku masih belom ngerti apapun. Aku ga pernah berfikir kalo suatu saat nanti, dia bakalan begitu sangat jauh. Aku ga mau Rei sepertiku, punya penyesalan yang dalam. Cukup aku aja yang mengalaminya. "
Sinopsis Operation Love-Proposal Daisakusen Episode 5
Singkat cerita, setelah berlari-lari mereka berdua berhasil menyusul kakek, pas sebelum beliau masuk ke dalam bus. Rei lalu ngasih foto mereka berdua dan bilang kalo telor dadar buatan kakeknya sangat lezat. Kakek terlihat bahagia dipuji cucunya. Oya Sebelum masuk, tiba-tiba Kakek bilang ke Ken kalo dia titip Rei padanya. Ken terkejut dengernya, secara. Spontan buat nutupi malunya, Rei minta kakek buat segera masuk ke dalam bus.
Jreng jreng jreng..
Afwan kelamaaen ceritanya. Yang tadi itu sebagian sinopsis Jdrama yang berjudul Proposal Daisakusen yaang ke 6. *drama lagi drama lagi--". Ahah, sory, gara-gara drama ini gue jadi suka liat drama drama Yamapi (Ken) dan Nagasawa (Rei) yang lain *eh.
  Lupakan yang tadi, kalo mo tahu dramanya liat ndiri. Intinya kali ini gue tertarik ama kata-kata kakeknya Rei
“ Mereka yang bilang akan melakukannya besok adalah orang yang bodoh. “
Quote ini nyungsep banget. Jleb. Nyindir orang-orang yang suka-suka nunda pekerjaan. *gue ngacung. Kalo ulama' kita punya istilah sendiri taswif. Katanya sih diambil dari kata saufa.
Emang penyakit ini uda jadi virus yang mematikan diantara umat Islam. Dari santri, aktivis dakwah, ampe ibu ibu PKK ga luput dari penyakit ini. Bahkan Rasulullah pun telah mewanti-wanti umatnya, sebagaimana pesan beliau kepada Ibnu Umar ra
"Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara. Bila kamu berada di sore hari, maka janganlah kamu menunggu datangnya waktu pagi, dan bila kamu berada di pagi hari, maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.' [HR Bukhori, Ahmad, Tirmidzi dan ibnu Majah] 
 Emang, kadang kita lalai ama virus ini. Bahkan kita kalah ama orang Jepang yang berprinsip "menunda pekerjaan berarti menambah pekerjaan". Padahal, kita udah dapet wejangan dan wasiat orang yang katanya kita idolakan, sementara mereka? Lalu kenapa kita masi aja ngeyel. Hayoo :3
 Kalo ngomongin taswif, ujung ujungnya pasti nyesel. Awalnya cuman besok, besok, dan besok, tapi saat besok tiba cuman bisa nyesel, "yah.. ". Ngapain baru sekarang gue kerjain? Ngapain baru sekarang nyadar? Dan seabrek pertanyaan lainnya. Dan akhirnya kecewa berat.

Ngomongin taswif, gue juga inget kisah salah satu temen gue, temen seperjuangan di ma'had tahfizhul qur'an Hidup Mulia. Sebelumnya, buat jaga privasi, kehormatan, dan harga diri beliau, tanpa mengurangi kesopanan, gue ga sebutin namanya. _/\_

  Sebut saja dia Tsuru. Tsuru termasuk anak pintar, secara anak hidup mulia gitu*ups. Dulu, sebelum sekolah di ma'had Hidup Mulia, dia juga masuk smp yang tahfizhul qur'an. Kalo ga salah dia uda dapet 6 juz. Buat sekedar info, kalo ma'had gue syarat kenaikan kelas kudu bisa nyelesaiin 10 juz pertahun. Singkat cerita, si Tsuru ini ngremehin, kan gue uda punya celengan 6 juz, nyante aja, setornya bisa nanti-nanti.
  Tanpa terasa, waktu mepet tinggal beberapa bulan dan ternyata ia masih jauh dari target. Akhirnya dia kelabakan. Emang, kalo di ma'had hidup mulia pas mepet-mepet tenggat waktu tahfizh pada kalut, kalang kabut. Pokoknya situasinya chaos gitu lah. Kayak kudeta mursi di Mesir kayak gini. Akhirnya, tenggat pun tiba, dan si Tsuru ini belom sempet nyelesaiin targetnya. Yaudah, mau tak mau ingin tak ingin dia ga naek kelas. Akhirnya, ya nyesel.
  Ada juga temen gue yang lain. Sebutlah ia Niko. Dia juga lumayan pintar. Kalo yang ini rada serius ngejarnya. Tapi petaka tiba waktu tinggal seminggu. Waktu itu dia tinggal kurang beberapa halaman lagi. Dia pikir, halah masih ada waktu kok. Dia juga ikut program jalan-jalan buat anak yang udah selese target, padahal yang belom selese pada mati-matian ngejar. Akhirnya karna ngremehin, dia juga ga naek, padahal KURANG 3 HALAMAN doank. 3 Halaman. Yaudah, akhirnya dia juga nyesel.

Emang kalo ngomong taswif ga ada abisnya. Terlalu banyak contohnya. Bahkan di Al Qur'an juga ada. Kalo mau tahu cari sendiri ayatnya :) biar buka Qur'an. Intinya, gue mau ngingetin aja buat akhi ukhty, om tante dan sodara sodari yang ngaku Islam. Islam nggak ngajarin buat nunda pekerjaan, tapi sebaliknya. Tepat waktu om. Jadi jangan sampai kelak waktu di akhirat, kita termasuk golongan yang berkata "Rabbana amattana itsnataini wa ahyaitana istnataini fa'tarafnaa bidzunuubina" Wal'iyyadzubillah.

Masih mau coba bilang ntaran aja? Siap siap tanggung resiko ;)
Wallahua'lam bishshowab.
Special dedicated for my beloved friends, Tsuru and Niko. Jangan nyerah buat ngapal Al Qur'an. Ganbatte :))

Dragonzakura dan Al Qur'an

13/08/13


" Untuk bisa memasuki universitas, yang kalian butuhkan bukan intelejensi, tapi ketekunan, tehnik, dan strategi yang teliti "
" Apakah kalian tahu cara untuk menjadi kuat? Pertama, kalian harus tahu kelemahan kalian "
" Dalam ujian hanya ada dua hasil, kalian melakukan yang terbaik atau tidak memiliki hasil sama sekali "
" Kemampuan konsentrasi manusia tidak bisa bertahan lebih lama dari 1 jam, jadi benar bahwa istirahat itu penting. Tapi kalau kalian istirahat terlalu lama, kamu akan mendapatkan hasil yang sebaliknya. "

Kata-kata di atas bukan perkataan gue. Otak gue ga secerdas itu. Itu quote yang tadi pagi gue dapetin dari Jdrama berjudul Dragonzakura. Awas, jangan kira itu drama romantisme ga jelas kayak sinetron Indonesia. Jauh... Ohya, sory kalo judulnya terlalu gimana gitu. Bukan maksud  ane buat nyamain drama buatan manusia ama Al Qur'an. Sekali lagi jauh. Pokoknya baca ampe akhir aja. Ntar kalian tahu kok maksud gue :) *nyengir kuda*

Oke, lanjut.
Ceritanya itu quote yang dikeluarin oleh Pak Guru Sakuragi dalam film dragonzakura. Kata-kata super keren yang ia lontarkan buat motivasi anak didiknya. Drama itu bercerita tentang kisah seorang pengacara legendaris bernama Sakuragi, yang awalnya ditugaskan untuk mengurusi penutupan SMA Ryuzan. Sekolah paling juelek lek lek lek*hyperbola. Saking parahnya, kalo lu jadi anak SMA Ryuzan semua orang bakalan menghina, ngejek, ngremehin dan hal-hal buruk lainnya. Istilah kita sekolah buangan.

Akan tetapi, Pak Guru Sakuragi punya sebuah ide yang cemerlang. Kalo menurut gue sih mirip idenya ust Syihabuddin mudir gue. Intinya dia pengen buat sebuah sekolah percontohan, yang bisa menjadi pionir sekolah-sekolah yang lain. Dengan idealisme dan kePDan yang sangat tinggi, Pak Guru Sakuragi pengen masukin anak-anak SMA Ryuzan yang super juelek tersebut ke Universitas Todai, universitas terfavorit di Jepang dengan cara bikin kelas khusus (kalo kita ITB ato Universitas Islam Madinah gitu lah).
Awalnya, ga ada satu siswapun yang minat. Mereka udah pesimis make beud ditambah bingit pula. Ditambah lagi banyak yang meragukan dan bahkan menertawakan kebodohan mereka.Tapi dengan tangan dinginnya, akhirnya ada beberapa anak yang mau mengikuti kelas khusus tersebut. Diantaranya Yusuke yang diperanin Yamapi dan Naomi yang diperanin Nagasawa Masami. Ohya keduanya juga maen di drama Proposal Dasiakusen yang udah lama gue tonton :D . Eh sory ngelantur. Intinya drama tersebut berisi perjuangan mereka buat bisa lulus ujian masuk TODAI. Akankah mereka bisa mewujudkannya? Liat dramanya sendiri ya :p

Setelah liat drama ini, gue coba mengkorelasikan quote-quote yang menurut gue keren, dengan apa yang ada di samping gue. Akhirnya gue dapet. Quote tersebut bisa diimplementasikan*basa gampangnya diterapin* dalam masalah menghafal Al Qur'an. Untuk lebih fokus mari kita bahas satu persatu.

" Untuk bisa memasuki universitas, yang kalian butuhkan bukan intelejensi, tapi ketekunan, tehnik, dan strategi yang teliti "
 Pesan yang disampein oleh Pak Guru Sakuragi di awal cerita, dan hal ini menurut gue berlaku juga dalam menghafal Al Qur'an. Gue coba mengubah dikit quotenya jadi " Untuk bisa hafal Al Qur'an. yang kalian butuhkan bukan intelejensi, tapi ketekunan, tehnik, dan strategi yang teliti ".
beberapa scene DZ
Jadi buat sodara sodari yang pengen hafal Al Qur'an 30 juz, ga perlu punya IQ 200, ga usah. Karena yang terpenting kita tekun buat menghafal, serta tahu tehnik dan strategi buat menghafal. Dan gue baru sadar, kata-kata ini mirip banget ama quote-nya ustad Syihab " Dalam menghafal Al Qur'an, tidak memandang intelektualitas, tapi hati.. ". Beh. 


" Apakah kalian tahu cara untuk menjadi kuat? Pertama, kalian harus tahu kelemahan kalian "
 Kalo yang ini artinya rada jauh. Tapi gapapa rada-rada nyerempet dikit. Intinya kalo pengen mudah hafal Al Qur'an, kita harus tahu potensi yang kita miliki. Jadi kita harus tahu kapan kita bisa mood buat ngapal, terus dimana kita bisa ngapal dengan fokus, ampe cara apa yang menurut kita paling enak. Bisa dipahami *mudabbir mode on :D

 " Dalam ujian hanya ada dua hasil, kalian melakukan yang terbaik atau tidak memiliki hasil sama sekali "
 Sama kayak ngapal Al Qur'an. Dalam perjuangannya hanya ada 2 pilihan. Menyerah dan pada akhirnya ga dapet titel Al Hafizh di akherat, atau berusaha mati-matian hingga akhirnya dengan rahmatNya berhasil memberi mahkota kepada kedua ortu di akherat. Karena semua hal harus ada ujiannya. Berakit rakit ke hulu, lalu berjemur di tepian. Bersusah payah dahulu, lalu tersenyum kemudian. Bukankah Allah udah janji kepada hambaNya buat dimudahkan ngapal Al Qur'an? Pada akhirnya pilihan ada pada kita. Pilih percaya pada janji-Nya dan terus mengusahakan yang terbaik, atau menyerah saat bersua duri pertama.
 
" Kemampuan konsentrasi manusia tidak bisa bertahan lebih lama dari 1 jam, jadi benar bahwa istirahat itu penting. Tapi kalau kalian istirahat terlalu lama, kamu akan mendapatkan hasil yang sebaliknya. "
 Ini yang jadi masalah para calon huffazh. Yang bikin mereka jadi lambat hafalannya, dan pada akhirnya baru nyadar pas udah habis masa yang diberikan mas'ul tahfizh. Kebanyakan kalo udah ngapal 1 jam, langsung pada berhamburan dengan alasan tajawwul *jalan2-pen biar ga bosen. Dan realitas yang ada, istirahat ama ngapalnya lebih lama istirahatnya. bewh --"
PR buat para calon Huffazh dan buat yang tergetuk hatinya buat ngapal Al Qur'an, kalo ngaji lama, jangan lupa istirahat. Tapi istirahatnya jangan keblabasan ya, apalagi keblabasan ke warung depan atau bahkan keblabasan ngobrol ama akhwat sebelah rumah dengan penuh kesadaran. Iyuh...

Well, mungkin tadi beberapa quote dari drama Dragonzakura yang bisa gue korelasikan dengan Al Qur'an. Aslinya masih banyak sih quotenya, tapi gue males bahas semuanya. Mungkin lain kali gue bahas pesan drama itu lainnya. Kalo emang penasaran bingit, mending kalian lihat dramanya sendiri terus cari pesan-pesannya. Baka!!! :)
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS